News

Kamus Bahasa Simalungun Bakal Direvisi

SIMALUNGUN, FaseBerita.ID – Balai Bahasa Sumatera Utara Badan Pengembangan Bahasa dan Pembukuan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, menggelar Diseminasi Kamus Bahasa Daerah di Pematang Raya, Kamis (18/7/2019).

Plt Kepala Balai Bahasa Sumatera Utara Muhammad Muis mengatakan, Negara Indonesia memiliki 668 bahasa. Di dunia ini bahasa yang paling banyak ditemukan di Papua Nugini yakni sebanyak 824 bahasa. Sementara di dunia ini ada sekitar 6.000 bahasa.

Tujuan rapat tersebut untuk menyampaikan gagasan, ide tentang perkamusan secara umum dan secara khusus untuk penyusunan kamus Bahasa Simalungun, yang sebetulnya dari tahun 2014 sudah dirintis oleh Balai Bahasa Medan. Sehingga terbitlah kamus Bahasa Simalungun.

“Ada rencana kami ingin merevisi kamus itu untuk memperbaiki kamus termasuk penambahan kosakata. Yaitu kata-kata, istilah, pribahasa atau idium dalam Bahasa Simalungun yang bisa memperkaya kamus untuk pengembangan kamus yang sudah dibuat,” sebutnya.

Tetapi dalam konteks yang lebih luas, pihaknya meminta masukan dari tokoh, guru, akademisi, seniman, budayawan untuk memberikan masukan siapa tahu ada bentuk-bentuk kata, istilah, pribahasa, idium yang bisa ikut memperkaya kamus besar Bahasa Indonesia yang diterbitkan oleh Badan Pengembangan Bahasa dan Pembukuan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Dia berharap, ke depan kamus besar Bahasa Indonesia kosa katanya semakin bertambah. Terutama masukan bahasa daerah khususnya Bahasa Simalungun.

“Sebetulnya sudah kita buat kamus Bahasa Simalungun mulai tahun 2014 dan terbit tahun 2016 berisi 12 ribu kosakata. Tetapi kami masih merencanakan kalau memungkinkan kamus yang sudah ini kita revisi lagi. Salahsatunya menjaring data melalui kegiatan ini. Masukan itu sangat besar untuk merevisi kamus ke depan,” pungkasnya.

Kadis Pendidikan Simalungun Elfiani Sitepu menekankan kepada peserta agar Bahasa Simalungun dikembangkan juga di sekolah-sekolah.

“Ini demi bahasa daerah kita. Makanya guru-guru harus bisa mengembangkan bahasa daerah di sekolah-sekolah. Sepulangnya dari sini, kalau ada bahasa Simalungun yang memang sudah mau hilang, tolong dicarikan lagi dan dilestarikan. Sehingga bahasa Simalungun bisa menjadi penunjang Bahasa Indonesia dan tidak hilang dimakan waktu,” ungkapnya.

Kepada peserta, Kadisdik menegaskan supaya memberikan masukan dan perhatian kepada bahasa daerah untuk dibakukan menjadi bahasa Indonesia supaya tidak hilang.

“Termasuk bahasa Indonesia yang dipakai sehari-hari. Saya mau bahasa Simalungun adalah bahasa pendukungnya. Bila perlu bahasa Simalungun dibakukan menjadi bahasa Indonesia supaya tidak hilang. Artinya kalau tidak kita, siapa lagi? Maulah hilang ini. Sekarang banyak bahasa Simalungun yang sudah tidak kita mengerti,” imbuhnya.

Kadisdik menceritakan pada tahun 2014 sudah pernah dilaksanakan kegiatan yang sama di Medan. Tetapi ia melihat tidak berkembang.

“Saya berharap kegiatan ini tidak secara seremonial saja. Tetapi ada sesuatu yang bisa dihasilkan. Untuk itu ikutilah kegiatan ini dengan tulus dari hati,” pungkasnya. (mag05/des)