News

Kaldera Toba Diterima Masuk UGG Dipublikasikan April 2020 di Paris

SAMOSIR, FaseBerita.ID – Diusulkan sejak tahun 2011, akhirnya Geopark Kaldera Toba disetujui masuk UNESCO Global Geopark (UGG). Persetujuan terungkap dalam acara The 6th Asia Pacific Geopark Network (APGN) Symposium yang dihelat di Rinjani Lombok UNESCO Global Geopark, Minggu (1/9/2019) pagi.

Informasinya, keanggotaan Geopark Kaldera Toba sebagai anggota UGG akan diumumkan di Paris, April 2020 mendatang. Rapat The 6th APGN Symposium tahun 2019 diikuti 614 peserta dari 30 negara, dilaksanakan selama 7 hari dari tanggal 31 Agustus 2019 hingga 6 September 2019. Rapat ini merupakan agenda pertemuan rutin 2 tahunan jaringan geopark se-Asia Pasific.

Informasi diperoleh, Badan Eksekutif UNESCO menetapkan Geopark Kaldera Toba masuk dalam UGG baru di tahun 2019, namun baru akan dipublikasikan pada April 2020 mendatang.

“Benar bahwa Geopark Kaldera Toba telah sah ditetapkan pagi ini oleh Badan Eksekutif UNESCO menjadi UGG dan dipublish pada April 2020.

Biarlah UNESCO sendiri dan pihak kementerian yang rilis langsung ya,” ujar seorang narasumber, seperti dikutip dari situs greenberita.com pada Minggu, (1/9/2019).

Informasi ini juga diperkuat dari whatsap grup Jaringan Geopark Indonesia. Di Medan, sejumlah akun facebook awak media dan aktivis telah mengucapkan selamat atas disetujuinya Geopark Kaldera Toba masuk UGG.

Daerah Rinjani Lombok UNESCO Global Geopark adalah tuan rumah simposium yang ke-6 setelah sebelumnya dilaksanakan secara bergiliran setiap 2 tahun di geopark yang telah menyandang status Global Geopark UNESCO.

Tema The 6th APGN Simposium Tahun 2019 ini adalah UNESCO Global Geoparks Toward Sustaining Local Communities and Reducing Geohazard Risk, yang menonjolkan kelestarian situs-situs geologi, biologi dan budaya, penguatan peran komunitas lokal dan pengurangan risiko bencana.

Beberapa waktu yang lalu, pihak management Geopark Kaldera Toba (GKT) juga menyatakan rasa optimisnya bahwa Geopark Kaldera Toba hanya tinggal menunggu waktu masuk dalam UNESCO Global Geopark.

“Terkait Geopark Kaldera Toba, kita masih menunggu keputusan dari UNESCO terkait masuk tidaknya kita dikeanggotaan UGG yang diumumkan September 2019 ini. Kita optimis bisa lolos masuk UGG,” ujar General Manger (GM) Badan Pengelola Kaldera Toba, DR Hidayati ketika dikonfirmasi beberapa waktu lalu.

Menurutnya, optimisme Badan Pengelola Kaldera Toba timbul karena mengacu pada telah dipenuhinya semua rekomendasi yang minta UNESCO mulai dari geoarea, geosite, website, tanda gerbang masuk, peta sederhana dan visibility tentang identitas (brand) GKT, serta masterplan GKT itu sendiri.

Kaldera Danau Toba memiliki panorama yang indah. Pulau vulkanik yang berada di tengah Danau Toba ini terbentuk dari letusan dahsyat gunung api di Sumatera Utara sekitar 74.000 tahun silam. Letusan Gunung Api Toba purba itu menyisakan lekukan cukup dalam di dasar kaldera, yang kemudian terisi air dengan kedalaman hingga mencapai sekitar 550 meter dan luas 1.130 kilometer persegi. Bentukan ini yang akhirnya dikenal sebagai Danau Toba.

Pasca-pembentukan kaldera, peristiwa geologi itu menciptakan bentukan lain, yakni Pulau Samosir. Ini terjadi akibat pengangkatan sebagian besar danau ke permukaan. Karena sejarah dan karakter geologisnya yang istimewa ini, pada Januari 2018, kawasan Danau Toba diresmikan sebagai Geopark Nasional Kaldera Toba.

Dengan dijadikannya Geopark Kaldera Toba sebagai bagian dari Unesco Global Geopark, diharapkan Danau Toba akan terpromosi dengan sendirinya ke negara-negara anggota PBB

Kadispar Sumut: Peluang Besar

Kabar tentang disetujuinya Geopark Kaldera Toba menjadi anggota UGG, dibenarkan oleh Kepala Dinas Pariwisata (Kadispar) Sumut, Ria Novida Telaumbanua. Menurut Ria, persetujuan melalui Council Meeting UNESCO Global Geoprak yang digelar pada acara Asia Pacific Geopark Network di Gili Trawangan Lombok.

“Iya (betul). Danau Toba masuk dalam bagian UNESCO Global Geopark. Itu kumpulan negara-negara yang mempunyai Geopark,” tutur Ria yang baru beberapa minggu diangkat sebagai Kadispar Sumut, Minggu (1/9) petang.

Ria menjelaskan, keberhasilan itu merupakan kerja keras Tim Geopark Kaldera Toba yang melengkapi syarat-syarat memasuki anggota UGG. Tim Global Geopark sudah bekerja keras.

“Tinggal selangkah lagi Kaldera Toba mendapatkan pengakuan dari UGG, yang akan diumumkan April 2020 mendatang,” jelas Ria.

Ia mengungkapkan, dengan bergabungnya Danau Toba sebagai anggota UGG, akan memberikan peluang besar untuk perkembangan Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN) Danau Toba menjadi objek wisata kelas dunia. Kini, Danau Toba memiliki poin khusus untuk dipromosikan dan dipasarkan secara internasional, untuk menarik kunjungan wisman dengan jumlah besar.

“Ya sangat bagus. Kita lebih gampang mempromosikan Danau Toba. Status Danau Toba sudah terangkat. Pastinya, memberikan kemudahan. Nanti seluruh member UNESCO Geopark akan sama-sama memberikan perhatian kepada Danau Toba. Jadi bukan kita saja,” kata Ria.

Kaldera Toba sebagai anggota UGG juga memotivasi Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sumut untuk terus melakukan upaya pembangunan dan pengembangan objek wisata bersama seluruh pihak terkait.

“Setelah mendapatkan pengakuan keanggotaan UNESCO Global Geopark, pastinya ada tugas-tugas lain yang tidak ringan. Kalau sudah dapat, bukan berleha-leha,” pungkasnya.

Dewan: Penting Tapi Belum Cukup

Menanggapi kabar disetujuinya Geopark Kaldera Toba masuk UGG, anggota Komisi B DPRD Sumut, Richard Pandapotan Sidabutar SE, mengatakan telah memperkirakan GKT akan lulus masuk UGG. Ia pun mengapresiasi kinerja pemerintah pusat maupun pemerintah provinsi.

“Saya belum tahu pasti apakah kabar ini benar atau tidak. Tapi kalau benar, tentu ini adalah hal yang sangat baik dan menggembirakan,” ucap Richard, Minggu (1/9/2019).

Disebut Richard, Geopark Kaldera Toba berada di bawah naungan Pemerintah Provinsi Sumut. Selama ini Pemprovsu sudah memperjuangkan GKT masuk keanggotaan UGG, yang akan memudahkan Danau Toba sebagai destinasi pariwisata kelas dunia.

“Namun sertifikat UGG tidak serta merta meningkatkan pariwisata Danau Toba. Pemerintah tetap harus bekerja keras menjalankan Perpres nomor 9 tahun 2019 tentang pengembangan taman bumi. Pemprovsu harus mampu menjadikan Danau Toba sebagai salah satu taman bumi terbaik di dunia, dan mengembangkan serta menjaga kelestariannya dari waktu ke waktu,” ujarnya.

Pemprov Sumut, kata dia, harus melakukan evaluasi struktur pariwisata dan membuat rencana-rencana matang untuk membangun sarana dan prasarana di kawasan tersebut, agar layak disebut sebagai destinasi wisata kelas dunia.

“Jangan ada pembangunan yang tidak tepat sasaran atau salah peruntukan,” tuturnya.

Yang terpenting, GKT masuk UGG harus berdampak pada pertumbuhan ekonomi masyarakat di sekitar Danau Toba.

Sebelumnya, Menteri Pariwsata (Menpar) Arief Yahya menekankan pentingnya Danau Toba mendapat predikat dari UNESCO sebagai Global Geopark. Hal itu ia ungkapkan saat meresmikan The Kaldera Toba Nomadic Escape di Sibisa, Kecamatan Ajibata, Kabupaten Toba Samosir, Sumatera Utara, beberapa waktu lalu.

Menpar mengatakan, untuk mem-branding Danau Toba menjadi kelas dunia harus ada beberapa hal yang diperhatikan. Salah satunya menjadikan Danau Toba sebagai bagian dari UNESCO Global Geopark (UGG).

“UNESCO Global Geopark (UGG) Danau Toba sudah dilakukan assessment dan akan diumumkan April 2019. Setelah meraih predikat internasional, tentu akan mudah menjual danau vulkanik ini ke dunia,” kata Menpar.

Apalagi akses Bandara Silangit yang sudah menjadi bandara Internasional akan mempermudah destinasi di kawasan Danau Toba untuk semakin berkembang.

“Lokasi Danau Toba ini mudah dipasarkan karena berdekatan dengan negara tetangga. Terbaru telah beroperasi penerbangan internasional ke Kuala Lumpur dengan AirAsia, 4 kali dalam sepekan,” kata Arief.

Terlebih kini juga dikembangkan atraksi baru di Danau Toba yakni The Kaldera Toba Nomadic Escape sebagai salah satu amenitas dan daya tarik baru yang ada di sekitar danau vulkanik tersebut dalam bentuk akomodasi nomadik.

Selain memiliki atraksi dan amenitas penunjang pariwisata di Danau Toba, The Kaldera memiliki keunggulan lain yang berkelas dunia sehingga bisa dinikmati bagi wisatawan baik nusantara atau mancanegara yang datang. Fasilitas yang ada di The Kaldera adalah amenitas berupa 15 Bell Tent, 2 Cabin, 2 Tenda Bubble, dan area parkir untuk Campervan/Caravan. Fasilitas lain yang ada di The Kaldera adalah Kaldera Ampiteathre, dengan kapasitas 250 orang, Kaldera Plaza, Kaldera Stage, hingga Kaldera Hill.

“Kita harus memikirkan konsep khusus untuk Danau Toba. Bila di Nusa Dua itu berkonsep MICE, Mandalika lebih sport tourism kelas dunia. Bila di Toba amenitas dan atraksi harus kelas dunia,” kata Menpar.

Sementara itu, Kepala Badan Pengelola Otorita Danau Toba (BPODT) Arie Prasetyo mengatakan, persiapan untuk memperkenalkan The Kaldera kepada publik dilakukan hanya dalam dua bulan.

“Semua dikerjakan dengan tanpa henti. Karena memang kami ingin mendapatkan hasil maksimal dari The Kaldera ini. Kami juga melibatkan masyarakat setempat agar sama-sama merasakan hasilnya,” ujarnya.

Arie menambahkan, keunggulan lain The Kaldera adalah posisinya yang berada di atas ketinggian yakni sekitar 1390 mdpl. Dengan posisinya, yang ditawarkan The Kaldera adalah view Danau Toba yang sangat eksotis.

“Konsep seperti ini mungkin sudah ada di tempat lain di Danau Toba. Tapi kita jelas memberikan sesuatu yang berbeda. Pertama, The Kaldera ini menggabungkan atraksi dan amenitas. Nantinya, kita akan membuat konsep agar ada atraksi yang ditampilkan di Amphitheatre setiap minggunya,” papar Arie.

Sebelumnya, Indonesia telah sukses mencatatkan dua geopark di dalam daftar UGG, yakni Rinjani Lombok di Nusa Tenggara Barat (NTB) dan Ciletuh Sukabumi di Jawa Barat. Bersama Geopark Kaldera Danau Toba, pemerintah juga mendaftarkan Geopark Belitung, masuk dalam UGG.

Dengan masuknya geopark di Indonesia dalam daftar UGG, berarti meningkatkan promosi destinasi wisata bahkan hingga ke level dunia. Dampaknya, selain dapat mendongkrak jumlah wisatawan asing atau turis, juga mendorong peningkatan pendapatan masyarakat sekitar obyek wisata serta pemerintah asli daerah dan pendapatan negara. (gus/map/bbs)