News

Jenazah Bayi 7 Bulan Dinyatakan Reaktif Dijemput Paksa Orangtuanya

FaseBerita.ID – Mahyudi (28) dan istrinya Erawati (25) warga Jalan Budi Utomo, Kelurahan Siumbut-umbut, Kecamatan Kisaran Timur, Kabupaten Asahan pada Selasa (20/10) kemarin, nekat membawa jasad YS (7 bulan) yang telah meninggal sejak pukul 05.30 WIB pagi tadi dari RSUD H Abdul Manan Simatupang (HAMS) Kisaran.

Alasan kedua orang tua YS melakukan hal itu, lantaran usai dinyatakan meninggal dunia, sang anak disebut tidak kunjung mendapat penanganan dari pihak rumah sakit. Bahkan terkesan ditelantarkan hingga berjam-jam lamanya.
Paman YS, Hermansyah Manurung menyebutkan, pihak keluarga mengaku kecewa dengan pelayanan RSUD HAMS Kisaran yang terkesan lambat mengurusi jenazah keponakannya tersebut agar dapat dibawa pulang oleh untuk selanjutnya dilakukan pemakaman.

“Setelah meninggal, aku ke situ jam 8. Mau dibawa pulang nggak bisa, mayatnya nggak dikasih. Pihak yang mau bawa. Katanya harus koordinasi dengan dokter pelayanan. Dokter pelayanan aku hubungi nggak bisa. Satu jam kemudian baru datang,” ungkap Hermansyah.

Di samping itu, ia pun menilai bahwa pihak RSUD HAMS Kisaran terkesan memaksakan keponakannya yang sempat menjalani perawatan, akhirnya dinyatakan reaktif covid-19.

Menurut Hermansyah, sebelum dinyatakan reaktif, keponakannya hanya menderita demam dan mencret.

Sepengetahuan dirinya, tim medis pun hanya sekali melakukan rapid test terhadap YS tanpa adanya uji swab.

“Lagian setiap orang sakit, pasti reaktif, karena anti bodi di darah itu, kalau dilakukan rapid test. Saya tanya udah berapa kali rapid test, tak bisa dijelaskan pihak rumah sakit umum,” jelasnya.

Akibat tanpa adanya kejelasan dari pihak rumah sakit umum, akhirnya sekitar pukul 11.00 WIB keluarga membawa paksa jasad YS untuk selanjutnya dimakamkan.

“Akhirnya, karena bertele-tele, tadi dibawa pulang,” ucapnya.

Terpisah, sang ayah, Mahyudi menceritakan awal anaknya bisa masuk RSUD HAMS hingga akhirnya meninggal dunia. Berawal ketika anaknya jatuh dari tempat tidur pada tiga hari lalu dan kemudian mengalami demam.

“Awalnya tiga hari lalu kan jatuh dari tempat tidur, malamnya dikusuk, besoknya demam. Baru dibawa ke bidan, cuma disuruh bawa ke Klinik Air Joman, dari Air Joman diminta bawa ke Permata Hati (Rumah Sakit), hasil rapid test dari situ. Disuruh aku ambil hasil rapid testnya di sini jam 2 malam. Katanya reaktif,” ungkap Mahyudi.

“Di rumah sakit umum mau dites lagi. Udah berapa kali mau diambil darahnya, nggak bisa-bisa,” tambah Mahyudi.

Menanggapi hal itu, Kepala Bidang (Kabid) Pelayanan RSUD H Abdul Manan Simatupang Kisaran, Lobianna Nadeak mengatakan, lamanya penanganan terhadap jenazah YS lantaran timbul perdebatan keluarga yang mempersoalkan status reaktif covid-19.

“Kalau dokter menyatakan itu covid, kami dari manajemen, ya sudah berarti dia diisolasi, dia meninggal, kami lakukan penanganan sesuai standar protokol kesehatan. Dan sudah kami laporkan ke Gugus Tugas,” kata Lobianna.

Ia pun mengaku tak bisa berbuat banyak, ketika keluarga akhirnya membawa paksa jasad YS dari rumah sakit, meski seharusnya penanganan terhadap jenazah tersebut harus sesuai protokol kesehatan.

Dan menurut Lobianna, peristiwa ini bukan yang pertama kali terjadi di RSUD HAMS Kisaran.

“Itu sudah di luar kuasa kami. Kami sudah lapor ke Gugus Tugas. Gugus Tugas itu sebenarnya yang lapor ke camat dan kelurahan. Camat itu yang panggil polisi setempat, dilapor. Kami kan hanya jalankan prosedur, perkara dia mau memaksakan itu, kami bukan mau berkelahi di rumah sakit, kan kami punya prosedur, kami punya aturan yang dijalankan. Kalau dia memaksa, itu hak dia,” jelasnya.

Terkait adanya penolakkan keluarga atas status covid-19 terhadap YS, Lobianna menegaskan bahwa hal tersebut merupakan wewenang dokter yang menangani langsung pasien, yakni dr Alfian SpA.

“Yang menyatakan dia covid itu dokter DPJP, dokter penanggung jawab, bukan manajemen. Dan itu hak dia sebagai dokter, bukan saya yang tentukan. Kalau saya aparatur pemerintah, pihak manajemen rumah sakit umum, kami hanya menjalankan prosedur,” tegasnya.

“Dokter itu punya kolegium, pasti ada kriteria dia untuk tentukan covid atau tidak,” tambah Lobianna. (bay)