News

Jembatan Rambin di Desa Tebing Linggahara Putus, 2 Anak Terluka

Proyek Pengerjaan Rambin Tanpa Plang

FaseBerita.ID – Proyek pembangunan konstruksi jembatan rambin (jembatan gantung) di Desa Tebing Linggahara, Kecamatan Rantau Selatan, Kabupaten Labuhanbatu, terkesan misterius.

Pasalnya, berdasarkan pantauan wartawan, Kamis (8/8/2019), di sekitar lokasi pekerjaan pembangunan jembatan tersebut tidak terlihat plank proyek terpampang. Sehingga, tak diketahui rekanan pengerja konstruksi dan besaran alokasi anggaran yang ada.

“Tak ada terlihat plank proyeknya,” ungkap salah seorang anggota DPRD Labuhanbatu Abdul Karim Hasibuan, Kamis (8/8), ketika meninjau lokasi.

Menurutnya, sejumlah kejanggalan tampak di lokasi. Misalnya, ungkap Karim, longgarnya sejumlah baut pengikat kabel. Kemudian, kata dia, indikasi kerjaan kurang profesional.

“Tak tahu kita berapa pagunya, dan siapa yg mengerjakan. Tapi dari cara kerjanya saya lihat asal-asalan,” jelasnya.

Abdul Karim juga mengaku heran. Sesuai informasi yang diperoleh, proyek ini milik Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumatera Utara.

“Tapi ini program BPBD Provinsi. Makanya saya juga heran, kok kontruksi yang mengawasi BPBD,” bebernya.
Senada, Kepala Desa Tebing Liggahara Solehuddin Ritonga kepada sejumlah wartawan mengatakan hal yang sama. Dia menjelaskan, jika proyek tersebut milik BPBD Sumut.

“Infonya seperti itu. Tapi coba konfirmasi ke BPBD Labuhanbatu,” sarannya.

Kabel sling baja pembangunan konstruksi jembatan rambin (jembatan gantung) di Desa Tebing Linggahara, putus pada Rabu (7/8/2019). Akibatnya, sejumlah warga terpaksa dilarikan ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Rantauprapat.

Informasi diperoleh, jembatan rambin baru di atas arus Sungai Bilah ini dalam tahap pengerjaan pembuatan konstruksinya. Setelah jembatan rambin terdahulu putus disapu air, Jumat (14/12/2018) lalu sekira pukul 09.00 WIB.
Sebanyak delapan orang anak warga setempat yang saat peristiwa terjadi sedang melintas di atas jembatan itu, juga ikut terempas ke sungai.

Akibatnya, dua anak mengalami luka serius. Bahkan, seorang di antaranya mengalami patah tulang tangan.
Dan, kabel yang terputus tersebut juga mengenai dua pekerja pembangunan konstruksi jembatan yang telah dikerjakan lebih dua bulan terakhir.

Kedua pekerja konstruksi jembatan itu sudah kembali bekerja. Bahkan, korban Tumin alias Aman dan Selamat, keduanya warga Desa Aek Buru, Kecamatan NA IX-X, Labura sudah beraktivitas di lokasi. Hanya saja, keduanya tampak masih lemas. Aman terlihat pincang saat berjalan dan Selamat mengalami kondisi bengkak di bahu kanan.
“Kami cuma kusuk (pijat) di tukang urut,” papar Selamat.

Informasi di lokasi, penyebab rubuhnya jembatan diduga karena span drat atau contreks pengikat kabel sling patah. Akibatnya, jembatan sepanjang sekira 100-an meter terempas ke permukaan air. Diduga, span drat tersebut tidak sesuai standart. Sebab, tak terlihat tulisan Standar Nasional Indonesia (SNI) di fisik span drat itu.

Di lokasi, tampak puluhan pekerja melakukan pembenahan sisa runtuhnya jembatan itu. Salah seorang pekerja di sana mengaku, jika konstruksi jembatan yang seharusnya rampung sepekan mendatang harus dibongkar ulang.(bud/ahu)

USI