News

Jelang Lebaran, Harga Karet Cenderung Turun

TAPTENG, FaseBerita.ID- Jelang Hari Raya Idul Fitri 1442 H, harga karet alam di Kecamatan Pinangsori, Kabupaten Tapanuli Tengah (Tapteng), bertahan di kisaran Rp11.000 hingga Rp11.500 per kg. Harga yang tak kunjung menaik, malah cenderung menurun itu, membuat sejumlah petani karet mengeluh. Kenaikan harga yang diharapkan menuju harga normal sekitar Rp15 ribu per kg, tak kunjung terwujudkan. Sementara harga kebutuhan pokok sehari-hari mulai merambat naik.

Darto (45), warga Kecamatan Pinangsori, mengaku kelimpungan. Petani karet yang berpenghasilan 40 kg per minggu ini tidak bisa berbuat banyak dengan harga karet yang masih berada pada level rendah itu. Ia hanya bisa pasrah, walau tidak mendapatkan harga yang remuneratif.

“Kita bingung tak bisa berbuat apa-apa. Untuk menutupi kebutuhan rumah tangga saja kurang, belum lagi kebutuhan menjelang Lebaran dan kebutuhan lainnya,” keluh Darto, usai menjual getah hasil deresannya di pekan Pinangsori, Sabtu (24/4).

Ia berharap, pemerintah dapat memperhatikan keberlangsungan hidup petani karet untuk menyesuaikan harga karet dengan harga kebutuhan rumah tangga lainnya. Ia meyakini, jika harga karet bisa mencapai harga normal, petani akan bisa hidup dengan tenang dan tidak terlilit utang di sana-sini, akibat menutupi kebutuhan hidup sehari-hari.

“Harapan kita adalah penyesuaian harga, agar para petani karet bisa nyaman,” ujarnya.
Ketidakstabilan harga karet alam di pekan Pinangsori, di akui beberapa agen pada tingkat pengumpul. Harga yang ditawarkan kepada para petani karet antara Rp11 ribu hingga Rp11.500 per kg, tergantung kondisi kebersihan dan Kadar Karet Kering (KKK) diatas 70 persen. Selain itu, nilai tukar rupiah terhadap dollar menjadi faktor lain yang mempengaruhi stabilitas harga karet.

“Beberapa waktu lalu sempat mencapai Rp12.500 per kg. Kalau saat ini harga paling tinggi Rp11.500. Itu juga sesuai kesepakatan kita dengan petani,” ujar Pasaribu, salah seorang toke getah di tingkat pengumpul.

Pasaribu juga tidak menampik jika naik turunnya harga karet dipicu oleh permainan spekulan di pasar global. Dugaan itu didasarkan pada pola perdagangan yang terjadi. Pergerakan harga karet yang tidak didasari pada persedian dan permintaan, membuat banyak spekulan yang memainkan informasi. “Faktor cuaca dan permainan spekulan juga mempengaruhi,” tukasnya. (ztm/fabe)