News

Jasad Siswi SMK Diotopsi di RSUD Djasamen: Ada Juga Memar di Tubuh Korban

SIANTAR, FaseBerita.ID – Kepala Instalasi dan Kedokteran Forensik RSUD Djasamen Saragih Pematangsiantar, dr Reinhard JD Hutahaean mengatakan pihaknya menemukan luka memar dan lecet pada jenazah siswi SMK Karya Tarutung Kristina br Gultom saat melakukan otopsi. Ia juga memastikan mekanisme kematian korban akibat mati lemas.

“Ada beberapa memar yang ditemukan di tubuh korban. Seperti memar di bagian bibir, lecet di dada dan luka gores di perut,” ujar Reinhard.

Dia menambahkan, luka-luka itu mayoritas disebabkan oleh kekerasan tumpul. “Kalau mekanisme kematiannya akibat mati lemas. Sedangkan luka-luka itu karena kekerasan tumpul,” sebutnya.

Namun begitu Reinhard enggan membeberkan soal ada tidaknya dugaan kekerasan seksual yang dialami korban.

“Kalau tanda-tanda yang mengarah ke sana belum bisa kita pastikan. Sebab itu harus menunggu hasil pemeriksaan laboratorium,” ujarnya.

Meski begitu, Reinhard menyebutkan bahwa korban diperkirakan meninggal dunia sekira pukul 19.00 WIB pada Minggu (4/8/2019) lalu.

Sebelumnya jenazah Kristina boru Gultom (20) warga Panggun, Desa Hutapea Banurean, Kecamatan Tarutung Tapanuli Utara, ini tiba di Instalasi dan Kedokteran Forensik RSUD dr Djasamen Saragih Pematangsiantar sekira pukul 23.45 WIB pada Senin (5/8/2019).

Cewek manis ini sendiri ditemukan tak bernyawa tanpa mengenakan busana di kebun cengkeh yang berjarak 200 meter dari kediamannya. Korban dinyatakan hilang dari rumahnya sejak Minggu (4/8/2019) sekira pukul 15.00 WIB.

Sardin Gultum (47) ayah korban yang diwawancarai wartawan, Selasa(6/8) sekira pukul 02.00 WIB mengatakan awalnya Kristina pamit pergi ke Pasar Tarutung pada Minggu (4/8/2019) sekira pukul 15.00 WIB. Saat itu korban sendirian dan berjalan kaki dari rumah.

Hingga pada malam hari, putri sulung dari tiga bersaudara itu tak juga kunjung pulang. Sementara itu Sardin Gultom yang sedang sakit tak bisa mencari keberadaan putrinya. Namun usahanya menghubungi sang putri melalui HP tak kunjung berbalas. “Nomor HP-nya tak bisa terhubung,” ungkap ayah gadis itu dengan mata berkaca-kaca.

Sekira pukul 07.00 WIB, salah seorang warga bernama Hotma Tua Hutapea datang ke rumah korban dan mengajak Sardin untuk mencari keberadaan Kristina “Ayolah kita cari keberadaan putrimu itu,” jelas Sardin Gultom menirukan percakapan keduanya.

Mendapati ajakan itu, Sardin pun beranjak dari rumah. Ia juga sempat memanggil beberapa warga lain untuk ikut melakukan pencarian.

Setelah beberapa lama melakukan pencarian, jasad Kristina akhirnya ditemukan di kebun cengkeh yang berjarak 200 meter dari kediaman mereka.

Begitu mendapati jenazah putrinya, Sardin dan warga lain langsung melaporkan kejadian ke kepala desa yang diteruskan ke personel kepolisian. Tak lama, Unit Identifikasi INAFIS dan Reserse Kriminal Polres Taput langsung bergerak ke tempat kejadian perkara (TKP) dan melakukan olah TKP. Dari sana, polisi mengamankan beberapa barang bukti dan mengevakuasi korban menuju Rumah Sakit Umum Tarutung, selanjutnya dievakuasi ke RSUD dr Djasamen Saragih Pematangsiantar.

Menurut Sardin, pihaknya mencurigai seorang warga berinisial RH (40) yang terlibat dengan kematian Kristina. Kecurigaan itu bukan tanpa alasan, sebab RH dilihat warga berboncengan terakhir kali dengan korban. “Kalau rumah kami dan RH tidak berjauhan, lumayan dekatlah,” jelasnya.

“Kami sekeluarga berharap semoga polisi dapat menangkap pelakunya dan memberikan hukuman seberat-beratnya, karena putri saya ini masih sekolah, kami gak ikhlas atas kepergiannya dengan cara seperti ini,” ujarnya.

Ia pun sempat bercerita perihal kehidupan sehari-hari Kristina. “Dia itu orangnya pendiam, gak pernah melawan sama saya dan ibunya. Dia itu juga punya cita-cita yang tinggi, pernah dia bilang sama saya dan ibunya, dia mau jadi polwan atau dokter. Makanya sedih sekali aku melihat anakku itu,” ungkapnya.

“Setiap pulang dari PKL, biasanya dia (korban, red) selalu pulang ke rumah. Kristina ini baik orangnya dan berparas manis. Sepulang sekolah selalu membantu orangtua, membantu menanam kacang di ladang,” tukasnya.

Tangis Ibu Buat Kristina

Selasa (6/8/2019) sekira pukul 07.00 WIB, jenazah Kristina br Gultom disambut isak tangis keluarga dan tetangga di rumah duka di Dusun Pangguan, Tarutung.

Jenazah Kristina Gultom sempat dilakukan otopsi di RSU Djasamen Saragih Siantar selanjutnya dibawa ke rumah duka di Dusun Pangguan Kecamatan Tarutung.

Retna br Sianturi, ibu korban kembali histeris saat menyambut jenazah putrinya.

“Tikki mangolu didokkon ho au umakmu, molo tamat ho Boru didokkon ho do ikkon berangkat tu Jakarta mangalului karejo. Hape gagal ma angan-angan mi boru (Semasih hidup engkau bilang sama ibu jika lulus kau putriku harus berangkat ke Jakarta mencari kerja, ternyata gagal cita-cita mu putriku),” ucap Retna br Sianturi didampingi suaminya Sardin Gultom sembari meneteskan air mata berulang-ulang di depan Jenajah putrinya.

“Kenapalah harus mati engkau di kebun itu. Lihatlah mukamu sudah rusak dipukuli, tengoklah Tulang-mu dan Nantulangmu, sudah datang dari Jakarta melihatmu bersama abangmu.”

“Tidak ada lagi temanku di rumah untuk bercakap-cakap setiap hari denganmu Kristina, kalau adikmu ini sakit karena lumpuh,” katanya lagi sambil menangis.

Sementara itu pemakaman Kristina br Gultom dilaksanakan hari Selasa (6/8/2019) pada pukul 17.00 WIB di Hutapea.

Pantauan wartawan, masyarakat serta teman-teman dari sekolah korban, termasuk para pegawai Dispora Taput ikut berdatangan ke rumah duka untuk menyalami keluarga dan memberikan penghiburan serta doa.

Polisi: Tunggu Hasil Otopsi

Sementara Kepolisian Polres Tapanuli Utara (Taput) masih terus melakukan pemeriksaan terhadap RH yang menurut keterangan saksi berboncengan dengan korban terakhir kali.

Kapolres Taput AKBP Horas Marasi Silaen melalui Kasubbag Humas Aiptu Sutomo Simaremare menerangkan, RH masih menjalani pemeriksaan. PIhaknya juga masih terus mengumpulkan barang bukti serta menunggu hasil otopsi dari RSUD dr Djasamen Saragih.

“RH masih kita amankan. Soal adanya luka memar atau luka benturan di tubuh korban, masih menunggu hasil otopsi,” jelasnya di Kantor Mapolres Taput, Selasa (6/8/2019).

Sutomo mengimbau agar masyarakat tetap berkoordinasi dengan personel Polres Taput ataupun saksi-saksi lainnya untuk bekerjasama mendapatkan pekembangan terbaru.

“Masih banyak langkah-langkah yang kita perbuat untuk memutuskan siapa tersangka, saksi ahli nanti lebih mengetahui hal tersebut, selain kita menunggu hasil otopsi,” tegasnya. (mag03/hez/as)