News

Ini Politisi Populer yang Diprediksi Gagal Duduk di Parlemen

TAPTENG, FaseBerita.ID – Pemilu 17 April lalu tidak hanya memilih pasangan calon Presiden dan Wakil Presiden saja, namun juga memilih calon anggota legislatif yang akan mewakili rakyat di DPR RI, DPRD Provinsi dan DRPD Kabupaten/Kota. Sebanyak 16 partai politik peserta pemilu 2019 bersaing memperebutkan suara untuk duduk di kursi parlemen.

Berkaca dari hasil rapat pleno terbuka rekapitulasi penghitungan perolehan suara Pemilu 2019 tingkat Kabupaten Tapanuli Tengah (Tapteng), yang dilaksanakan di GOR Pandan, 30 April – 4 Mei 2019, beberapa politisi senior diprediksi gagal meraih kursi di DPRD Tapteng. Mereka kalah bersaing dengan para pendatang baru yang ilmu poliiknya masih seumur jagung.

Padahal sebelumnya, sudah ada dugaan mayoritas anggota DPRD Tapteng periode 2020 -2025 pastilah wajah-wajah lama, terutama mereka yang menjadi caleg-caleg dari partai Hanura, PDIP, Golkar, Demokrat, Gerindra, NasDem dan lainnya. Wajah lama politisi senior dipastikan akan hadir di Gedung DPRD Tapteng, karena mereka sudah punya konstituen yang mengakar. Sudah punya basis-basis massa di dapil masing-masing, sehingga di atas kertas pasti lolos.

Prakiraan politisi senior yang juga pengurus elit partai ini akan melenggang mulus ke kursi DPRD Tapteng menjadi berantakan. Predikat caleg petahana tidak bisa menjamin untuk kembali menjadi anggota DPRD Tapteng. Sebuah pencapaian yang sangat tidak pernah diprediksi sebelumnya.

Berdasar formulir model DB1 Kab/Kota yang berhasil diperoleh, politisi senior yang diprediksi gagal meraih kursi DPRD Tapteng yakni, Patricius Marcellino Rajagukguk (PDIP), Hasva Pasaribu (Gerindra), Jonias Silaban (PKPI), Martin Tobing (Demokrat), Romasta Lumbantobing (Hanura), Sarbon Tua Limbong (NasDem), Titian Situmeang SH (PDIP), Lasper Nahampun (Gerindra).

Berikutnya, ada Nurman SH (PAN), Darma Bakti Marbun (Golkar), Jonni L Tobing (Hanura), Hermunsyah Siambaton (PAN), Roder Nababan (PDIP), Efendi Marpaung (Demokrat), Devi Sriwahyuni Batubara (PPP), Jasinar Sidauruk (Golkar), Espiner Siringorigo (PDIP), Jamarlin Purba (PDIP), Antonius Hutabarat (Hanura) dan Abdul Basir Situmeang (PPP).

Fenomena unik ini menjadi perbincangan hangat di tengah-tengah masyarakat. Berbagai pendapat dan opini bermunculan. Namun tidak bisa dipungkiri, jika hasil perhitungan suara yang memperlihatkan dominasi wajah-wajah baru, meleset dari perkiraan para pengamat politik. Ibarat sebuah pertandingan sepakbola, tim unggulan keok dibantai tim semenjana.

Para pengamat politik juga menilai banyaknya caleg yang terancam gagal walau namanya sudah populer di masyarakat dilatarbelakangi berbagai kemungkinan. Faktornya bisa saja karena ia berada di “dapil neraka” atau kudu berhadapan dengan sejumlah caleg lain yang juga punya nama tenar dan berpengaruh.

“Bisa jadi yang bersangkutan berada di dapil neraka, atau mungkin terlalu pede. Namun yang pastinya munculnya wajah-wajah baru di parlemen Tapteng akan memunculkan perubahan kinerja, dimana wajah-wajah baru tidak hanya membawa suara partainya saja, tapi juga suara konstituennya,” ujar pemerhati politik dan sosial, Aron Hasibuan, Kamis (9/5).

Pria yang sering mengkritisi kebijakan Pemkab Tapteng ini juga menegaskan, jika seandainya mayoritas caleg petahana terpilih kembali, menandakan lemahnya sistem kaderisasi di tubuh partai. Dia mengungkapkan, banyak parpol yang lebih mementingkan perolehan suara saat pemilu, ketimbang memperbaiki kualitas parlemen.

“Dengan munculnya wajah-wajah baru menandakan kaderisasi ditubuh partai berjalan dengan baik. Konon lagi katanya calon legislator baru ini rata-rata berusia muda,” pungkasnya. (ztm)