News

Ini Harapan Warga di Ulang Tahun ke-149 Kota Siantar

SIANTAR, FaseBerita.ID – Kota Pematangsiantar berulang tahun ke-149, tepatnya pada Jumat (24/4/2020). Kota kelahiran mantan Wakil Presiden Indonesia ketiga H Adam Malik memasuki usia yang tak muda lagi, sebagai salah satu kota di Sumatera Utara.

Siantar yang dikenal dengan sebagai jalur wisata dari dan menuju kawasan wisata Parapat, Danau Toba diharapkan semakin maju, berdaya saing dan diisi  warga yang kreatif dan produktif.

Sejumlah pemulung yang beraktivitas di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sampah, Jalan Tuan Rondahaim Saragih, Kelurahan Tanjung Pinggir, Kecamatan Siantar Martoba, Kota Pematangsiantar berharap nasibnya mendapat perhatian Pemko Siantar.

Pemulung yang didominasi ibu-ibu atau inang-inang, dalam sebutan lokal, berharap kepedulian pemerintah terhadap mereka, ditingkatkan pada hal kesehatan. Bukan hanya saat Pandemi Covid-19, jaminan kesehatan juga bisa diterima mereka setelah wabah berakhir.

“Kami ini bukan keluarga jahat. Kami ini keluarga baik-baik. Setiap siang harinya bisa dimanfaatkan untuk menambah penghasilan keluarga. Bagaimana setelah Covid-19, kesehatan kami juga diperhatikan,” ujar Rantiomas (50).

Ibu lima anak ini mengatakan belum memiliki BPJS Kesehatan. Ia pun bingung bagaimana cara mendapatkan BPJS Kesehatan jenis Penerima Bantuan Iuran (PBI) yang digaungkan Presiden Joko Widodo. Ia berharap Siantar bisa maju dan orang sepertinya bisa terangkat ekonominya.

Sama halnya dengan Rantiomas, Petirama Sitinjak (55) juga menginginkan kesehatan tak sebatas karena Covid-19. Pengakuannya, bulan Februari 2020 adalah waktu terakhir dirinya membayar BPJS Kesehatan setelah mendengar kabar iuran per bulan naik.

“Di rumah ada 6 orang kami. Dengar kabar kalau BPJS Kesehatan naik kami berhenti ikut peserta BPJS bulan Februari lalu. Gak sanggup kurasa. Belum lagi satu anakku kuliah di Medan, pening membagi uangnya,” terangnya.

Baginya, mengais rezeki berhadapan dengan sampah setiap hari bukan perkara yang mudah. Harga botot (barang bekas, red) yang mereka kumpulkan tak menentu jumlahnya.

“Kami harus tetap sehat agar bisa menambah penghasilan suami. Padahal yang dihadapi sampah. Makanya semoga di ulang tahun Siantar, kami-kami ini bisa ikut maju dan terangkat. Paling tidak tetap sehat,” katanya yang mengaku meraup penghasilan rata-rata sebesar Rp12 ribu-Rp15 ribu per harinya.

Selain mengutip botot, inang-inang pemulung juga mengais sisa sisa makanan untuk ternak babi mereka. Tentunya sedikit banyak bisa membantu biaya pakan yang dikeluarkan untuk mengembala.

Adapun untuk harga sampah plastik yang mereka jual ke pengepul saat ini, dihargai Rp 350/kg. Lebih murah dari bulan-bulan sebelumnya.

“Makin sulit dek. Cuma Rp 350 perak per kilo. Ya, dari pada di rumah tidur-tiduran. Yang penting kami tetao jadi orang baik,” tutup Rismawati (48) seraya berharap Kota Pematangsiantar menjadi semakin maju, layanan kesehatan semakin baik dan lapangan kerja bertambah.(mag04/fi)