News

In Memoriam Darwin Purba: Jurnalis Pengayom dan Penuh Simpati

FaseBerita.ID – Dalam kehidupan yang tak terselami ini, kita seringkali merasa mengetahui banyak hal. Dan untuk tujuan itulah setiap orang tak pernah berhenti belajar sepanjang usianya, agar ia tahu banyak hal. Tetapi, tak ada ilmu yang bisa mengajari kita mengetahui hari kematian.

Dan memang, kematian menjadi ruang misterius yang kerap tak kita sadari sebagai tujuan paling pasti, arah paling mutlak. Kita kerap melupakannya, bahkan kerap menghindarinya. Tapi ketika ia datang atau seseorang yang kita kasihi tiba di sana, kita terkejut. Sedih. Pilu. Tak percaya, dan kita terhempas dalam kesadaran yang lesu: semua telah berakhir.

Perasaan itulah yang menyentak ketika Kamis 19 November 2020, pada pagi yang mendung, tersiar kabar tentang kepergian seorang abang bagi saya: Darwin Purba, atau kerap juga menulis namanya Darwin Girsang. Ia seorang pengayom yang baik, pengemong berhati lembut yang peduli terhadap penderitaan orang lain. Dan, ia seorang penyabar yang hampir tak bisa mempertontonkan kemarahan. Saat kecewa sekalipun, ia tetap tersenyum. Ia seorang pemimpin yang unggul dalam hal simpati dan empati.

Dalam urusan-urusan sosial dan keagamaan, dia selalu terdepan. Bahkan seringkali ia merangkap jadi master of ceremony (MC) dalam setiap kegiatan-kegiatan yang diselenggarakan perusahaan. Ia memang pandai membawakan acara, sekaligus ahli meramu humor. Ia adalah pemimpin serba bisa.

Dalam konteks kepemimpinan inilah Darwin Purba penting dicatat sebagai bagian dari sejarah pers di Sumatera Utara, khususnya di wilayah Kota Pematangsiantar dan Simalungun. Darwin Purba mengawali kiprah jurnalistiknya secara serius di Harian Radar Nauli (sekarang bernama Sumut Pos) pada awal tahun 2000. Lalu ketika surat kabar Jawa Pos Grup itu melakukan ekpansi ke wilayah Pematangsiantar dan Simalungun, dengan merek Posmetro Siantar, Darwin Purba silih berganti mengemban amanah sebagai pemimpin.

Ia pernah jadi kordinator liputan, manajer iklan, wakil pemimpin perusahaan, pemimpin perusahaan, bukan hanya di Posmetro Siantar (sekarang Metro Siantar), tapi juga di anak-anak perusahaan seperti Metro Asahan, Metro Tabagsel dan New Tapanuli. Ia bahkan pernah dipercaya sebagai Manajer EO Sumut Pos tahun tahun 2010-2011.

Dan, itulah yang khas dari Darwin Purba, jabatan tak berarti apa-apa baginya, ia tetap rendah hati dan low profile sampai akhir hidupnya. Ia seorang yang jujur dan tak goyah oleh materi. Saat jatuh bangun mengurus perusahaan, ia bertahan dengan kesabaran yang layak uji. Ia adalah tipikal jurnalis profesional yang konsisten dan teguh.

Pada titik inilah saya sangat sedih sebab sesungguhnya ia masih dibutuhkan banyak orang. Ia masih muda, meski memang sudah lama mengidap sakit jantung. Tapi semangatnya tak pernah kendur meski penyakit itu membayang-bayanginya dalam menjalankan tugas dengan penuh tanggungjawab.

Kadang-kadang, saya berkata padanya, “Bang, jaga kesehatan. Jangan paksa kali”. Lalu dia menjawab dengan gurauan, “Kau yang harus jaga kesehatan, biar jangan kena. Aku kan sudah kena, tugasku tinggal bertahan,” katanya. Dan, tawanya yang khas membahana seketika.

Dan kini, pertahanannya berakhir. Saya menuliskan catatan ini sebagai penghormatan terakhir kepada beliau, bukan hanya atas perjalanan jurnalistiknya, tapi juga sebagai pengingat bahwa dia adalah seorang tokoh, yang tak boleh lepas dari sejarah pers di Sumatera Utara terutama di Siantar-Simalungun. Metro Siantar (dulu bernama Posmetro Siantar), tak bisa lepas dari Darwin Purba. Banyak eks anak buahnya, hasil didikannya, kini banyak yang eksis bekerja di berbagai bidang, terutama di bidang jurnalistik atau perusahaan pers, termasuk saya.

Saat saya memutuskan terjun ke dunia jurnalistik pada tahun 2005, Darwin Purba adalah guru saya. Dialah kordinator liputan ketika itu yang melakukan bimbingan, pengajaran dan pembelajaran. Bahkan, ketika di kemudian hari kami sama-sama diamanahkan memimpin dan mengurus perusahaan, dia senantiasa menunjukkan pembelajaran karakter yang baik dan lembut.

“Kurangi emosimu, jangan marah-marah terus, sakit kau nanti,” katanya suatu kali.

Sebab memang tak mudah mengurus perusahaan pers di era digital ini. Sosial media bergerak amat masif, perkembangan media daring yang luar biasa pesat, zaman yang berubah dan mengubah karakter kepembacaan publik, termasuk perubahan pola dan model bisnis media, segalanya butuh keseriusan dan adakalanya perlu perdebatan ketat untuk menemukan inovasi dan kreativitas baru.

Dan Darwin Purba selalu optimis

Tetapi, Kamis 12 November 2020 sekitar pukul 14.30 Wib, saya menelepon beliau untuk suatu urusan dan itulah untuk pertama kali Darwin Purba saya dengar kurang semangat ketika bicara, seolah ada yang hilang dalam dirinya. Dan ternyata itulah pertanda, hanya seminggu setelah komunikasi itu, dia berangkat menuju kehidupannya yang abadi.

Segala hal pasti akan berlalu, bahkan corak dan warna zaman, juga seluruh bidang profesi. Bahwa kehidupan pers di Pematangsiantar pernah bergairah dan kini berhadapan secara frontal dengan era digital, Darwin Purba adalah salah satu tokoh di balik kegairahan masalalu itu, sekaligus menjadi saksi atas banyak perubahan, dan ia patut menjadi teladan yang kekal dalam riwayat, pun dalam ingatan setiap orang yang pernah mengenalnya, juga karyanya.

Selamat jalan abanganda, kami akan lanjutkan perjuangan kita. (**)

Penulis: Panda MT Siallagan, Direktur/GM Sumut Pos (Mantan Direktur/GM Metro Siantar Tahun 2017-2019)

iklan usi