News

Hilangnya Tiket AirAsia di Online Travel Diduga Kuat Persaingan Tak Sehat

FaseBerita.ID – Masalah hilangnya tiket AirAsia di sejumlah online travel agent (OTA) menimbulkan kabar tidak sedap.

Ada dugaan terjadi persaingan tidak sehat antarmaskapai. Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) pun turun tangan.

KPPU mulai mengkaji kasus itu. KPPU berharap semua pihak kooperatif agar iklim transportasi udara kembali kondusif.

Anggota Komisioner KPPU Guntur Saragih menyatakan bahwa pihaknya telah memanggil dan meminta keterangan AirAsia.

Keputusan berinisiatif dalam penyelidikan itu muncul setelah dengar pendapat dengan komisi parlemen.

Baca: Tahun Ini Bandara Bukit Malintang Dibangun

Sebelumnya, KPPU tidak mau menyelidiki kasus tersebut tanpa laporan AirAsia.

’’Kami panggil AirAsia untuk menjelaskan perihal hilangnya tiket. Ternyata tidak hanya di Traveloka, tetapi juga di OTA lain,’’ terang Guntur, Selasa (26/3).

Berdasar data sementara yang didapat, KPPU tidak menampik dugaan adanya persaingan tak sehat antarmaskapai.

Bahkan, ada upaya pengadangan pada jalur distribusi tiket AirAsia.

’’Kami belum bisa bicara banyak. Ini masih awal pengkajian,’’ kata Guntur. Setelah AirAsia, KPPU akan menggali data dari OTA dan maskapai lain.

Sementara itu, Direktur Niaga AirAsia Indonesia Rifai Taberi menyatakan, pihaknya telah menyampaikan kronologis raibnya tiket pesawat dari sejumlah agen OTA.

Fenomena itu terjadi pada Februari sampai awal Maret lalu. Selain di Traveloka, tiket AirAsia menghilang dari tiket.com.

Kepada KPPU, Rifai mengeluhkan lambannya respons OTA menanggapi komplain AirAsia.

Sejauh ini, perusahaan belum berniat menyampaikan laporan secara resmi. Kendati demikian, AirAsia tidak akan menutup-nutupi informasi.

’’Kami berusaha kooperatif menyampaikan kepada semua penyidik,’’ ujar Rifai.

Awal Maret lalu, AirAsia mencabut kerja sama penjualan tiket dengan Traveloka secara permanen.

Namun, Rifai menyatakan, perusahaan masih terbuka untuk berbicara lebih lanjut, terutama jika Traveloka punya iktikad baik.

’’Sejauh ini belum ada pembicaraan formal dari mereka (Traveloka, Red),’’ tutur Rifai.

Di lain pihak, Ketua Umum Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Hariyadi Sukamdani mengatakan bahwa harga tiket pesawat berdampak langsung pada sektor pariwisata.

’’Saat ini merupakan low season. Jika dibandingkan dengan tahun lalu, okupansi hotel turun 20–40 persen. Penurunan okupansi hotel juga berdampak pada ekonomi di daerah,’’ ujar Hariyadi. (agf/c7/hep/jpnn/fi)

USI