News

Hasil Panen dan Harga Gabah Turun

TAPTENG, FaseBerita.ID– Hujan yang turun beberapa minggu terkahir, mengakibatkan produksi hasil panen padi menurun dibanding musim panen sebelumnya. Seperti yang terjadi di Kelurahan Sibabangun, Kecamatan Sibabangun, Tapanuli Tengah. Sejumlah petani yang mulai merasakan keresahan. Pasalnya, dampak gagal panen diperparah dengan turunnya harga gabah kering panen ditingkat pengumpul.

Informasi yang dihimpun, turunnya harga padi akibat kualitas padi yang sangat jauh dari standar. Bulir padi rusak dan kopong lantaran kekurangan cahaya matahari dan serangan hama. Untuk satu kilogram gabah kering saat ini di hargai Rp3.800. Harga gabah tersebut saat ini kondisinya tergolong turun, dimana pada musim panen sebelumnya harga Gabah Kering Panen (GKP) dibanderol antara Rp4.200 hingga Rp4.500 per kg.

Sementara, lahan sawah seluas 1 hektare, hanya menghasilkan panen sekitar 3.4 ton. Padahal, biasanya dalam kondisi bagus luas tanah tersebut bisa menghasilkan 4 sampai 5 ton gabah kering. diperkirakan untuk mencukupi pasokan beras sampai musim berikutnya, para petani terpaksa membeli dari daerah lain.

Satimin (47), salah seorang petani yang dijumpai di areal persawahannya, Selasa (30/3), mengungkapkan, hasil panen kali ini menurun dibandingkan tahun kemarin. Sebab, sejak bulir padi mulai membunting, panas matahari sangat berkurang. Padahal dalam kondisi bulir padi yang membunting, cahaya matahari sangat diperlukan. Akibatnya, padi banyak yang rusak dan bulirnya menjadi kopong. Belum lagi hama penggerek Batang yang sangat meresahkan.

“Musim panen kali ini sangat jauh dari yang diharapakan. Biasanya dalam per hektare petani akan dapat menghasilkan Gabah Kering Panen (GKP) lebih kurang 4 sampai 5 ton. Namun untuk musim ini produksi padi sawah menurun sampai 50 persen,” keluh Satimin.

Disampaikannya, musim kali ini tidak banyak yang bisa diharapkan dari hasil panen padi sawah, untuk mencukupi kebutuhan pokok sehari-hari hingga untuk mencukupi kebutuhan-kebutuhan lainnya.

“Jangankan untuk menutupi kebutuhan pokok sehari-hari, biaya yang kita keluarkan sejak musim tanam hingga penen, sepertinya tidak akan tertutupi,” tukasnya.

Terkait kemungkinan turunnya harga gabah dimainkan oleh para tengkulak, Satimin tidak mau berspekulasi. Pria paruh baya ini hanya menyarankan, agar Pemerintah dapat mengintensifkan penyuluhan pertanian terhadap petani.(ztm/fabe)

USI