News

Harga Karet Naik tapi Cuaca Ekstrim, Petani Kewalahan

FaseBerita.ID – Petani karet di Kabupaten Asahan mulai bergairah karena harga jual cukup baik. Namun justru terkendala faktor alam akibat cuaca ekstrem. Alhasil, petani kewalahan melakukan penyesuaian.

Hal itu diuraikan Heri Nainggolan, salah seorang pemilik perkebunan karet di Kecamatan Sei Dadap, Kabupaten Asahan,  Selasa (23/11).

Menurutnya, curah hujan yang tidak menentu sangat mengganggu aktivitas para pekerjanya yang melakukan penyadapan /deres karet di lapangan.

“Bayangkan saja, jika hujan turun di malam hari, maka setidaknya jam 9 pagi keesokan harinya, baru bisa memulai bekerja,” ujarnya.

Itupun, kata dia, dengan catatan jangan hujan lagi di hari berikutnya.

“Belum selesai menyadap, maka penderes akan pontang-panting di lapangan menyelamatkan produksi kerja,” terangnya.

Biasanya, sambungnya, karet yang sudah dideres bisa langsung dikentalkan menggunakan bahan sejenis cuka. Jika tidak, latek karet cair akan menjadi air dan tidak menghasilkan apa–apa.

“Kerepotan juga sering dialami saat selesai menyadap dan meninggalkan lahan, namun tiba-tiba turun hujan. Terpaksa kembali mengemasi jika kerjaannya tidak ingin sia-sia,” tandasnya.

Ketika disinggung nilai jual di pasaran, Tarigan mengaku saat ini bisa mencapai Rp9 ribu per kilogram. Harga tersebut sudah mengalami kenaikan, meski belum memuaskan. Namun setidaknya telah terlihat ada perubahan.

“Penghasilan karet tersebut, setelah biaya lansir dikeluarkan hasil dibagi dua antara pekerja dan pemilik lahan,” tukasnya. (per/fi)

iklan usi