News

Harga Ikan Teri Rebus Rp60 Ribu per Kg

TAPTENG, FaseBerita.ID- Memasuki awal bulan Puasa Ramadhan tahun 1442 H, harga ikan teri rebus naik mencapai Rp60.000 per kg.

Pengusaha ikan asin asal Hajoran, Kecamatan Pandan mengatakan, kebutuhan ikan memasuki bulan puasa Ramadhan bakal melonjak tajam.

Hal tersebut dinilai secara umum bakal mendongkrak harga ikan naik hingga 10 sampai 20 persen yang dimulai seminggu sebelum puasa atau tepat di bulan Sya’ban lalu.

“Menjelang puasa dan Lebaran, harga ikan secara umum diperkirakan cenderung mengalami kenaikan seperti tahun-tahun lalu. Harga ikan teri kali ini mencapai Rp60 ribu per kilogram dari harga sebelumnya Rp55 ribu per kilogram,” kata Erlinawati, Rabu (14/4).

Diterangkannya, harga ikan itu naik karena memasuki bulan puasa hingga menjelang Lebaran. Kemudian, akibat meningkatnya permintaan ikan dari seluruh konsumen di pasar.

Parahnya lagi, mulai dua minggu sebelum Ramadhan datang, badai topan selalu datang menghantam perairan pantai Barat Sumatera Utara.

Akibat dari itu banyak para nelayan kehilangan Bagan Pancang dikarenakan roboh dihantam badai dan ombak.

Ia juga menambahkan, jika angin kencang dan gelombang tinggi. Maka banyak nelayan yang tidak berani melaut sehingga pasokan ikan pun kian menurun.

“Jika cuaca bersahabat maka stok bisa saja akan berlimpah. Tapi untuk saat ini pasokan ikan sangat terbatas, itu karena hasil tangkapan nelayan berkurang,” ujarnya.

Dijelaskannya, permintaan ikan di luar daerah diperkirakan mengalami kenaikan, bukan hanya ikan teri saja yang akan melonjak naik, namun ikan rebus lainnya juga mengalami kenaikan.

“Kalau sudah minim pendapatan nelayan, pasti ikan lain juga akan mengalami kenaikan. Yang paling tinggi harga ikan cumi-cumi, sekarang sudah mencapai Rp.70 ribu per kg, kemudian ikan demam sudah naik jadi Rp32 ribu per kg, kemudian ikan maning sekarang harganya sudah Rp25 ribu per kg. Tapi ikan ramas ini masih bisa terjangkau, sebab naik hanya sekitar Rp2.000-an,” ucap Erlina.

Menurutnya,  komoditas tersebut salah satu kebutuhan pokok masyarakat, sehingga setiap kenaikan ataupun penurunan harganya tidak terlalu berpengaruh terhadap warga, maupun konsumen.

Selain itu, tutur Erlina, waktu musim ikan untuk masing-masing jenis dan lokasi pastinya berbeda-beda harga. Untuk stabilisasi harga dan pasokan diperlukan penanganan yang serius bagi pelaku usaha.

Selanjutnya ikan kering yang sudah diolah tadi, kebanyakan akan dikirim keluar Daerah, seperti Dumai, Pekan Baru, Medan dan Stabat. Tentunya harga di daerah itu akan jauh lebih mahal ketimbang di daerah Tapanuli Tengah dan Sibolga. (hp/fabe)

USI