News

Hakim PT Medan Kuatkan Putusan PN Psp: Jaksa Lanjut Kasasi

FaseBerita.ID – Jaksa Penuntut Umum telah mengajukan kasasi setelah banding atas putusan hakim yang mendakwa Pandapotan Rangkuti dan Adi Saputra Nasution alias Boja dengan hukuman 20 Tahun penjara dan denda Rp 1 miliar Subsider 6 Bulan, pada Senin (7/9) lalu dan dikuatkan di Pengadilan Tinggi Medan pada Selasa (10/11) lalu. Pandapotan dan Boja merupakan terpidana kasus kurir ganja seberat 250 Kg ganja.

Pada banding itu diketahui dari akta pernyataan banding nomor : 29/Akta.Pid/2020/PN.Psp diajukan jaksa atasnama M Zulsyafran Hasibuan yang telah menghadap panitera Hery Chandra pada Kamis (10/9), atau berselang tiga hari setelah putusan Majelis Hakim Pengadilan Negeri Padangsidimpuan. Sebelumnya, JPU Kejari Padangsidimpuan Gabena Pohan dan M Zulsyafran menuntut kedua terdakwa dengan hukuman mati.

Berdasarkan putusan bernomor 1489/Pid Sus/2020/PT.MDN yang diterbitkan Panitera PT Medan, MA Mujahid. Putusan itu dibacakan langsung pada 18 November 2020 oleh Bahtera Perangin-angin sebagai Hakim Ketua bersama hakim lainnya, Aroziduhu Waruwu dan Arifin. Mereka menerima banding jaksa penuntut umum dan menguatkan putusan hakim PN Padangsidimpuan.

“Di tingkat Banding, hasilnya Pengadilan Tinggi Medan menguatkan putusan Pengadilan Negeri Padangsidimpuan. Selanjutnya Jaksa pengadilan negeri Padangsidimpuan kasasi atas putusannya,” terang Sahor Bangun Ritonga, kuasa hukum kedua terdakwa, Kamis (24/12) kemarin.

Berdasar surat dari jurusita PN Psp yang diterima Sahor. JPU kemudian melanjutkan upaya tuntutan hukuman mati mereka ke tahap Kasasi di tingkat Mahkamah Agung terhadap putusan PT Medan bernomor 1489/Pid Sus/2020/PT MDN jo 177/Pid Sus/2020/PN PSP. JPU dari Kejaksaan Negeri Padangsidimpuan itu mengajukan kasasi pada 14 Desember sebelumnya.

“Kita akan terus mendampingi para terdakwa hingga saat ini. Bagaimana pun kasus Dapot dan Boja merupakan terpidana dari permainan kotor oknum aparat, dan mereka telah terbuka selama ini dan menjadi justice collaborator dalam mengungkap pelaku-pelaku yang perannya lebih besar,” ungkap Sahor.

Kasus Pandapotan Rangkuti dan Adi Saputra Nasution pada mulanya berawal sejak Jumat (7/1) awal tahun lalu. Pandapotan di kampungnya di Desa Padang Laru, Kecamatan Panyabungan Timur sedang kalut, ayahnya yang terbaring sakit butuh biaya berobat. Bertepatan sang istri Nurmina Nasution tengah hamil tua mengandung anak keempat mereka.

Kesehariannya sebagai supir angkutan tak menentu berpenghasilan lebih. Maka, tatkala Adek, seorang warga yang sama menawarkannya mengantarkan barang berupa ganja ke Kota Padangsidimpuan.Ia pun bersedia. Apalagi, ia hanya menyetir saja.

Mobil truk Hino jenis Dump Truk B 9806 TYT sudah disiapkan Adek. Untuk dibawa oleh Dapot. Dan ke Padangsidimpuan, nantinya Dapot juga akan ditemani seseorang.

Pada lain tempat, Adi Saputra Nasution alias Boja, juga sudah ditemui Adek. Ayah dari satu anak yang masih berusia 9 bulan itu, tepat lagi terdesak biaya kontrakan. Sementara hasil pekerjaan sebagai honorer hanya Rp 400 ribu perbulan. Itu pun dikeluarkan pada bulan ketiga.

“Dia datang dari Gunung Baringin, katanya dia ada kerja bawa beras. ke Sidimpuan, nanti kalau sudah pulang, gajinya bisa beli satu karung beras,” cerita Nisah Lubis, istri Boja.

Pandapotan dan Boja yang sudah terperdaya Adek itu pun bertemu di Gunung Baringin, pada Sabtu (1/8) petang. Selanjutnya mereka ke arah Huta Tinggi, menjemput ganja. Memarkirkan truk itu dengan posisi ekor ke satu tebing bukit yang kondisinya sudah dikeruk.

Keduanya hanya di dalam mobil, orang-orang pemilik ganja yang disebut bernama Faisal itu pun melemparkan ganja-ganja itu ke dalam truk dan menyusunnya.

Setelah itu, mereka pun berangkat ke Kota Padangsidimpuan tanpa kendala. Hingga akhirnya setelah kontak-kontakan Boja dengan Faisal, serta seorang yang disebut dengan nama Roni di Padangsidimpuan. Pandapotan dan Boja akhirnya diamankan kepolisian dari Polres Kota Padangsidimpuan di depan gedung SMPN 1 Padangsidimpuan, sesuai penuturan Pandapotan. Dan polisi merilis penangkapan mereka terjadi Tor Simarsayang dengan barangbukti hanya seberat 250 Kilogram. (san/fabe)

USI