News

GM Sumut Pos Jelaskan Teknik Dasar Jurnalistik di Ponpes Entrepreneur Darul Musthofa

FaseBerita.ID – Pondok Pesantren Entrepreneur Darul Musthofa menggelar workshop pelatihan jurnalistik yang berlangsung di Aula Pondok Pesantren (Ponpes) Jalan Lasimin, Dusun 3, Desa Slemak, Kecamatan Hamparan Perak, Kabupaten Deliserdang, Sumatera Utara (Sumut), Kamis (25/2) lalu.

General Manager (GM) Sumut Pos Pandapotan MT Siallagan hadir sebagai narasumber. Sedangkan peserta workshop pelatihan jurnalistik diikuti 53 santri dan santriwati Pondok Pesantren Entrepreneur Darul Musthofa yang terdiri dari tingkat SMP dan SMA.

Pimpinan Pondok Pesantren Entrepreneur Darul Musthofa, Amar Tarmizi mengatakan bahwa kegiatan pelatihan jurnalistik ini dapat bermanfaat bagi para santri dan santriwati, terutama dalam pengenalan dunia jurnalistikn

“Dengan mengikuti pelatihan jurnalistik ini, kita harap anak-anak dapat lebih pandai menulis sebuah berita yang tepat dan baik sesuai fakta yang ada di lapangan. Sehingga, anak-anak juga nantinya dapat membuat sebuah berita yang baik tentang pondok pesantren Darul Musthofa ini,” ujar Amar.

Pria yang kerap disapa Ustad Amar itu mengatakan, setelah anak-anak bisa menulis berita dengan baik, pihak Pondok Pesantren Darul Musthofa akan membuat majalah dinding (mading) untuk karya anak anak santri dan santriwati. “Saat ini kita masih wacanakan untuk membuat Mading. Jadi sebelum membuat Mading anak anak harus dibekali pelatihan jurnalistik,” katanya.

Sementara itu, GM Sumut Pos, Pandapotan MT Siallagan ketika memaparkan materi pelatihan jurnalistik kepada santri dan santriwati, menceritakan sekilas sejarah jurnalistik yang sudah ada sejak zaman Romawi Kuno, hingga berkembang seperti saat ini.

Selanjutnya, pria yang akrab disapa Panda ini menjelaskan mater-materi jurnalistik, mulai dari dasar-dasar jurnalistik, termasuk unsur-unsur berita.

Dia mengatakan, dalam melakukan tugas jurnalistik, unsur-unsur berita yang harus terlebih dahulu dikuasai adalah Metode Kipling, yaitu 5W + 1H (What, Who, When, Where, Why dan How).

“Jika ada sebuah peristiwa, lalu adik-adik menuliskan peristiwa itu dengan 5W 1H, maka tulisan kalian itu sudah layak jadi berita. Sebab inilah unsur dasar yang harus dijadikan pedoman ketika menulis berita,” katanya.

Pandapotan MT Siallagan juga memberikan penjelasan mengenai teknik dasar jurnalistik, misalnya bagaimana melakukan observasi, wawancara, teknik menulis. Dia berharap, dengan adanya pelatihan jurnalistik ini, para santri dan santriwati dapat menjadi penulis yang baik di kemudian hari. (smg/fabe)