News

Fatwa MUI: Daging Kurban Boleh Diawetkan

FaseBerita.ID – Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengeluarkan fatwa terkait pengawetan dan pendistribusian daging kurban dalam bentuk olahan.

Dalam fatwa Nomor 37 Tahun 2019 itu, MUI membolehkan daging kurban diawetkan dan dikirim ke warga dalam bentuk olahan.

Wakil Ketua Umum MUI Zainut Tauhid mengatakan, pengawetan dan pengolahan daging kurban tidak bisa dilakukan sembarangan.

“Menyimpan sebagian daging kurban yang telah diolah dan diawetkan dalam waktu tertentu untuk pemanfaatan dan pendistribusian kepada yang lebih membutuhkan adalah mubah (boleh) dengan syarat tidak ada kebutuhan mendesak,” ujar Zainut, Sabtu (10/8/2019) lalu.

Zainut mengatakan, ada tiga dasar pertimbangan yang harus dipenuhi dalam pengawetan dan penyaluran daging kurban dalam bentuk olahan. Pertama, harus bertujuan untuk kebaikan umat. “Didistribusikan secara tunda untuk lebih memperluas nilai maslahat,” kata Zainut.

Syarat kedua yakni diawetkan dan diolah dalam bentuk seperti makanan kaleng. Bisa berupa kornet, rendang dan sejenisnya. Syarat terakhir yakni daging kurban didistribukan ke luar daerah yang jauh. “Didistribusikan ke daerah di luar lokasi penyembelihan,” tegas Zainut.

Meski begitu, pada prinsipnya, hewan kurban harus disunnahkan untuk didistribusikan segera setelah disembelih dan dibagikan dalam bentuk daging mentah untuk memenuhi hajat orang yang membutuhkan di daerah terdekat.

Fatwa MUI Nomor 37 Tahun 2019 ini telah disahkan pada 7 Agustus 2019. Draftnya telah ditandangani langsung oleh Ketua Umum MUI, Ma’ruf Amin dan Sekjen MUI Anwar Abbas. Berikut ini isi lengkap fatwa tersebut;

Fatwa Majelis Ulama Indonesia Nomor 37 tahun 2019 tentang Pengawetan dan Pendistribusian Daging Kurban dalam Bentuk Olahan

Ketentuan Hukum
1. Pada prinsipnya, daging hewan kurban disunahkan untuk:
a. Didistribusikan segera (ala al-faur) setelah disembelih agar manfaat dan tujuan penyembelihan hewan kurban dapat terealisasi yaitu kebahagian bersama dengan menikmati daging kurban.
b. Dibagikan dalam bentuk daging mentah, berbeda dengan aqiqah.
c. Didistribusikan untuk memenuhi hajat orang yang membutuhkan di daerah terdekat.
2. Menyimpan sebagian daging kurban yang telah diolah dan diawetkan dalam waktu tertentu untuk pemanfaatan dan pendistribusian kepada yang lebih membutuhkan adalah mubah (boleh) dengan syarat tidak ada kebutuhan mendesak.
3. Atas dasar pertimbangan kemaslahatan, daging kurban boleh (mubah) untuk:
a. Didistribusikan secara tunda (ala al-tarakhi) untuk lebih memperluas nilai maslahat.
b. Dikelola dengan cara diolah dan diawetkan, seperti dikalengkan dan diolah dalam bentuk kornet, rendang, atau sejenisnya.
c. Didistribusikan ke daerah di luar lokasi penyembelihan. (jp/dc/int)

iklan usi