News

Dua Wanita Tunarungu Tertabrak Kereta Api: 1 Tewas, 1 Kritis

SIANTAR, FaseBerita.ID – Dua wanita yang tersambar kereta api di Simpang Kerang, Kelurahan Sumber Jaya pada Jumat (9/8/2019) sekira pukul 16.00 WIB ternyata penyandang tuna rungu. Satu di antaranya meninggal dunia dan satu lagi masih kritis dan dirawat di RS Horas Insani Pematangsiantar.

Keduanya ialah Rohani dan Dewi (36) warga Simpang Kerang, Kelurahan Sumber Jaya dan Rohani (30) warga Jalan Pipa Kelurahan Sari Rejo, Polonia, Medan.

Rohani yang baru beberapa hari berkunjung ke rumah Dewi meninggal dan selanjutnya dibawa keluarganya ke Medan. Sementara itu, hingga Minggu (11/8/2019) kemarin, Dewi masih kritis dan belum sadarkan diri di RS Horas Insani.

Informasi yang dihimpun, Dewi dan Rohani sudah lama berteman kedunya penyandang Tunarungu (tidak bisa mendengar dan bicara) sejak lahir. Dewi, kesehariannya hanya sebagai IRT dan telah memiliki dua orang anak.

Keduanya adalah Awal Ramadhan Damanik (13) duduk di bangku SMP dan Anugrah Santosa Damanik (6) yang masih TK.

Sedangkan Sudani (42) suami dari Dewi juga penyandang tunarungu yang kesehariannya sebagai kernet tukang (pengikut tukang).

Samar orang tua dari Dewi menjelaskan, kalau kesehariannya Dewi sebagai IRT dan terkadang membantu di rumah orang.

Disebutkan Samar pada saat kejadian itu, Sudani sedang berada di Pekan Baru untuk bertukang.

“Jadi kronologi kejadiannya, kami tidak tahu persis. Kalau Rohani beberapa jam setelah kejadian sudah meninggal dan langsung dibawa pihak keluarga ke Medan pukul 11.00 WIB untuk dikebumikan,” katanya.

“Dewi dan Rohani ini sudah lama berteman dan yang kami ketahui kalau Rohani ini orang Medan penyandang Tunarungu juga sama seperti Dewi. Dan kalau pun dia datang ke mari, sering menginap 2-3 hari bahkan sampai satu minggu sampai keluarganya menjemput,” ujarnya.

Samar menambahkan, kalau untuk biaya pengobatan berharap dari Jasa Raharja saja.

“Memang mereka punya BPJS, tetapi tidak pernah dibayar lagi, karena tidak sanggup buat membayarnya,” terang Samar.

“Gimanalah, buat makan saja susah. Belum lagi biaya sekolah anak-anaknya, ditambah lagi pekerjaannya saja tidak jelas. Sedangkan untuk biaya uang sekolah anak-anaknya aja, pihak keluarga yang selalu membayar,” ujarnya.

Samar bercerita, mereka pernah ke Kantor Lurah supaya Dewi bisa mendapatkan PKH dan KIS, tapi sampai saat ini usulan keluarganya tidak pernah terealisasi.

“Kita berharap kepada pemerintah agar lebih memperhatikan warganya. Masa anak kami Tunarungu, tetapi tidak ada mendapatkan bantuan apapun dari pemerintah, kita hanya meminta agar dibuatkannyalah KIS dan KIP,” harapnya.

Sementara itu, Sudani, suami Dewi saat ditemui dikediamannya mengatakan dan berharap agar mendapatkan bantuan demi kesembuhan sang istri.

“Saya memohon doa dan bantuannya demi kesembuhan istri saya,” ujarnya sembari menerangkan dengan bahasa tubuh.

Sebagaimana diketahui, kedua korban disambar kereta api saat jalan-jalan sore di seputaran rel kereta api. Saksi mata di lokasi mengatakan bahwa keduanya sedang main HP di dekat rel tersebut. Karena tidak mendengar suara klakson kereta api, keduanya akhirnya tersambar kereta api yang datang dari arah Siantar menuju Medan. (mag04)

iklan usi