News

Dua Massa Demo Ricuh, Polisi Lepas Tembakan

TAPSEL, FaseBerita.ID – Aksi unjuk rasa damai yang dilakukan dua kubu yang mengatasnamakan Aliansi Mahasiswa Pejuang Rakyat (Ampera) dan Himpunan Mahasiswa Indonesia (HMI), berakhir ricuh, Senin (16/9/2019). Bahkan, polisi sempat melepas tembakan peringatan sebanyak lima kali untuk mengamankan situasi.

Kericuhan itu terjadi di pintu gerbang Kantor Bupati Tapsel, Sipirok, saat HMI melakukan aksi unjukrasa di tempat yang sama.

Massa Ampera yang ditangungjawabi Reynaldi Dongoran dan di Koordinatori Agusni membawa tuntutan agar Bupati Tapsel mengevaluasi kinerja atau mengganti Sekretaris Daerah (Sekda) Tapsel dengan yang lebih berkompeten dan bertanggungjawab.

Karena diduga dalam amatan dan analisa Ampera, ada beberapa anggaran yang tidak wajar dalam realisasinya di lapangan yang ditampung dalam APBD Kabupaten Tapsel TA 2018.

Dugaan itu di antaranya, penyediaan makan dan minum, pengadaan perlengkapan rumah jabatan/dinas, Pemeliharaan Rutin/berkala rumah jabatan, Pemeliharaan rutin /berkala gedung Kantor, Pemeliharaan rutin/ berkala kendaraan dinas/ Operasional, Pemeliharaan rutin/ berkala perlengkapan Rumah Dinas, dan Pemeliharaan rutin/ berkala perlengkapan Gedung Kantor.

“Kami meminta kepada Bupati Tapsel agar mengevaluasi kinerja Direktur Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Sipirok karena diduga telah menyalahgunakan wewenang jabatannya. Terkait pengangkatan Tenaga Kerja Sukarela (TKS) diduga tidak memiliki Dasar Hukum serta Urgensi di RSUD Sipirok dalam beberapa tahun terakhir ini,” ungkap mereka.

Selanjutnya, massa Ampera juga menyebut Direktur RSUD Sipirok diduga membuat kebijakan mengutip dan atau memotong THL yang diperuntukkan untuk Honor TKS di RSUD Sipirok.

Pemotongan honor THL diduga hanya berdasarkan kesepakatan yang dibuat dengan pengambilan kesepakatan dalam musyawarah dengan sistem voting.

Dimana tidak semua THL setuju dengan keputusan tersebut, tetapi setiap bulan  honor HL dikutip untuk diperuntukkan kepada honor TKS.

“Dalam pengangkatan TKS RSUD Sipirok diduga sarat akan KKN, yaitu Direktur RSUD Sipirok diduga menerima gratifikasi untuk diperuntukkan kepada honor TKS. Diduga Kepala UPT Sipirok telah membiarkan tenaga harian lepas (THL) dan Tenaga kerja sukarela (TKS) keluar di saat jam kerja tertanggal 9 September 2019. Sementara RSUD Sipirok merupakan lokasi pelayanan kesehatan bagi masyarakat yang begitu penting,” kata mereka yang pada waktu yang disebutkan itu, TKS dan THL RSUD Kota Psp juga berencana menghalau aksi mereka.

Ampere kemudian meminta Bupati Tapsel agar mengevaluasi kinerja Kasatpol PP Tapsel karena diduga kurang mampu dalam membina dan mengawasi anggotanya yang sesuai dengan tegas dan fungsinya diduga melakukan penganiayaan terhadap peserta aksi unjuk rasa, yakni tertanggal 09 September 2019 lalu.

Berselang satu jam, pada pukul 13.50 WIB, kali ini massa dari Himpunan Mahasiswa Indonesia (HMI) tiba di depan Kantor Bupati Tapsel. Dikoordinatori Muhammad Sukri dan Amran Apandi Nasution.

Dalam pernyataan sikapnya, HMI Cabang Padangsidimpuan mengecam oknum-oknum yang mencoba melecehkan HMI dan KAHMI. Karena itu, HMI mendukung penuh Sekda Tapsel Parulian Nasution untuk melangsungkan tugasnya selaku Ketua KAHMI.

HMI juga akan mensomasi pihak-pihak baik individu ataupun organisasi yang melecehkan Kader HMI dan KAHMI.

Beberapa menit kemudian, kericuhan terjadi antara massa HMI dengan massa Ampera. Kericuhan itu terjadi karena saling ejek antar kedua massa.

Pihak Polres Tapsel dan Satpol PP berjaga ketat di lokasi dan menghalau massa HMI supaya tidak merapat ke massa Ampera demi menjaga kemungkinan terjadinya bentrok. Massa dari Ampera memaksa masuk ke massa HMI dan sempat terjadi saling dorong.

Kedua massa terjadi bentrok dan saling kejar mengejar. Bahkan polisi sempat melepaskan tembakan peringatan ke atas sebanyak 5 kali. Massa dari HMI dipaksa masuk ke dalam Kantor Bupati Tapsel untuk menghindari aksi bentrokan lanjutan. Sekira pukul 15.35 WIB, unjukrasa dari kedua belah kubu selesai dan membubarkan diri.

Sebelumnya, massa Ampera juga telah lebih dahulu melaksanakan unjuk rasa di Markas Polres Tapsel di Jalan SM  Raja Kota Padangsidimpuan. Tuntutannya, agar polisi menangkap pelaku kekerasan terhadap mahasiswa yang melakukan unjukrasa. (san)