News

Dinkes Latih 60 Kader Posbindu Pengetahuan PTM

HUMBAHAS, FaseBerita.ID – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Humbag Hasundutan (Humbahas) melatih 60 orang kader Pos Binaan Terpadu (Posbindu) terkait Penyakit Tidak Menular (PTM). Keenampuluh kader tersebut berasal dari 12 wilayah puskesmas di 10 kecamatan.

Kegiatan tadi dilakukan dalam dua tahap, yaitu 12-14 Agustus dan 19-21 Agustus 2019 bertempat di hotel Martabe, Doloksanggul.

Plt Kepala Dinas Kesehatan Humbahas dr Binner Sinaga MKes mengatakan, melalui kegiatan itu, kader diberi pengetahuan mengenai PTM dan faktor risikonya.

“Konsep Posbindu, pengukuran faktor risiko PTM, edukasi pencegahan PTM, pencatatan dan pelaporan. Selain sesi teori, peserta juga dilatih menggunakan alat tensimeter digital,” kata Binner diruang kerjanya, Kamis (22/8).

Dijelaskan, PTM telah meningkat tajam seiring dengan perubahan gaya hidup dan perilaku tidak sehat masyarakat. Berbeda dengan penyakit menular, gejala penyakit tidak menular pada fase awal kerap kali tidak ada atau gejala dirasakan setelah terjadi komplikasi.

“Hasil riset kesehatan dasar (riskesdas) tahun 2013 menunjukkan bahwa lebih dari 70 persen penduduk yang menderita hipertensi  dan diabetes mellitus tidak terdiagnosa, sementara hanya 30 persen yang terdiagnosa berobat secara teratur. Di Humbahas angka prevalensi hipertensi cukup tinggi yaitu 37,8 persen,” terangnya.

Sebelumnya, di lokasi pelatihan, Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) dr Harland Tumpal Sihombing mengatakan, para peserta juga mensimulasikan analisa lemak tubuh, alat ukur lingkar perut, alat ukur tinggi badan, alat periksa gula darah dan kolesterol.

“Harapan kita, setelah mengikuti kegiatan ini kader dapat mahir melaksanakan Posbindu dan meningkatkan jumlah kunjungan  di desa masing-masing, sesuai sasaran Posbindu, yaitu penduduk usia 15-59 tahun,” ujarnya.

Sementara itu, Nurhayati Solin, narasumber dari Dinkes Provsu menjelaskan saat ini Indonesia menghadapi beban ganda penyakit, yaitu penyakit menular dan penyakit tidak menular. Perubahan pola penyakit tersebut sangat dipengaruhi antara lain oleh perubahan lingkungan, perilaku masyarakat, transisi demografi, teknologi, ekonomi dan sosial budaya.

“Peningkatan beban akibat PTM sejalan dengan meningkatnya faktor risiko yang meliputi meningkatnya tekanan darah, gula darah, indeks massa tubuh atau obesitas, pola makan tidak sehat, kurang aktivitas fisik, dan merokok serta alcohol,” paparnya.

Senada juga diungkap Masryanti Sinaga. Narasumber yang juga dari Dinkes Provsu tersebut menekankan, kecenderungan peningkatan PTM terjadi dalam beberapa dekade terakhir ini di tingkat global juga terjadi di indonesia  baik angka kesakitan (morbiditas) maupun angka kematiannya (mortalitas). Estimasi penyebab kematian terkait PTM yang dikembangkan oleh  WHO menunjukkan bahwa penyakit kardiovaskular merupakan penyebab kematian tertinggi di negara-negara asia tenggara termasuk Indonesia. Lebih dari 80 persen kematian disebabkan oleh penyakit kardiovaskuler dan diabetes.

“Salah satu upaya pemerintah dalam mengurangi angka kematian dan angka kesakitan akibat PTM adalah melalui kegiatan deteksi dini faktor risiko di Posbindu yang ada di desa. Kegiatan di posbindu dilaksanakan oleh kader terlatih, meliputi, wawancara perilaku berisiko, pengukuran tekanan darah, pengukuran gula darah, kolesterol, pengukuran indeks massa tubuh, ketajaman penglihatan dan pendengaran, serta edukasi perilaku gaya hidup sehat,” ujarnya. (sht/osi)

iklan usi