News

Demam Tinggi, 2 PDP Asal Siantar Dirawat di Medan

Baru Pulang dari Daerah Terpapar Covid-19

FaseBerita.ID – Demam tinggi, dua warga Siantar terpaksa dirawat di Rumah Sakit (RS) Bunda Thamrin Kota Medan. Keduanya berstatus pasien dalam pengawasan (PDP) covid-19 karena baru pulang dari terpapar.

Menurut Juru Bicara (Jubir) Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Kota Pematang Siantar Daniel Siregar, kedua PDP tersebut sudah dirawat sejak 2 Mei 2020.

“Sepulang dari luar daerah, keduanya diperiksa di Bandara Kualanamu. Suhunya tinggi. Gejalanya demam. Jadi langsung dirawat,” kata Daniel, Rabu (6/5/2020).

Daniel menjelaskan, kedua pasien tersebut menetap di Kecamatan Siantar Utara dan Siantar Timur.

“Mereka belum sempat pulang ke Siantar. Jadi, keluarganya tak perlu diperiksa. Dua-duanya laki-laki. Mereka satu perjalanan dari daerah terpapar (corona),” terangnya.

Kedua pasien itu, sambung Daniel, juga sudah dirapid test. Hasilnya, reaktif corona.

“Sampel untuk swab testnya juga sudah dikirim. Kita tinggal menunggu hasilnya,” pungkas Daniel.

Rapid Test Dilakukan di Wilayah Ditemukan PDP

Sementara di Simalungun hingga kini belum diketahui berapa jumlah warga yang sudah dilakukan rapid tes.

Hal itu disampaikan Kepala Dinas Kesehatan Pemkab Simalungun dr Lidya Saragih.

“Waduh jumlahnya nggak bisa kuhitung-hitung. Ke Gugus Tugas aja tanya, rekapannya semua ada di sana, ngak hapal semua,” kata dr Lidya Saragih saat dikonfirmasi melalui selulernya, kemarin (5/5).

Sebab, kata Lidya, pihaknya melakukan pemeriksaan hanya di daerah ditemukannya pasien Positif rapid test Covid-19.

“Pengadaan Rapid test kami ada sekitar 8.000. Sisanya masih ada. Cuma angka pastinya ngak ingat. Sejauh ini belum semua kecamatan di rapid test. Kalau ada kami lihat satu pasien yang positif rapid test, maka langsung kami telusuri (tracking) di sekitarnya dan siapa lagi yang kontak sama mereka,” jelasnya.

Sementara Humas Tim Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Simalungun Akmal Siregar saat dikonfirmasi melalui selulernya perihal jumlah warga yang sudah dilakukan rafid tes, juga mengaku tak ingat.

“Oh kalau sudah berapa orang, ngak bisa segera aku jawab. Karena data detail belum ada. Mungkin datanya di Pusdal Ops,” sebutnya.

Namun secara umum, Akmal Siregar menjabarkan wilayah yang sudah dilakukan rapid test ada sekitar 20 wilayah. Di antaranya Nagori Balimbingan, Nagori Marubun Jaya Kecamatan Tanah Jawa.

“Sudah 20 wilayah dilakukan pemeriksaan rapid test. Termasuklah desa-desa yang sudah dilakukan isolasi mandiri seperti Nagori Balimbingan, Marubun Jaya, Bangun Panei dua kali rapid test dan lainnya,” terangnya.

“Rapid test dilakukan karena di wilayah itu ditemukan PDP dan disitu ditemukan hasil Swab, maka dilakukan penelusuran (tracking) di sekitarnya juga terhadap Petugas bencana yang turun ke lapangan,” sambungnya.

Terkait larangan pemudik masuk ke wilayah Simalungun, Akmal Siregar menyampaikan bahwa Pemkab Simalungun belum mengeluarkan surat terkait larangan tersebut.

“Belum ada dikeluarkan suratnya, karena dimasing-masing Nagori kan sudah dilakukan pendataan terhadap pendatang dan setiap pintu masuk pun dipantau,” ujarnya.

Alasan mengapa yang melintas belum dibuat larangan, kata Akmal, karena pintu masuk dari berbagai kabupaten seperti Samosir, Tobasa, Asahan, Batubara, Tanah Karo dan Dairi.

“Simalungun ini pintu masuk Samosir, Tobasa, Asahan, Batu bara, Tanah Karo Dairi. Banyak pintu masuk kita. Jadi kalau sempat kita larang, pasti sudah merepotkan dan mau kemana orang kalau sudah sempat kita stop juga,” paparnya.

“Itulah artinya ada Dinas Perhubungan memantau di pintu-pintu masuk. Setiap bus, setiap kendaraan pribadi yang platnya di luar kawasan Siantar-Simalungun diukur suhu tubuhnya. Namun soal melarang melintas, belum ada kita terapkan,” pungkasnya. (Mag-04/Mag-05)