News

Cuaca Buruk, Sudah Sebulan Nelayan di Tapteng Tidak Melaut

TAPTENG, FaseBerita.ID – Akibat cuaca buruk, puluhan nelayan di Dusun III Pandan Laut, Desa Tapian Nauli I, Kecamatan Tapian Nauli, Tapanuli Tengah (Tapteng) tidak melaut. Kondisi itu sudah berlangsung sebulan lamanya.

Masrul Tanjung (46) salah seorang nelayan warga Dusun III Pandan Laut mengatakan, ia dan nelayan lain dari desanya tidak berani melaut akibat cuaca buruk yang terjadi sebulan terakhir. “Sudah sebulan ini tidak melaut. Gimana kita mau pergi jika kondisi cuaca seperti ini, ombak, badai,” ujar Masrul kepada wartawan koran ini, Senin (12/8/2019).

Hal itu jelas berdampak terhadap perekonomian warga. Bahkan untuk menutupi kebutuhan sehari-hari, para nelayan terpaksa berutang di warung. “Apa yang adalah dulu dipakai, ya berutang ke warung,” katanya.

Kendati menghadapi cuaca buruk yang terjadi, Masrul mengaku ada juga beberapa nelayan yang mencuri-curi waktu untuk melaut. Namun mereka melaut hanya di sekitar pinggiran pantai yang masih terbilang aman bila tiba-tiba cuaca berubah. Dan itu jelas membuat hasil yang diperoleh tidak seperti biasa saat kondisi cuaca mendukung.

“Ada juga yang melaut, kadang agak tenang dia (ombak,red) maulah melaut tapi hanya di pinggir-pinggir ini (pantai, red). Cuma hasilnya sedikit, ya gimalalah rejeki-rejeki di laut, kalau agak ke tengah kan lumayan hasilnya,” katanya.

Disinggung dengan penghasilan mereka setiap hari, Masrul mengaku rata-rata penghasilan mereka saat cuaca baik, bisa menghasilkan Rp50 ribu per hari. “Kalau kondisi cuaca normal, rata-rata Rp50 ribulah, cuma terkadang memang mau berlebih, tergantung rejeki jugalah,” katanya.

Sementara itu Kepala Dusun III Pandan Laut, Anwar Gulo mengaku bahwa warga di daerah itu mayoritas nelayan.

“Ada sekira 75 KK di sini, mayoritas nelayan. Mata pemcarian di sini hanya melaut,” ucap Anwar saat ditemui di pemukiman mereka di tepi pantai Pandan Laut.

Dan untuk mengisi waktu saat kondisi cuaca buruk, Anwar menjelaskan para nelayan menghabiskan waktu dengan memperbaiki alat yang digunakan mereka untuk menangkap ikan serta perahu yang mereka gunakan untuk melaut. “Kita lihatlah, membagusi jarring dan pancing kalau kondisi cuaca sudah buruk seperti ini,” katanya.

Gelombang Tinggi di Wilayah Timur

Sementara itu Stasiun Meteorologi Pattimura Ambon memprediksi terjadinya gelombang laut hingga 4 meter di Laut Arafura, Kabupaten Kepulauan Aru, Provinsi Maluku pada beberapa hari kedepan.

Kepala Stasiun Meteorologi Pattimura Ambon, Ot Oral Sem Wilar mengatakan gelombang laut dipengaruhi angin yang bertiup dari arah timur hingga tenggara dengan kecepatan 30 knot atau 55 kilometer per jam.

“Nelayan diimbau mewaspadai gelombang tinggi, jangan memaksakan diri melaut dengan mengandalkan armada tradisional, sebab perahu tradisonal dipastikan tak kuat menahan kondisi cuaca tersebut. Apalagi sewaktu-waktu terjadi perubahan kecepatan angin sehingga mempengaruhi tinggi gelombang,” kata Sem Wilar, Minggu (11/8/2019) lalu.

Laut Arafuru selama ini menjadi surga penangkapan ikan, sehingga nelayan tradisional asal Maluku sering lupa akan keselamatannya dan banyak kejadian nelayan hanyut hingga perairan Australia. “Banyak nelayan asal Maluku yang dideportasi dari Australia, karena kelalaiannya,” ujarnya.

Badan Meteorologi setempat juga memprediksi gelombang laut mencapai 2,50 meter berpeluang terjadi di Perairan Kepulauan Babar-KepulauanTanimbar, Laut Banda, Perairan Selatan Kepulauan Kei dan Laut Maluku bagian Utara.

Sedangkan, angin kencang lebih dari 30 KM per jam berpeluang terjadi di Kota Ambon maupun Tual, serta Kabupaten Buru maupun Buru Selatan, Seram Bagian Barat, Seram Bagian Timur, Maluku Tenggara, Kepulauan Tanimbar maupun Maluku Barat Daya.

Sem meminta imbauan tentang cuaca buruk juga wajib disampaikan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), termasuk kepala daerah di Provinsi Maluku.

“Jika cuaca ekstrem, Kepala Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Kelas 1 Ambon berwenang tidak memberikan izin berlayar. Jika perlu, aktivitas pelayaran sementara ditutup sambil menunggu laporan perkembangan cuaca terbaru,” katanya.

Sem meminta semua pihak memahami aturan yang diberikan, jika terjadi penundaan dan keterlambatan jadwal keberangkatan kapal laut akibat faktor cuaca buruk, karena pertimbangan perlunya memprioritaskan keselamatan.(dh/int)

iklan usi