News

Bupati: Tak Boleh Ada Tempat Maksiat, Titik!

FaseBerita.ID – Mendapat laporan adanya warung yang diamuk masyarakat di Kelurahan Sibuluan Nauli, Kecamatan Pandan, Bupati Tapanuli Tengah (Tapteng) langsung turun meninjau lokasi. “Tadi pagi kita dapat laporan sekitar jam 10 bahwa ada masyarakat yang datang ke sini ke tempat kafe-kafe ya, yang modusnya menjual tuak tapi masyarakat melihat ada wanita-wanita, videonya ada. Dan itu sudah jam larut malam, jam setengah 3,” ujar Bupati Tapteng Bakhtiar Ahmad Sibarani, Selasa (26/5).

Setelah melakukan pengecekan, Bakhtiar menuturkan bahwa lokasi tersebut telah beberapa kali ditutup namun buka lagi. “Dan setelah kami cek, ini orang sudah berapa kali tempatnya dibongkar, dan kedua ini belakangan yang bermasalah sama Satpol PP, dan ini orang sudah pernah saya beri modal untuk usaha halal, tetap juga seperti itu,” ucapnya.

Baca sebelumnya: Warung Tuak di Obrak Abrik Sekelompok Pemuda di Tapteng

“Jadi jangan salahkan masyarakat, masyarakat sudah mengingatkan, jam tengah 3 pagi subuh, sudah ada lagi seperti ini. Jadi sudah terus diimbau, jangan jadi contoh bagi masyarakat begini,” sebutnya.

Meski demikian, Bakhtiar meminta agar masyarakat tidak melakukan tindakan yang melanggar hukum. Dan bila menemukan hal serupa kiranya bisa membuat laporan ke pihak berwajib mau pun Pemkab Tapteng. “Dan masyarakat juga kami minta jangan main hakim sendiri, silahkan laporkan ke pihak berwajib atau ke kami,” harapnya.

“Dan yang punya usaha seperti ini, kami akan minta polisi diproses, perempuan-perempuan yang ada di foto itu kalau itu sempat dari luar kota, ini sekarang kita lagi di suasana Covid, ini juga akan dicek, kenapa dia bawa-bawa orang seperti ini. Kita akan cek KTP-KTP-nya semua, saya sudah panggi lurah, satpol PP kita akan razia kos-kosan di sini, kalau memang dia menjual perempuan, dia akan harus ditangkap. Tak boleh ada tempat maksiat di Tapanuli Tengah, titik,” tegas Bakhtiar.

Menurutnya, tindakan masyarakat itu dipicu oleh kejenuhan memberi teguran. Begitupun, menurut Bakhtiar cara masyarakat saat itu memang salah dengan main hakim sendiri.

“Masyarakat mungkin sudah jenuh, sudah diingat-ingatkan, datang dan melawan. Sudah jam 3 atau jam 2 masih ada musik-musik dan ada wanita-wanita sudah barang tentu masyarakat marah, tapi cara masyarakat yang salah, harusnya jangan main hakim sendiri,” katanya.

“Dan yang kedua, ini asal dibubarkan selalu melawan, pernah dulu kejadian Satpol PP dikejar, sampai pukul-pukulan, iya kan? Satpol PP balas, dia-dia saja orangnya. Jangan hanya dilihat sepintas masyarakat bertindak, tapi lihat lebih jauh kenapa masyarakat bertindak. Saya yakin polisi bijak, dua-duanya kalau masyarakat salah ya cek di mana kesalahannya,” ucapnya. (dh)

USI