News

Berat Badan hanya 23 Kg, Pelajar SMP Derita Gizi Buruk: Kapan Aku Bisa Sehat Lagi?

FaseBerita.ID – Kisah pilu dialami Ikhsan Marbun(15). Remaja yang duduk di bangku kelas dua SMP Negeri 5 Kota Sibolga ini harus berjuang melawan penyakit yang dialaminya.

Ikhsan lahir pada 16 Maret 2005 dengan keadaan normal, layaknya anak pada umumnya, tanpa ada gejala penyakit gizi buruk seperti yang dialaminya saat ini.

Ia juga tumbuh menjadi remaja seperti anak sesusianya. Namun saat menjajaki usia ke-15 tahun ini, kenyataan pahit harus dijalani Ikhsan dan kedua orang tuanya. Ikhsan divonis tim medis Rumah Sakit H Adam Malik Kota Medan mengidap gizi buruk.

Penyakit itu sudah dua bulan ia derita. Kini tubuhnya sangat kurus dan memprihatinkan. Bahkan berat badannya kini hanya 23 kilogram. Dua bulan lalu ia sempat dirawat di RSU Dr FL Tobing Kota Sibolga. Namun untuk penangan lebih lanjut, rumah sakit di Kota Sibolga itu merujuk Ikhsan ke Rumah Sakit H Adam Malik Medan.

Di sana, keadaan Ikhsan mulai membaik, namun karena keterbatasan ekonomi kedua orang tuanya, Ikshan terpaksa dibawa pulang empat hari menjelang Ramadhan 1441 lalu.

Keinganan kuat kedua orang tuanya ingin tetap bertahan menunggu keadaan ikhsan membaik seakan sirna akibat keterbatasan biaya hidup selama di Medan. Ikhsan dan kedua orangtuanya pun harus pulang demi menghidupi ketiga saudaranya lainnya yang masih duduk di bangku sekolah.

Ikhsan Marbun, merupakan putra ketiga dari empat bersaudara buah hati pasangan Yusran Marbun. Saat dikunjung wartawan media ini pada Sabtu (16/5) sore di Jalan Ketapang, Gang Kerinci, Lingkungan V, Kelurahan Simare-mare, Sibolga Utara, Ikhsan hanya bisa terbaring sambil meneteskan air mata.

“Kapannya aku bisa sehat lagi? Sudah capek aku yang sakit itu, bisanya aku lagi sehat seperti yang kemarin lagi? Pingin aku bermain dengan teman-temanku,” ucap Ikhsan seraya meneteskan air mata.

Ikhsan tidak terlalu banyak berkata. Sesekali ia mengerang kesakitan. “Nafas terasa sesak, paru-paru saya sakit. Seluruh tubuh ini sakit semua bang,” ungkapnya.

Meski hanya bisa berbaring, Ikhsan tidak lupa menyampaikan harapan agar ia dapat diperhatikan Pemerintah Kota Sibolga.

“Indak bisa lai mbo berbuat apo-apo bang, yang ambo harapkan uluran tangan dari urang lain dan perhatian pemerintah mangurangi beban keluarga ambo serta doa, dukungan dan semangat (Tidak ada yang bisa saya perbuat apa-apa bang, selain mengharapkan bantuan uluran tangan dari orang lain dan pemerintah untuk mengurangi beban keluarga serta doa dukungan dan semangat,” tukasnya dengan mata berkaca-kaca.

Sementara itu Yusran Marbun, ayah Ikhsan mengatakan kepada wartawan media ini bahwa penyakit yang diderita putranya adalah gizi buruk. Hal itu mereka ketahui setelah mendapat penjelasan dari pihak Rumah Sakit H Adam Malik Medan. Disebutkan, penyakit gizi buruk yang diderita Ikhsan menyebabkan terjadinya bocor lambung dan paru batu.

“Kami terpaksa pulang karena sudah tidak ada lagi untuk biaya hidup di Rumah Sakit H Adammalik Medan. Keterbatasan ekonomilah yang memaksa kami ingin pulang. Sementara pekerjaanku hanya parbetornya, kalau tidak dibantu istri sebagai pembantu rumah tangga, mungkin keadan kehidupan sehari-hari kami tidak tertopang,” ujarnya.

Lanjutnya, sebenarnya penyakit yang diderita oleh Ikhsan sudah kurang lebih selam tiga bulan. Sebelum masuk rumah sakit, ikhsan kerap mengeluhkan sesak nafas dan sakit di bagian dada.

“Atas keluhan yang dirasakan anak saya tersebut, kami langsung membawa ke Rumah Sakit Dr FL Tobing dan dirawat selama kurang lebih satu bulan di sana.”

Lanjutnya, selama perawatan sana, penyakit Ikhsan tidak kunjung membaik. Sehingga rumah sakit pun merujuk Ikhsan ke RS H Adam Malik Medan. Menjalani perawatan selama satu bulan di Medan, keadaan putranya itu sempat berangsur pulih. Namun karena keterbatasan ekonomi, Yusran kemudian membawa anaknya pulang.

Setelah pulang, kondisi Ikhsan terus memburuk. “Bahkan berat badannya kini tinggal 23 kilorgram. Kalau makannya, sejauh ini tidak ada masalah, minumnya juga selalu kita jaga dengan memberikan air mineral dan susu. Namun beginilah keadaanya, semakin kurus,” ucapnya.

Yusran yang sehari-hari bekerja sebagai tukang becak itu mengaku sudah tidak mampu lagi membawa Ikhsan berobat, lantaran kekurangan biaya.

“Sejauh ini kami juga merasa terbantu dengan adanya BPJS, namun untuk biaya kehidupan selama di sana, kami tidak sanggup,” keluhnya.

“Ampun, saya tak sanggup lagi. Makanya saya curahkan kondisi yang saya alami ini ke sosial media. Siapa tau ada yang terbuka pintu hatinya mau membantu, belum lagi semua anak saya sekolah,” sebut Yusran. (tam)