News

Bayar Pesangon Tak Sesuai Aturan, Karyawan Tempuh Jalur Hukum

FaseBerita.ID – Karyawan CV Teman Setia yang bergerak di bidang expedisi (pengangkutan) yang beralamatkan di Dusun VI, Desa Sidomulyo, Kecamatan Pulo Bandring, Kabupaten Asahan, memilih akan menempuh jalur hukum atas pembayaran pesangon yang tidak sesuai aturan ketenagakerjaan.

Adapun karyawan tersebut adalah Jemi dengan jabatan Staf (Kepala Keuangan) saat ditemui wartawan, Senin (20/4) didampingi kuasa hukumnya M Idris Tanjung.

Jemi menceritakan bahwa pada tanggal 20 Maret 2020 bolak balik menerima telepon yang pengakuannya dari pihak bank. Merasa telepon tersebut mengganggu pekerjaan, Jemi menggantungkan telepon tersebut.

Karena menggantungkan telepon kantor, Jemi dianggap telah merugikan perusahaan yang disebabkan para customer tidak bisa menghubungi perusahaan.

“Tanggal 24 Maret sore saya dapat telepon dari kantor bahwa saya dipinta untuk menghadap Kak Achin (Istri Komisaris) di rumahnya. Kemudian saya datang ke rumah komisaris yang berada di Jalan Sisingamangaraja Kisaran. Terus Kak Achin bilang sama saya bahwa mulai besoknya saya tidak usah masuk kerja lagi,” kata Jemi.

Lanjut Jemi, pada tanggal 26 Maret Jemi telpon kantor untuk mengambil uang SPTS (Serikat Pekerja Teman Setia).

“Hari yang sama pas sorenya saya datang ke perusahaan mengambil uang SPTS melalui Humas dan diberikan surat rekomendasi BPJS tenaga kerja. Setalah mau pulang saya dikejar oleh anggota Humas untuk menandatangani surat. Saya baca surat itu, ternyata surat pengunduran diri namun karena bingung saya tanda tangani saja,” ungkap Jemi.

Dari itu Jemi merasa dirugikan oleh perusahaan, pasalnya Jemi yang selama ini menerima gaji senilai Rp7,5 juta dan telah mengabdi kepada CV Teman Setia selama 13 tahun itu hanya menerima pesangon senilai Rp23 Juta sehingga Jemi menuntut persoalan ini dengan meminta bantuan penasehat hukum.

Kuasa Hukum Jemi M Idris Tanjung SH mengungkapkan bahwa ada dugaan pemaksaan pengunduran diri yang dilakukan oleh perusahaan CV Teman Setia kepada Jemi.

“Dugaan ini dapat kami nilai karena seharusnya surat pengunduran diri dibuat satu bulan sebelum berhenti kerja. Kemudian kami menduga adanya rekayasa dalam pengunduran diri Jemi,” kata Idris Tanjung.

Idris Tanjung menerangkan, bahwa berdasarkan Undang-undang Ketenagakerjaan nomor 13 tahun 2003 pasal (156) Jemi seharusnya menerima pesangon senilai Rp. 115.125.000 bukan Rp 23.000.000.

Selanjutnya Humas CV Teman Setia Robinson Perangin-angin saat dikonfirmasi melalui selulernya, Selasa (21/4) mengaku kurang mengetahui bahwa Jemi ada panggilan ke rumah Komisaris CV Teman Setia.

Namun Robinson mengakui adanya tanda tangan surat pengunduran diri Jemi.

“Memang surat pengunduran diri Jemi kami yang membuat, tapi kan sudah di (Jemi,red) tanda tangani tanpa ada paksaan. Di surat itu kan sudah jelas tertulis bahwa tidak ada paksaan,” pungasnya. (bay/rah)