News

Bangunan PAUD Desa Aek Garut Terbengkalai: Dibangun dari Program Dana Desa

FaseBerita.ID – Sudah lebih dari 3 tahun, bangunan atapun sekolah PAUD yang terletak di Desa Aek Garut Kecamatan Pandan, Tapanuli Tengah tidak difungsikan lagi. Padahal bangunan ini termasuk program dari dana desa yang dikeluarkan pemerintah tahun anggaran 2015 dengan nilai sebesar Rp256.975.000. Akan tetapi hingga saat ini, sekolah ini ditutup dan tampak terbengkalai.

Warga setempat mengaku, anak-anak di kampung itu perlu sarana pendidikan yang baik dalam menunjang motivasi usia dini. Karena sekolah tersebut tidak difungsikan lagi, warga memilih untuk menyekolahkan anak-anak mereka keluar desa.

“Sudah lebih satu tahun tidak dibuka sekolahnya. Kami tidak tahu apa sebabnya. Yang saya dengar bahwa sekolah ini tak ada gurunya, makannya masyarakat di sini pergi menyekolahkan anak mereka keluar sana.” ucap Bu Hutagalung, warga Desa Aek Garut. Kamis, (4/3) lalu.

Program pendidikan anak usia dini, pemerintah telah mengatur dalam UU No 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Bab 1, Pasal 1, Butir 14 dinyatakan bahwa ‚ÄĚPendidikan Anak Usia Dini adalah suatu upaya pembinaan yang ditujukan kepada anak sejak lahir sampai dengan usia 6 tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani, agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut”.

Namun harapan itu tidak dapat diterapkan, mengingat masa pandemi Covid-19 tak kunjung berakhir, anak-anak sekolah secara keseluruhan diliburkan untuk sementara waktu. Namun untuk PAUD di desa ini, sudah ditutup sebelum masa Pandemi Covid-19, sehingga bangunan itu semakin usang dan tidak terawat. “Karena sudah lama dibiarkan, tentu bangunan itu semakin usang dan kotor, dan kami tak tahu entah kapan dibuka lagi, padahal anak-anak di sini banyak yang mau sekolah, ” lanjut Bu Hutagalung.

Parahnya, lokasi PAUD tersebut bersebelahan dengan kantor Kepala Desa Aek Garut, sehingga warga menduga, bangungan yang menghabiskan dana ratusan juta itu seolah-olah dibiarkan saja tanpa perawatan khusus dari pemerintah setempat.

“Depan ini kantor kepala desa, sekolah itu pas di belakangnya, pegawai kantor sekarang sedang istirahat siang, nanti coba tanyakan pada mereka, mungkin Bu Kades sebentar lagi datang,” pungkasnya.

Menanggapi persoalan itu, Kepala Lingkungan Dusun II Aek Garut Herman Harefa mengungkapkan, dirinya telah mengusulkan kepada kepala desa, agar sarana sekolah itu dapat diaktifkan kembali seperti sedia kala, guna memberikan pendidikan yang baik di wilayah Aek Garut.

“Kami sudah usulkan itu kepada Ibu Kades, mudah-mudahan rencana itu bisa terlaksana secepatnya, karena anak-anak di sini kan banyak yang mau sekolah, tentu orang tua mereka setuju jika sekolah itu difungsikan lagi. Kemudian guru untuk mengajar sudah ada, dan kita tak perlu khawatir lagi,” kata Herman.

Dari pantauan awak media, bangunan itu memang sungguh tidak terawat, semua area sekolah sudah tampak terbengkalai. Sementara bangunan kamar mandinya juga bersumber dari dana desa yang dikeluarkan pemerintah tahun anggaran 2018 sebesar Rp53.525.000 yang ditandatangani oleh eks Kepala Desa Sutan Budiharto Sitompul. (hp/fabe)