News

Andre Juga Meninggal Usai Disuntik, Sebulan Sebelum Kasus Gisen Terjadi

SIBOLGA, FaseBerita.ID – Setelah viralnya berita Gisen Rezeki Pratama Pasaribu (17), pasien Rumah Sakit Umum (RSU) FL Tobing Sibolga yang diduga meninggal beberapa menit setelah petugas medis menyuntikkan cairan ke dalam infusnya, kini mencuat korban “suntikan maut” lainnya.

Adalah Andre Frankenstein Sitinjak (16) warga Panomboman, Kelurahan Sibolga Ilir, Sibolga Utara yang menjadi korban. Menurut keterangan keluarganya, Andre meninggal sebulan sebelum Gisen. Tepatnya, pada 25 Mei 2019.

Kronologis kejadiannya sangat mirip. Beberapa menit sebelum disuntik, kondisi pasien sangat sehat dan tidak tampak seperti orang yang sedang sakit. Andre meninggal setelah petugas medis rumah sakit menyuntiknya.

Orangtua korban, Tuppal Sitinjak (48) dan istrinya Boru Situmeang ketika ditemui wartawan di rumahnya mengaku shock setelah mendengar kabar kematian Gisen. Mereka terbayang dengan kejadian yang juga mereka alami terhadap buah hati mereka Andre yang masih duduk di Kelas XI SMAN 1 Sibolga.

Berawal dari cek kesehatan yang mereka jalani, hingga akhirnya, petugas medis rumah sakit pemerintah tersebut memvonis anaknya mengidap TBC.

“Sekitar sebulan lalu, tanggal 24 Mei 2019 Kami membawa Andre ke rumah sakit Sibolga untuk menjalani perawatan, sekira pukul 06.00 WIB. Setibanya di rumah sakit, perawat mengambil sempel darah untuk diperiksa di laboratorium. Kemudian perawat menyatakan Andre mengidap penyakit TBC dan kemudian menyuntik di bagian tangan korban. Waktu itu dibilang perawatnya, yang disuntik itu adalah untuk mengetahui penyakit anak saya. Kalau dalam dua hari ada pembengkakan, berarti anak saya kena TBC. Tapi, tetap tidak ada bengkak dan anak saya sehat-sehat saja,” kata Tumpal di kediamannya.

Keesokan harinya, Sabtu (25/6) sekira pukul 14.00 WIB, kondisi Andre masih baik-baik saja. Bahkan, Andre masih sempat mengajak ayah dan ibunya keluar ruang rawat untuk jalan-jalan dan melepas kejenuhannya selama menjalani perawatan. “Setelah itu, kami duduk di depan pintu, tempatnya (Andre) dirawat, sambil chatingan dengan kawan-kawannya,” terangnya.

Saat itu, Andre mengatakan kalau teman-temannya mau datang menjenguknya. “Keadaanya sehat-sehat, tak ada perubahan, seperti biasanya selama ini,” ungkap Tumpal.

Sekira pukul 17.00 WIB, perawat datang dan mengajak korban masuk ke ruangan untuk disuntik. Andre kemudian ikut dan naik ke tempat tidur, tempatnya dirawat. Usai menyuntik, perawat yang tidak diketahui namanya tersebut pun keluar. Melihat proses penyuntikan telah selesai, istrinya masuk untuk.melihat kondisi anaknya. Sontak istrinya kaget saat melihat Andre sudah tidak bergerak lagi.

“Setelah disuntik, perawat itu keluar dan istri saya pun masuk melihat anak kami itu di tempat tidur. Dilihatnya nggak bergerak lagi, dibangunkan gak bangun. Pak lihat dulu anak kita ini. Kenapa dia gak bergerak lagi kata mamaknya. Akupun masuk dan membangunkannya, tapi tetap tidak bergerak lagi,” jelasnya.

Melihat Andre tak lagi bergerak, dia dan istrinya menjerit minta tolong kepada petugas medis. Setelah diperiksa, petugas menyatakan Andre sudah tiada. “Dibilang perawatnya sudah meninggal karena penyakitnya. Sementara anakku itu tadinya sehat sekali, tapi begitu disuntik langsung meninggal,” ketusnya.

Di tengah duka keduanya, pihak rumah sakit langsung mengarahkan mereka untuk membawa pulang jenazah Andre. “Pihak rumah sakit menyarankan kami untuk membawa pulang anak saya, tanpa ada proses apapun lagi,” pungkasnya.

Baca juga: Viral, Pasien RSU FL Tobing Meninggal Setelah Disuntik

Tumpal menduga, kematian anaknya dan juga Gisen merupakan korban dari kecerobohan pihak rumah sakit. “Saya menduga ini ada kesengajaan atau kecerobohan pihak rumah sakit. Karena dalam sebulan ini sudah dua orang yang meninggal setelah disuntik. Sebelumnya kami tidak bisa berbuat apa-apa, karena kami dirundung duka. Tapi setelah dengar kejadian Gisen, kami sangat curiga dengan pelayanan RSU Sibolga ini,” ketusnya.

Dia berharap, Pemerintah mengusut dan mengevaluasi sistem penanganan pasien di rumah sakit tersebut. Jangan sampai ada Andre dan Gisen lainnya. “Kami berharap agar pihak RSU FL Tobing Sibolga dievaluasi. Perlu penataan ulang para perwat maupun dokternya. Cukuplah korban yang dua ini, jangan ada korban lain yang mengalami hal yang sama. Kematian anak kami itu tidak wajar, terus terang kami tidak terima kejadian ini,” tegas Tumpal.

Belum diperoleh informasi terkait kematian Andre dari pihak Rumah Sakit FL Tobing. Elvino, Humas rumah sakit yang dihubungi via teleponnya belum berhasil dihubungi. Meski nada masuk, namun telepon tidak diangkat. Pesan singkat yang dikirim lewat layanan WhatsApp juga belum berbalas. (ril)

USI