News

Anak Usia 3 Tahun Kena Pukul, Humas TPL Resmi Dipolisikan

SIMALUNGUN, FaseBerita.ID – Marudut Ambarita (31) warga Dusun IV Aek Batu, Nagori Sihaporas, Kecamatan Pamatang Sidamanik terpaksa menempuh jalur hukum mendatangi Polres Simalungun guna melaporkan Humas Toba Pulp Lestari (TPL) Bahara Sibuea, Selasa (17/9/2019) sekira Pukul 17.00 WIB.

Pasalnya, Marudut Ambarita sangat keberatan atas perbuatan terlapor Bahara Sibuea yang telah melakukan penganiayaan terhadap dirinya.

Paling sadis, pemukulan itu juga terhadap anak di bawah umur, MT, anak kandung Marudut Ambarita yang masih berusia 3 tahun dianiaya dengan menggunakan kayu sampai pingsan.

Saat diwawancarai awak media ini di sela-sela membuat laporan pengaduan, Marudut Ambarita menerangkan kejadian penganiayaan itu terjadi di lahan perladangan sekira 300 meter dari rumah korban, Senin (16/9/2019) sekira Pukul 11.30 WIB.

Diterangkannya, bahwa di Sihaporas itu ada tanah adat Lembaga Adat Ompu Mamontang Laut Ambarita Sihaporas (Lamtoras), di lahan itu mereka menanam jagung sekitar 1 hektar. Bahkan Lembaga adat lamtoras itu sudah lama memperjuangan tanah opung mereka sejak tahun 1998.

“Jadi kami menanami jagung di lokasi tiba-tiba Humas TPL beserta 10 anggotanya menyerang saya pas menanam jagung dia memukul saya dan mengeroyok saya. Ketepatan anak saya di belakang saya, sampai terkena dipukul dengan kayu hingga terkapar pingsan, saya melarikannya ke Puskesmas terdekat,” ujarnya.

Lanjut Marudut Ambarita mengatakan, anaknya tidak dibawa kerumahnya lantaran Marudut takut kenapa-kenapa karena istrinya Verawaty Silalahi baru melahirkan.

Marudut Ambarita berharap kepada penegak hukum agar kejahatan kepada dirinya dan terhadap anaknya Mario Teguh Ambarita yang mengalami luka lebam ditubuhnya dapat diproses sesuai hukum yang berlaku.

“Kami masyarakat kecil, saya nggak terima anak saya kena pukul pake kayu sampai terkapar pingsan, sampai tadi malam saya tidak bisa tidur dan mau muntah. Harapan Polres Simalungun dapat bertindak secara tegas menangkap pelaku dan menghukum pelaku sesuai hukum yang berlaku,” harapnya.

Sementara Aliansi Masyarakat Adat Nusantara, Roganda Simanjuntak yang turut mendampinginya kepada awak media ini menuturkan masalahnya bermula hadirnya konsesi TPL di wilayah adat Sihaporas.

“Jadi konsesi TPL itu tidak diketahui oleh warga, tidak ada pemberitahuan dan ijin persetujuan dari warga. Kejadian itu sebetulnya harus dilihat secara utuh bahwa akar persoalan adalah karena hadirnya konsesi TPL tanpa persetujuan warga dan itu namanya perampasan tanah,” sebutnya.

Roganda Simanjuntak sangat menyayangkan perbuatan Humas TPL yang selalu bersikap arogan bahkan melakukan kejahatan terhadap anak dibawah umur.

“Kejadian ini sangat kita sayangkan karena yang menjadi korban pemukulan adalah anak balita, harapan kita Polres Simalungun supaya serius mengusut dan menangkap pelakunya yang melakukan kejahatan terhadap anak dan melanggar undang-undang pelindungan anak,” tegasnya.

Kepala SPKT I Polres Simalungun, Aiptu Wibowo saat ditanyai mengatakan bahwa korban baru saja melakukan visum di RS Rondahaim Raya, selanjutkan akan di Berita Acara pemeriksaan (BAP) di ruang Satreskrim Polres Simalungun.

“Dari SPKT sudah selesai, kemudian korban divisum selanjutkan korban di BAP diruang Idik II Satreskrim Polres Simalungun,” imbuhnya. (mag-05)