News

Aktivis Lingkungan Soroti Peristiwa Keracunan H2S dari Wellpad PT SMGP

FaseBerita.ID – Pengurus DPW SHI Sumatera Utara dan JAMM, Jumat (29/1) menyampaikan rasa berduka saat mengetahui ada masyarakat yang menjadi korban atas aktivitas pelepasan gas H2S dari Wellpad (sumur gas) PT SMGP yang berada di Desa Sibagor Julu, Mandailing Natal (Madina).

“Saya sangat turut berduka atas banyaknya masyatakat yang menjadi korban dan sampai meninggal dunia, bahkan hati saya bergetar marah mengetahui hal tersebut” uangkap Hendra Hasibuan selaku Ketua DPW SHI (Sarekat Hijau Indonesia) Sumatera Utara.

Hendra Hasibuan yang juga Koordinator JAMM (Jaringan Advokasi Masyarakat Marjinal) juga menyampaikan jika ini adalah kesalahan dari sebuah manegamen perusahaan, maka harus ada yang bertanggung jawab. Prinsip dan prosodur keselamatan harus menjadi prioritas dalam melaksanakan aktivitas apapun, apalagi dalam menjalankan aktivitas di dalam sebuah perusahaan, prinsip dan prosudur keselamatan harus yang menjadi salah satu yang paling utama. Saat ini diketahui, Kementerian ESDM telah melakukan penghentiaan sementara aktivitas PLTP Sorik Marapi.

Baca juga:

Operasional Wellpad PT SGMP Timbulkan Suara Bising.. Warga: Harus Minggat, Biar Tenang!

“Langkah yang diambil oleh Kementerian ESDM untuk Hentikan Sementara Aktivitas PLTP Sorik Marapi merupakan langkah baik. Namun, tetap saja harus ada yang menanggungjawapi atas musibah yang di alami oleh masyarakat dan bahkan masyarakat yang meninggal dunia. Insiden atau kejadian ini harus menjadi pelajaran berharga bagi setiap perusahaan-perusahaan lain yang ada di wilayah Tapanuli Bagian Selatan, Khususnya di Kabupaten Mandailing Natal, sebab kita tidak ingin kehadiran perusahaan menjadi bencana bagi masyarakat.”

Hendra juga berharap agar secepatnya semua pihak membentuk Team Independen untuk melakukan investigasi dan penelitian untuk melihat secara real dan fakta, apa sebenarnya yang terjadi hingga mengakibatkan adanya korban yang menghilangkan nyawa manusia.

“Kita mendesak agar kiranya dibentuk team independen untuk menginvestigasi dan meneliti apa sebenarnyanyang terjadi sehingga menghilangkan nyawa manusia. Team Independen ini diharapkan berasal dari masyarakat sipil yang memeiliki kridibel dan integritas dalam masalah ini, dimana sebagai Pelindung dan penerima laporan hasil investigasi dan penelitian adalah Pemerintahan Daerah, Penegak Hukum, dan Kementerian ESDM, yang tujuannyankedepan agar dapat mengambil langkah dan kebijakan atas kejadian ini.” Harap Hendra Hasibuan.

Baca: Demo, Mahasiswa Ancam Bakar Kantor SMGP

Di samping itu, Hendra Hasibuan yang juga dikenal sebagai Aktivis yang berkonsentrasi dibidang lingkungan, kehutanan dan pemberdayaan masyarakat, mendesak setiap perusahaan agar mengevaluasi kinierjanya dan keberadaan aktivitasnya disetiap daerah. Setiap perusahaan yang hadir untuk melakukan aktivitasnya, sering kali mengalami kelalaian kecelakaan kerja, penyerobotan lahan, berkonflik bersama warga setempat, timbulnya kondisi kerja yang tidak aman dari keadaan lapangan yang berbahaya, dan tindakan kerja yang tidak aman serta mengabaikan prinsip-prinsip keselamatan.

“Kita mendesak setiap perusahaan agar mengevaluasi kinerja dan keberadaannya disetiap daerah, sebab kita tidak ingin menyaksikan dan melihar kejadian-kejadian seperti yang dialami oleh masyarakat Sibanghor Julu kedepannya. Di evaluasi kinerja dan keberadaannya inilah diperlukan transparansi kepada publik, agar semua pihak mengetahui apa dan bagaimana sebenarmya kinerja dan status sebuah perusahaan tersebut,” desaknya.

Terakhir, Hendra Hasibuan mengingatkan kembali semua perusahaan yang ada, agar selalu mengedepankan azas ‘Salus Populi Suprema Lex Esto’ atau keselamatan rakyat adalah hukum tertinggi.

“Kita bukan anti pembangunanan dan anti investasi. Namun pembangunan dan investasi janganlah menjadi bencana bagi rakyat, tapi harus menjadi berkah bagi rakyat. Makanya, setiap pihak khususnya perusahaan harus selalu mengedepankan azas ‘Salus Populi Suprema Lex Esto’ atau keselamatan rakyat adalah hukum tertinggi.” terang Hendra Hasibuan.

Senada, Wasekjend DPP KNPI Ahmad Maskuri juga menyampaikan rasa duka.

Ia menduga ada unsur kelalaian yang mengakibatkan gas diduga jenis H2S menyebar ke udara yang membuat masyarakat terdampak dan menelan korban jiwa.

“Kami berharap ada tim yang independen, kami juga berharap saat ini kepada pihak kepolisian untuk betul-betul mengungkap hasil penyelidikan, dan pemerintah daerah segera mengambil langkah-langkah prepentif guna memenimalisir dampak yang lebih luas” jelasnya.

Terkait kejadian ini DPP KNPI melaui Wasekjend akan segera melakukan kordinasi dengan Kementerian ESDM dan Komisi VII DPR-RI agar bencana yang disebabkan PT SMGP menjadi perhatian serius. Tidak menjadi peristiwa yang berulang.

Menukil buletin keselamatan kerja dari Worksafe Alberta. H2S merupakan senyawa gas Hidrogen Sulfida, yang berbau lebih buruk dari telur busuk dan tak berwarna. Dalam konsentrasi tinggi hingga 1000 Ppm lebih, zat ini sangat mematikan.

Penyintas yang selamat dari paparan hidrogen sulfida yang serius (konsentrasi di atas 500 ppm) dapat pulih sepenuhnya atau menderita efek kesehatan jangka panjang. Dalam beberapa kasus, bisa terdapat efek sistem saraf permanen, seperti kelelahan, kecemasan, mudah tersinggung, serta gangguan belajar dan memori.

Beberapa efek ini mungkin disebabkan oleh kurangnya oksigen yang mencapai otak selama paparan hidrogen sulfida yang parah. (san/fabe)