News

4 Hari Lumba-lumba Dibiarkan Membangkai

Akhirnya Dikubur di Pantai Muara Upu

TAPSEL,FaseBerita.ID- Bangkai satu ekor lumba-lumba yang ditemukan terdampar di pinggir Pantai Desa Muara Upu, Kecamatan Muara Batang Toru, Kabupaten Tapanuli Selatan (Tapsel), pada Jumat (19/3) lalu. Dan, akhirnya baru dikubur, Senin (22/3).

“Bangkai lumba-lumba rupanya tidak tertanam, dan masih dibiarkan begitu saja. Karena warga takut mengambil tindakan,” kata Kepala Desa Muara Upu Husnul Amir Harahap, Selasa (23/3).

Husnul mengatakan, sejak ditemukan pada hari Jumat itu, sudah empat hari bangkai lumba-lumba dibiarkan begitu saja.

“Makanya kita koordinasikan dengan BKSDA di Sipirok, dan mereka merespon lalu bangkai lumba-lumba ditanam,” ujar Husnul.

Kepala Seksi Wilayah V BBKSDA Sumatera Utara di Sipirok Refdi Azmi menyampaikan, pihaknya mendapat informasi ada penemuan bangkai satu ekor lumba-lumba di Pantai Desa Muara Upu. Setelah berkoordinasi, pihaknya langsung menuju lokasi untuk melakukan pengecekan.

“Diperkirakan pada Jumat 19 Maret 2021 ada terjadi badai dan gelombang pasang besar. Dan itu yang menjadi penyebab satu ekor lumba-lumba sampai terdampar di pantai,” ujar Refdi.

Refdi mengatakan, saat ditemukan kondisi bangkai satu ekor lumba-lumba masih berada di pinggir pantai dan tertumpuk bersama sampah. “Panjang bangkai lumba-lumba yang ditemukan 120 centimeter dan berat 30 kilogram,” ucap Refdi.

Kemudian disaksikan Kepala Desa setempat, bangkai lumba-lumba tersebut dikubur di sekitar pantai, tidak jauh dari tempat ditemukan. “Untuk Luka tidak ada, tapi kulit terkelupas karena sudah membusuk dan dimakan binatang lain,” kata Refdi.

Sebelumnya, seekor lumba-lumba ditemukan warga dalam kondisi mati dan terdampar di Pantai Desa Muara Upu, Kecamatan Muara Batang Toru, Kabupaten Tapanuli Selatan (Tapsel).

Kepala Desa Muara Upu Husnul Amir Harahap mengatakan, saat ditemukan kondisi ikan yang masuk golongan mamalia ini sudah dalam keadaan mati di pinggir pantai.

Husnul menduga, kematian lumba-lumba tersebut akibat hendak memakan ikan-ikan kecil dan berada terlalu dekat dengan pinggir pantai. Sehingga, terbawa arus ombak ke pinggir pantai dan tidak bisa kembali ke tengah.

“Perkiraan saya karena terbawa ombak hingga ke pinggir pantai, dan tidak bisa kembali lagi. Biasanya lumba-lumba ini hendak memakan ikan-ikan kecil dan mengejarnya,” ujar Husnul.

Husnul menceritakan, sebelum lumba-lumba yang mati itu ditemukan, Jumat (19/3) pukul 11.00 wib, ia sempat menyaksikan ribuan lumba-lumba berada di dekat pantai. Kondisinya, ada yang di bagian tengah dan pinggir laut.

Husnul mengatakan, pemandangan tersebut sangat langka dan jarang terjadi. Karena, hampir semua pandangan di sekitar pantai dipenuhi dengan lumba-lumba.

“Kalau penampakan lumba-lumba sebanyak yang kemarin itu sangat jarang terjadi. Jumlahnya mungkin ribuan, karena banyak sekali kelihatan di pinggir sampai ke tengah,” kata Husnul.

Husnul menjelaskan, dia dan masyarakat lainnya sering menyaksikan lumba-lumba ketika sedang mencari ikan di laut.

“Kalau sebanyak kemarin, baru kali ini. Dan biasanya sering jumpa di tengah laut. Dan jarang sampai ke pinggir laut,” ungkap Husnul.

Husnul menyebut, Desa Muara Upu adalah satu-satunya desa di wilayah Kabupaten Tapanuli Selatan yang berada di Pesisir Pantai Barat Sumatera Utara. Desa itu, memiliki garis pantai sepanjang lebih kurang 19 kilometer.

Selain keindahan pemandangan dan lautnya, pantai di Desa Muara Upu juga dikenal sebagai tempat bertelurnya banyak jenis penyu. Dan salah satunya, jenis Penyu Belimbing yang dikenal langka.

Namun sayangnya, keindahan alam yang bisa menjadi potensi wisata di desa tersebut, tidak didukung dengan infrastruktur yang baik. (san/fabe)