News

2 Penambang Tewas di Madina, Tidak Ada Tanda-tanda Kekerasan

FaseBerita.ID – Penyebab kematian dua penambang asal Provinsi Banten di dalam lubang tambang ilegal di lokasi Panatapan Aek Sarahan Desa Hutabargot Nauli, Kecamatan Hutabargot, Madina, belum menemui titik terang.

Dari informasi yang diperoleh dari pihak RSUD Panyabungan, kedua korban tidak ada yang divisum oleh dokter visum yang bertugas di RSUD Panyabungan.

“Tidak ada korban dibawa ke mari, kapan kejadiannya itu, Selasa ya? Gak ada, memang enggak ada pasien kita dari tambang,” kata sejumlah pegawai yang ada di ruang unit IGD RSUD Panyabungan, Kamis (11/6).

Sebelumnya, Metro Tabagsel terlebih dulu meminta keterangan dari Direktur RSUD Panyabungan, Hj Bidasari MM. “Tidak ada korban dari tambang yang kita visum. Tanyak aja langsung ke pegawai di IGD-nya atau dokternya. Mereka yang jaga siang malam,” kata Bidasari.

Baca sebelumnya: Dua Penambang Emas Tewas Terperangkap dalam Lubang

Sementara Kapolsek Panyabungan AKP Andi Gustawi Lubis yang dikonfirmasi mengenai keterangan apakah korban divisum atau tidak mengatakan bahwa korban divisum.

“Korban divisum tapi visum luar namanya. Visum dengan melihat kondisi tubuh korban apakah ada tanda-tanda kekerasan. Dan kita lihat dari luar memang enggak ada tanda kekerasan. Bukan visum seperti otopsi gitu” kata Andi menanggapi.

Ia mengatakan kedua korban memang tidak ada di bawa ke RSUD Panyabungan. Kalau untuk dugaannya mungkin karena zat asam yang berasal dari dalam lubang.

Sementara, Kanit Reskrim Polsek Panyabungan Ipda Ritonga yang dikonfirmasi terkait penyebab kematian kedua korban juga masih belum bisa memastikan. “Masih penyelidikan, pihak kita masih menunggu hasil visumnya,” kata Kanit saat dihubungi Metro Tabagsel melalui selulernya, Kamis (11/6) siang.

Menurut Ipda Ritoga, setelah melakukan cek ke lokasi Tempat Kejadian Perkara (TKP) bahwa lubang yang dimasuki oleh kedua korban ini terlihat kondisinya sudah lama ditinggal pemilik. Dan, diperkirakan tidak ada aktivitas penambangan di sekitar lokasi lubang sejak beberapa tahun belakangan.

“Kalau di lokasi itu cuma itu lubang, dari lokasi Panatapan ke bawah lagi. Jalannya ke situ juga licin dan banyak semak-semaknya,” katanya.

Saat masuk ke dalam lubang itu memang udaranya sangat panas dirasakan. Apa itu karena zat asam yang berasal dari lubang atau karena hal yang lain-lainnya belum dapat dipastikan.

“Memang udara dalam lubang itu panas. Karena zat asam atau lainnya kurang tahu kita. Pihak Kesehatan lah yang lebih tau akan itu,” ujar Kanit sekaligus menanggapi untuk pemilik tanah dan pemilik lubang yang sebelumnya belum diketahui hingga saat ini.

Sebelumnya, dua penambang emas asal Banten ditemukan tewas di dalam lubang tambang ilegal di Desa Hutabargot Nauli, Kecamatan Hutabargot, Madina. Selasa (9/6).

Kedua korban, U (25) menetap di Desa Lumban Pasir dan J (40) di Istiqomah kelurahan Panyabungan II.

Kedua korban ditemukan pertama kali oleh temannya dari sesama penambang di lokasi penambangan Panatapan Aek Sarahan atau lebih dikenal dengan sebutan lokasi Jambu Orsik Aek Sarahan, Selasa (9/6) sekitar pukul 01.00 WIB dini hari.

Ang dan Eko teman satu kontrakan dari korban J yang berada di Istiqomah Kelurahan Panyabungan II, Kecamatan Panyabungan yang ditemui Metro Tabagsel Rabu (10/6), menceritakan kronologi pencarian hingga sampai akhirnya kedua korban ditemukan di dalam lubang yang sudah ditinggal pemilik beberapa tahun belakangan.

Ang dan Eko warga asal Madura dan Banten mengatakan bahwa korban J pada Sabtu (6/6) lalu berangkat dari kontrakan mau ke lokasi tambang di Panapahan. Lokasi Panapahan ini jaraknya sekitar beberapa kilometer dari penambangan lokasi Jambu Orsik Aek Sarahan tempat kedua korban ditemukan.

“Pamit dari sini (kontrakan) pada Sabtu lalu, mau menggacong katanya di lokasi lubang di Panapahan,” kata kedua teman korban ini.

Karena sudah tiga hari keduanya tak pulang ke kontrakan, mereka merasa khawatir. Apalagi nomor Handphone keduanya tidak bisa dihubungi. Akhirnya, mereka memutuskan untuk naik ke lokasi penambangan, Senin (8/6) sore.

“Kami berempat yang berangkat ke lokasi, ada Halim, satu kontrakan juga di sini. Dari warung yang di bawah itu kami naik ke atas pas habis Maghrib,” kata Eko.

Diceritakan, pertama mereka ke lokasi penambangan di Panapahan namun korban tidak ditemukan. Setelah beberapa jam melakukan pencarian kemudian ada penambang lain bilang kalau melihat kedua korban ke atas ke lokasi Jambu Orsik Aek Sarahan.

Selanjutnya, Ang, Eko dan Halim bersama satu temannya langsung menuju ke lokasi yang dimaksud tersebut. Sampai di lokasi penambangan Jambu Orsik sekitar pukul 01.00 WIB, ada lubang yang sudah dipenuhi semak-semak namun ada tanda-tanda jejak kaki orang. Lubang itu pun kemudian mereka periksa dan ada cahaya lampu dari dalam.

“Kami yakin udah di dalam, si Halim duluan masuk namun enggak tahan dia langsung ke luar. Kira-kira kedalaman lubang ini sekitar 30 sampai 40 meter lah. Karena enggak tahan sama zat asam dari lubang kami kabarin kawan di bawah agar naik bawa mesin gendset juga blower,” cerita Eko dengan raut wajah sedih.

Setelah mendapat kabar, puluhan teman korban lainnya yang sebelumnya menunggu di bawah naik ke lokasi Jambi Orsik dengan membawa mesin gendset dan blower.

“Ada sebanyak dua puluhan lah teman kita yang naik ini. Pas sampai, pasang blower dan hidupin mesinnya, kemudian masuk dalam lubang itu, kita lihat kedua teman kita ini (korban) sudah tergeletak dan tidak bergerak,” terangnya.

“Masuk semua kami ke dalam lubang, kami berbaris di dalam lubang untuk evakuasinya. Korban kami angkat sampai ke luar dari dalam lubang. Seterusnya kedua korban dibawa dengan peralatan seadanya,” ujar Ang dan Eko menceritakan sekaligus menerangkan mereka sampai di bawah pada Selasa (9/6) pagi, sekitar pukul 08.00 WIB. (mag 01/fi)