News

2 Pemilik 134 Kg Ganja di Siantar Dituntut Hukuman Mati

3 Rekannya 20 Tahun

SIANTAR, FaseBerita.ID– Terdakwa AP alias Andi (36) warga Jalan Tambun Timur Gang PJKA, Kelurahan Tambun Nabolon, Kecamatan Siantar Martoba, Kota Siantar dan BH alias Obot (34) warga Jalan Medan Km 7,5 Kelurahan Tambun Nabolon, Kecamatan Siantar Martoba, dituntut jaksa dengan hukuman mati.

Sedangkan tiga rekannya, AIS alias Tupang (54) warga Jalan Medan Km 7,5 Kelurahan Tambun Nabolon, Kecamatan Siantar Martoba, JFP alias Jhon (46) warga Jalan Ahmad Yani Kelurahan Asuhan Kecamatan Siantar Timur, serta ID (26) warga Jalan Tambun Timur Gang PJKA, Kelurahan Tambun Nabolon, Kecamatan Siantar Martoba, dituntut hukuman masing masing 20 tahun penjara.

Jaksa Penuntut Umum (JPU) Christanto SH dan Rahma Hayati Sinaga SH mengatakan kelima terdakwa itu berdasarkan fakta sidang terbukti bersalah melakukan tindak pidana tanpa hak dan melawan hukum melakukan pemufakatan jahat menawarkan untuk dijual, menjual, membeli, menjadi perantara dalam jual beli, menukar, menyerahkan atau menerima narkotika jenis golongan 1 yang beratnya melebihi 1 Kilogram (Kg) atau melebihi 5 batang pohon sesuai melanggar Pasal 114 ayat 2 Jo Pasal 132 UU RI No.35 Tahun 2009 Tentang Narkotika sebagaimana dalam Dakwaan Primair Penuntut Umum.

Hal-hal memberatkan perbuatan para Terdakwa bertentangan dengan Program Pemerintah dalam rangka memberantas segala bentuk peredaran dan penggunaan narkotika serta obat obatan terlarang, meresahkan masyarakat dan merusak generasi muda.

Kronologis penangkapan, menurut Tim JPU Christanto SH dan Rahma Hayati Sinaga SH, terungkap bahwa Selasa (1/10/2019) terdakwa Andi dan Obot bersama Tanjung, Dedek serta Bembeng (ketiganya dalam daftar pencarian orang / DPO) berangkat ke Aceh untuk menjemput narkotika jenis ganja sebanyak 200 Kg atas permintaan Dedi yang berada di Lampung dan rencananya ganja tersebut akan dikirim ke Lampung menggunakan bus.

Kemudian Dedi telah mengirimkan uang sebesar Rp4.000.000 melalui rekening terdakwa Jhon. Selanjutnya terdakwa Andi bersama Obot, Tanjung, Dedek, dan Bembeng berangkat menuju Aceh mengendarai dua unit mobil rental. Setelah sampai di Aceh, terdakwa Andi menemui seorang laki-laki yang tidak dikenalnya dan terdakwa pergi bersama menggunakan mobil sedangkan Obot, Tanjung, Dedek dan Bembeng menunggu di dalam mobil rental yang mereka bawa.

Setiba dirumah laki laki tidak dikenal itu, terdakwa Andi mengambil ganja seberat 200 Kg dari samping rumah dan dimasukkan ke dalam mobil lalu terdakwa Andi kembali menemui Obot, Tanjung, Dedek dan Bembeng. Saat itu Dedi kembali mengirimkan uang kepada terdakwa Andi sebesar Rp1.000.000 melalui rekening sehingga terdakwa Andi bersama Obot, Tanjung, Dedek dan Bembeng kembali ke Kota Siantar membawa ganja tersebut.

Hari Jumat siang sekira pukul 14.00 Wib terdakwa Andi bersama Obot, Tanjung, Dedek dan Bembeng pergi ke rumah terdakwa Tupang kemudian terdakwa Andi bersama Obot dan Dedek mengantarkan ganja tersebut ke rumah Uso (DPO) di Jalan Tambun Timur, Kelurahan Tambun Nabolon, Kecamatan Siantar Martoba, Kota Siantar untuk disimpan selama 3 malam.

Kemudian Dedi kembali mengirimkan uang kepada terdakwa Andi dan teman-temannya sebesar Rp. 600.000 melalui rekening saksi Jhon. Belum ada kepastian dari Dedi kapan ganja tersebut akan dikirim ke Lampung maka terdakwa Andi bersama Obot dan Dedek menyembunyikan ganja tersebut ke sebuah rumah kosong yang terletak tidak jauh dari rumah Uso dengan cara menanam ganja tersebut di dalam tanah.

Berselang tiga hari kemudian terdakwa ketiganya menjual ganja tersebut sebanyak 15 Kg kepada teman terdakwa Tupang dengan harga Rp10.000.000 lalu uang penjualan ganja tersebut dibagi terdakwa Andi kepada saksi Obot sebesar Rp3.000.000 dan Dedek sebesar Rp1.500.000 kemudian sebahagian dari ganja tersebut yaitu 4 Kg dibawa terdakwa Andi pulang dan disimpan di belakang rumah dengan menyuruh terdakwa Irma menanamnya di bawah kolong rumah.

Kemudian pada hari Rabu 23 Oktober 2019 perbuatan terdakwa Andi dan anak buah nya itu diketahui petugas Gabungan BNN yang langsung datang ke tempat tersebut dan melakukan penangkapan terhadap terdakwa Irma, Obot, Tupang dan Jhon sedangkan terdakwa Andi berhasil melarikan diri.

Saat itu Tim Gabungan BNN menemukan barang bukti berupa 4 bungkus paket yang dilakban coklat berisikan daun ganja, 134 bungkus yang dilakban berisikan daun ganja, 2 buah kotak indomie berisikan daun ganja dengan berat keseluruhan 143 Kg berdasarkan Berita Acara Penimbangan dan Penyisihan Barang Bukti yang dikeluarkan Badan Narkotika Nasional Provinsi Sumut (BNNP) Sumut tanggal 25 Oktober 2019.

Selanjutnya keempat terdakwa itu serta barang bukti dibawa ke Kantor BNNK Siantar untuk diproses sesuai ketentuan hukum yang berlaku. Tepat tanggal 8 Nopember 2019 terdakwa Andi ditangkap BNNK Siantar di Jalan Patuan Nagari Gang Kinantan, Kelurahan Baru, Kecamatan Siantar Utara, Kota Siantar.

Sementara itu kelima terdakwa melalui Penasehat Hukum (PH) Prodeo dari Biro Bantuan Hukum (BBH) USI Kota Siantar, Edwin Purba SH mengatakan pihaknya belum  menerima dengan tuntutan hukuman kelima terdakwa tersebut dan akan mengajukan nota pembelaan atau Pledoi tertulis.

Mendengar itu Majelis Hakim ketua Danardono, SH, MH menunda persidangan hingga Minggu depan dengan agenda pembacaaan Pledoi Tertulis kelima terdakwa. (ros)