News

18 Tersangka Kerusuhan Madina Dikirim ke Polda Sumut

FaseBerita.ID – Hingga Rabu (8/7), Kepolisian sudah menetapkan sebanyak 20 orang tersangka dalam aksi demonstrasi yang berujung kericuhan di Mompang Julu Kecamatan Panyabungan Utara, Kabupaten Mandailing Natal (Madina).

Dari 20 orang tersangka tersebut, ada sebanyak 17 orang yang merupakan warga Desa Mompang Julu Kecamatan Panyabungan Utara. Dan, tiga tersangka lainnya masing-masing warga Desa Beringin Jaya dan Desa Torbanua Raja Kecamatan yang sama.

Kapolda Sumut Irjen Pol Martuani Sormin Siregar melalui Kasubbid Penmas AKBP MP Nainggolan dalam rilis pers yang diterima wartawan pada Rabu (8/7), menerangkan kronologis terjadinya aksi unjuk rasa dari keterangan para tersangka.

Menurut keterangan yang diperoleh dari tersangka, kronologis aksi unjuk rasa yang menyebabkan salah satunya mobil kendaaran Dinas Wakapolres Madina terbakar dimulai pada Senin (29/6) sekitar pukul 09.30 WIB pagi.

Awalnya, koordinator aksi AW bersama dengan massa aksi bertemu di warung milik saudara L untuk melakukan pengecekan kesiapan aksi. AL massa aksi lainnya juga saat itu mempersiapkan ban yang nantinya akan dibakar.

Seterusnya, MT yang juga koordinator aksi mempersiapkan alat pengeras suara atau TOA yang dijadikan alat komunikasi dalam aksi yang menyoalkan penyaluran BLT ini dan menuntut agar Kades Mompang Julu Hendri Hasibuan mundur dari jabatannya.

Saat alat kesiapan aksi itu sudah terkumpul, mereka kemudian menuju titik lokasi yakni di badan jalan yang merupakan Jalan Lintas Sumatera (Jalinsum).

Salah seorang massa yakni KI, yang saat ini telah ditetapkan Kepolisian menjadi DPO saat itu melemparkan ban bekas dan menyiramkan bensin yang seterusnya membakarnya. Dan aksi blokade jalan itu pun dimulai.

Sekitar mulai pukul 10.00 WIB, massa aksi memadati lokasi dan kendaraan yang ingin lewat pun sudah tidak dapat melintas dari area tersebut.

Sekitar pukul 11.00 WIB, personel Polres Madina turun dan melakukan pengamanan dengan mendatangi masyarakat dan menghimbau agar membubarkan diri.

Namun, saat itu kordinator aksi AW dan MT dengan menggunakan TOA berorasi yang menyampaikan dan menyakinkan masyarakat (massa aksi) apabila ingin perubahan bahwa Kepala Desa Hendri Hasibuan harus mengundurkan diri dari jabatannya.

Mereka terus berorasi sekaligus juga mengancam bahwa aksi itu tidak akan bubar sekaligus mengatakan kalau itu permintaan masyarakat dan memaksa hari itu juga harus dituntaskan.

Hingga sore hari keputusan mediasi masih buntu. Sehingga membuat personel Polres Madina berusaha mendorong mundur masyarakat agar membubarkan diri.

Dan, saat itu juga AW, sempat mendorong satu orang anggota polisi dan mengatakan kepada massa aksi dengan menggunakan TOA, kalau sudah diserang oleh polisi dan jangan dibiarkan.

Masyarakat pun terpancing dan ada yang mulai melakukan pelemparan ke arah anggota personel polisi. Tak hanya itu, AW juga memprovokasi massa aksi dengan mengatakan agar jangan mau mundur. Sebab, sudah ada contoh di Desa Hutapuli yang Kadesnya mengundurkan diri.

Masyarakat pun semakin beringas dan terus melakukan pelemparan ke mobil Water Canon yang diarahkan polisi.

Masyarakat pun jadinya semakin banyak yang ikut melempari polisi dan polisi juga akhirnya memilih mundur. Saat polisi mundur, massa aksi melampiaskan emosinya dengan membakar satu unit sepeda motor dan dua unit kendaraan roda empat yang salah satunya kendaraan dinas milik Wakapolres Madina.

Berikut kedelapan belas tersangka yang sudah diboyong ke Polda Sumut, antara lain; AW (25), TA (22), MT (25) AS (37), MA (20).

Seterusnya, RH (20), ER (40), AI (20), AN (20), EM (20), MA (37), AH (53), MH (18), AS (19), KA (18), MF (22), MF (25), dan MA (42).

Sementara, untuk dua tersangka yang masih berumur anak-anak yakni IA (16) dan RN (17), keduanya saat ini diamankan di Mapolres Madina. (Mag 01)