News

10 Warga Gang Demak Gugat Tim Gugus Siantar

FaseBerita.ID – Sebanyak 10 warga Gang Demak didampingi kuasa hukumnya dari LBH Pematangsiantar, menggugat Walikota Hefriansyah selaku Ketua GTPP Covid-19 Siantar ke Pengadilan Negeri (PN) Siantar, Senin (29/6).

Gang Demak di Jalan Singosari, Kelurahan Martoba, Siantar Utara sebelumnya pernah diumumkan oleh Gugus Tugas Percepatan Penangan (GTPP) Covid-19 Siantar, sebagai zona merah dan terpapar coronavirus disease (Covid)-19. Warga melalui LBH Pematangsiantar mengajukan gugatan Class Action ke PN Siantar.

Baca juga: Warga Gang Demak Gugat Hefriansyah

“Hari ini kita mendaftarkan gugatan Class Action ke Pengadilan Negeri Siantar leges surat kuasa dan mendaftar gugatan secara online (E Court),” uhar Pengacara LBH Pematangsiantar, Candra Kusuma Pakpahan di kantor PN Siantar.

Pengacara Binaris Situmorang menambahkan, gugatan Class Action didasari warga yang merasa dirugikan oleh pihak GTPP Covid 19 Siantar, dengan tujuan menuntut kerugian materil dan immateril (Moril).

Kerugian material kata Binaris, warga merasa penanganan GTPP buruk sehingga menghalang-halangi mereka dalam menjalankan aktivitas ekonomi. Sementara kerugian immaterial adalah nama baik warga Gang Demak di hadapan masyarakat.

GTPP pernah menyatakan Gang Demak zona merah penyebaran Covid-19. Namun hingga kini tidak melakukan pengumuman secara resmi bahwa warga tidak terpapar Covid-19.

Begitupun, GTPP tidak melakukan pemulihan nama baik atas pengumuman dan identifikasi yang keliru tersebut.

“Sebenarnya nama baik warga sudah sangat dilecehkan karena dituduh terpapar Covid-19. Tapi sejatinya penanganan untuk itu tidak ada, dan setelah diperiksa ternyata negatif Covid-19. Bagi warga lain, mereka sebenarnya sudah tertuduh terpapar Covid-19,” jelasnya.

Sebanyak 10 orang warga Gang Demak yang menjadi korban dan memberi kuasa kepada LBH Pematangsiantar. Ketua RT 002 Gang Demak, Abdul Wahid Katino mengatakan, mayoritas mata pencaharian warga di sana adalah pedagang keliling. Namun, karena dinyatakan Covid-19, dagangan mereka menjadi tidak laku.

“Yang terdampak pedagang keliling sekitar 25 orang. Jualan mereka sekarang payah laku,” ucap pedagang mie balap ini.

Wahid, salah satu warga yang dinyatakan terpapar Covid-19 dari hasil rapid test reaktif oleh GTPP, dibawa dan diisolasi selama 24 hari di rumah sakit. Padahal penyakit asam lambung yang dideritanya sedang kambuh.

Hingga kini, Selasa (30/6), dirinya belum menerima data tertulis terkait positif Covid-19. Namun ia pernah menerima hasil rapid test dan swab test Positif Covid-19 atas nama orang lain.

“Setelah 3 hari di rumah sakit, dapat kiriman WhatsApp (WA) dari kawan, ternyata nama itu Abdul Rahid. Sementara nama saya Abdul Wahid. Kalau benar itu nama saya, tanggal pengambilan swab di surat itu sudah salah,” terangnya.

LBH Pematangsiantar menilai, GTPP Covid 19 tidak memiliki itikad baik melayani warga Gang Demak sesuai UU No 1 Tahun 2020 tentang kebijakan keuangan negara dan stabilitas sistem keuangan untuk  penanganan Covid 19.

Kadis Kesehatan: Biar Tim Hukum yang Menjawab

Sementara Kadis Kesehatan Siantar Ronald Saragih yang juga bagian dari Tim Gugus mengatakan, terkait gugatan warga Gang Demak tersebut akan dijawab oleh tim hukum Pemko Siantar.

Ronald Saragih menerangkan bahwa pihaknya saat ini belum bisa memberikan komentar atau penjelasan apapun terkait hal itu.

“Kalau soal itu (gugatan ke Pemko) ada tim hukum yang menjawabnya. Dan namanya proses hukum, maka harus dilakukan,” ujarnya.

Ditanya apakah Tim Gugus sudah menerima tembusan gugatan tersebut, Ronald mengaku belum ada membaca isi materi gugatan dimaksud.

Sementara Juru Bicara (Jubir) Gugus Siantar, Daniel Siregar mengatakan, hingga saat ini, pihaknya belum ada menerima berkas gugatan dimaksud.

“Belum ada kita terima,” ujarnya singkat. (ros)