Lipsus

Usia 4 Tahun Berceloteh Ingin jadi Camat; Ditertawakan, dan Kini jadi Bupati

Saat masih berusia empat tahun, Chairansyah, ditertawakan seisi rumah karena tiba-tiba berceloteh ingin menjadi camat. Tapi Jumat (1/3), ibundanya, Hj Nuramiah bisa tersenyum bangga, putranya malah sudah jadi bupati.

WAHYU RAMADHAN, Banjarmasin

Deretan karangan bunga berisi ucapan selamat, memadati halaman Gedung Mahligai Pancasila Banjarmasin, Jumat (1/3) siang. Mobil-mobil pribadi hingga mobil dinas dengan berbagai bentuk dan merek, antre memasuki halaman gedung. Menurunkan satu persatu undangan.

Di gedung megah bercorak putih itu, H Ahmad Chairansyah, yang sebelumnya menjabat Wakil Bupati, dilantik oleh Gubernur Kalsel H Sahbirin Noor menjadi Bupati HST (Hulu Sungai Tengah) sisa masa jabatan 2016-2021.

Setelah selama kurang lebih satu tahun, diputuskan menjadi Pelaksana tugas (Plt) Bupati HST, menggantikan Abdul Latif yang menjabat sebagai Bupati sebelumnya.

Di mata keluarga besarnya, Chairansyah, kecil sudah dikenal sebagai anak yang berprestasi. Hal itu terbukti, sejak duduk di bangku Sekolah Dasar (SD) hingga menamatkan Sekolah Menengah Atas (SMA), lelaki kelahiran Birayang 27 September 1953, ini kerap mendapatkan ranking tertinggi di kelasnya.

“Selalu masuk ranking tiga besar, tidak pernah di luar itu,” ungkap sang ibu, Hj Nuramiah yang ditemui Radar Banjarmasin (Jawa Pos Group) di Mahligai Pancasila. Ibu delapan anak, ini juga menilai bahwa Chairansyah memang punya keunggulan dari tujuh saudara-saudarinya. Dia, menurut sang ibu, memiliki otak yang tak hanya pintar. Tapi juga cerdas. Bahkan, hampir tak ada satu pun mata pelajaran yang tak disukainya.

“Sampai-sampai, semasa kecil dia pernah ngomong kalau besar nanti mau jadi Camat. Seisi rumah tertawa. Saya yang melihat tingkahnya, cuma bisa senyum-senyum sendiri sambil mendoakan yang terbaik,” ungkapnya, seraya menambahkan bahwa dirinya tak menyangka, kini anak tertuanya itu menjadi pimpinan tertinggi di Bumi Murakata.

Bergelar Bumi Murakata, yang memiliki makna rakat mufakat seiya sekata, Kabupaten HST terkenal akan kawasan yang memiliki hutan lebat, pegunungan, serta sumberdaya alamnya yang melimpah.

Hal itu pula yang membuat Chairansyah, semasa mudanya gemar menjelajahi tanah kelahirannya itu. Mulai dari mendaki bukit, menjelajahi hutan, serta bercengkrama dengan para penduduk adatnya.

“Terkadang, saya jalan-jalan sendirian. Keluar masuk hutan melihat banyak tumbuh-tumbuhan, atau sekadar ikut masyarakat setempat melihat mereka bagarit (berburu, red),” ungkap Chairansyah, sembari tertawa.

Baginya, dengan menjelajahi hutan mau pun gunung tak hanya memberikan kesenangan. Melainkan juga pelajaran. Ada banyak pengalaman yang dia dapatkan. Mulai dari bersosialisasi dengan masyarakat pedalaman, hingga belajar bagaimana caranya hidup mandiri.

“Yang paling saya sukai itu, saya bisa bertemu dengan hal-hal baru terkait perjalanan saya,” ucap ayah dari M Fathra Khalista dan Putri Maulida, ini.

Sementara itu di mata sang anak, Chairansyah, merupakan sosok orang tua yang gemar berdiskusi. Senang menjadi pendengar sekaligus menjadi tempat bertukar pikiran. Selain itu, juga gemar bercanda dengan anak-anaknya. “Tapi di balik hal itu, beliau orang yang tegas. Apalagi kalau sudah menyangkut soal agama dan ibadah,” ungkap M Fathra Khalista, seraya berharap semoga sang ayah selalu diberikan kesehatan, mengingat kini amanah yang diberikan oleh negara menjadi bertambah.

Ya, H Ahmad Chairansyah, kini tak lagi menjabat sebagai wakil atau pelaksana tugas Bupati Kabupaten HST. Melainkan seorang Bupati definitif. Di tengah kisruh isu-isu pertambangan, yang kian menghantam dan menginginkan Kabupaten HST untuk ditambang, dia tetap dengan kukuh bahwa tak akan membiarkan Bumi Murakata dimasuki oleh aktivitas pertambangan.

“Saya hanya orang biasa yang sama seperti lainnya. Yang hanya ingin terus bisa menikmati hutan rimbun, pegunungan yang sejuk, dan air sungai yang jernih,” tuntasnya. (by/bin)

iklan usi



Back to top button