Lipsus

Tradisi Turun Temurun yang Masih Terjaga di Kepulauan Meranti

Terombang-ambing Melingkari Laut Topang dan Berselawat

Kegiatan berselawat keliling pulau salah satu tradisi turun–temurun yang masih terjaga di Desa Topang, Kepulauan Meranti. Helat yang memiliki nilai-nilai religius sebagai upaya menjaga kampung agar dijauhkan dari segala macam bahaya, ancaman, malapetaka, wabah serta musibah.

Laporan: WIRA SAPUTRA, Selatpanjang

SEJUMLAH kapal terombang-ambing dihantam ombak air laut, Ahad pagi (3/1). Saling tertaut berjalan lambat mengitari Pulau Topang, Kecamatan Rangsang, Kebupaten Kepulauan Meranti. Kapal-kapal itu berisi ratusan orang penumpang yang berasal dari daerah setempat. Rata-rata dari mereka berbusana muslim tampak mengacuhkan terik panas mata hari.

Sebelum masuk ke kapal-kapal tersebut, seluruh warga dihidangkan dengan lantunan hadrah yang saling bersahutan. Masuk ke kapal mereka wajib mengenakan masker dan mencuci tangan pada wadah yang telah disediakan.

Perjalanan dimulai pukul 8.00 hingga 11.00 waktu setempat. Sepanjang waktu itu, selawat nabi bergema di laut Desa Topang. Helat itu budaya turun temurun. Seolah-olah seperti menolak bala yang kerap disapa bele kampung tanpa sesajen.

Beberapa sesepuh atau pemuka warga yang dipercayakan jadi pemandu selawat Mbah Kholifah, Abdul Ghofar, Habib Yasin, KH. Hery Masykuri. Mereka saling bergantian dan mengikuti satu sama yang lain di armada yang berbeda namun saling terikat.

Kepada awak media, Kepala Desa Topang Syamsuharto mengatakan tradisi ini adalah budaya turun-temurun dari nenek moyang mereka. Dan tugasnya selaku kepala desa diakui wajib menjaga dan melestarikannya.

Dikatakannya, helat itu memiliki nilai-nilai religius sebagai upaya menjaga kampung agar dijauhkan dari segala macam bahaya, ancaman, malapetaka, wabah serta musibah. Terlebih corona atau Covid-19.

“Banyak tradisi warisan turun-temurun hampir terlupakan di antaranya; kegiatan mohon keselamatan yang terkenal dengan nama bele kampung. Budaya yang sama tidak hanya ada di Topang, bahkan desa-desa lain juga ada. Namun yang masih terjaga itu hanya di desa kami ini,” bebernya.

“Hendaknya dengan helat itu dapat mengedukasi generasi agar budaya turun-temurun ini tetap lestari dan terjaga hingga kapanpun,” ujarnya sembari membuka catatan kecil yang telah dipersiapkannya keluar dari saku kiri.

Ada enam harapan warga terhadap bele kampung saat itu. Harto membeberkan, kehendak warga yang dengan berselawat mengharap ridho Allah SWT. Dengan berselawat mengharap syafaat Rasulullah SAW. Dengan berselawat mengharap berkah wali-wali Allah dan orang-orang terdahulu. Dilanjutkannya, dengan berselawat semoga berkah rezki bertambah, dengan berselawat semoga rizki bermanfaat. Dan yang terakhir dengan berselawat semoga terhindar dari perbuatan maksiat.

“Terakhir kami berharap doa dari pada seluruh pihak agar kegiatan selawat ini mampu menjadikan benteng bagi Desa Topang terhindar dari segala bencana,” pungkasnya. Bambang Irawan salah satu tokoh muda Desa Topang berharap kegiatan bersalawat keliling pulau ini berlanjut di tahun mendatang. “Kami berharap ini berkelanjutan, tahun ini khusus untuk Warga Desa Topang, ke depan mungkin bisa menjadi wisata religius tahunan yang diikuti masyarakat secara umum,” harapnya. (***)