Lipsus

Seharian di Rumah Tengah Hutan Komika Dodit Mulyanto

Aku Pengin ke Minimarket Numpak Jaran

Ada dua alasan kenapa Dodit Mulyanto membangun rumah di tengah hutan: karena ingin bebas punya ”kebun binatang” dan ”balas dendam”. Dari lahan yang luas itu, kebutuhan dasar sang pemilik dan hewan piaraan sudah bisa terpenuhi.

FAHMI SAMASTUTI, Mojokerto

HANYA bunyi cenggeret dan riak kali kecil yang terdengar dari kejauhan saat kami mengelilingi ”kebun binatang kecil” itu. Ada dua kambing, dua kuda, dan tiga anjing penjaga.

Di sudut lain lagi, dekat toilet yang terpisah dari bangunan utama, masih ada empat ekor anjing kampung dan Beagle. ”Kalau di sini, ojo turu awan (jangan tidur siang),” kata Dodit Mulyanto, sang pemilik rumah, sembari terus berjalan pelan, memperhatikan semua piaraannya. ”Mending ngarit atau kerjo sampek kesel,” lanjutnya.

Selasa pagi sampai sore dua pekan lalu itu (9/4) kami berada di rumah tengah alas (hutan) komika sekaligus aktor tersebut. Rumah yang berada di lereng Gunung Pundak, Pacet, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur, itu dikepung pepohonan tinggi.

Bertetangga dengan ladang sayur milik penduduk setempat dan kandang sapi. Rumah tetangga? Yang terdekat sekitar 500 meter jaraknya!

Dari Surabaya, Pacet sebenarnya bisa dijangkau dalam satu setengah jam. Tapi, rumah Dodit tersembunyi jauh dari keramaian destinasi wisata andalan Mojokerto itu.



Pascasarjana

Unefa
1 2 3 4 5 6 7Laman berikutnya
Back to top button