Lipsus

Saut Bangkit Purba Dimata Ibunya, Lentarina Saragih: Nama Saut itu Berarti Jadi

Semua orangtua berharap yang terbaik untuk anak-anak. Sukses dalam pendidikan, ekonomi dan strata sosial. Kita hanya bisa berdoa, semoga cita-citanya menjadi Anggota DPRD Sumatera Utara, terwujud.

Catatan:  Edimancer Saragih, Raya Huluan

Rumah besar yang merupakan satu-satunya yang paling mencolok di Nagori Raya Huluan Kecamatan Dolok Masagal, di jalan menuju Nagori Dolog Huluan, terlihat sepi siang itu. Pintu gerbang terbuka, namun tidak ada terlihat satu pun di pekarangan depan rumah.

Saat kru METROSIANTAR memasuki gerbang rumah berlantai dua itu, tetap tidak ada yang menjawab sapaan. Pintu rumah juga terbuka, dan seorang wanita setengah baya bergegas menyapa dengan ramah. Ketika disampaikan maksud dan tujuan, wanita yang ternyata kakak Saut Bangkit Purba, mempersilakan masuk dan langsung mengajak ke bagian belakang rumah.

Ternyata ibunda Saut, Lentarina Saragih, berada di belakang rumah sedang membersihkan taman yang ada di rumah besar tersebut. Itulah kesibukan sehari-hari wanita kelahiran 14 April 1938 ini. Setelah pensiun dari jabatan Kepala SD Inpres Tambun Boras, sekitar dua puluh tahun lebih yang lalu, lulusan Sekolah Guru Bawah tahun 1958 di Panei Tongah ini praktis lebih banyak menghabiskan waktu di rumah. Kadang dia pergi ke ladang sekedar untuk menggerakkan badan, melihat ladang yang saat ini pengelolaannya sudah menjadi tanggungjawab anak-anaknya.

Lentarina bercerita. Saut Bangkit Purba, merupakan anak bungsu dari enam bersaudara. Tiga laki-laki dan tiga permpuan. Dua diantaranya mengikuti jejaknya dan bapaknya, menjadi guru.

“Saut merupakan bungsu dengan jarak sangat jauh dibanding umur kakaknya. Sudah tidak menyangka. Sehingga namanya dibuat Saut Bangkit, jadinya rupanya. Kira-kira seperti itulah makna namanya,” kata Lentarina.

Masa kecil Saut, boleh dikatakan termasuk dimanjakan karena statusnya sebagai anak bungsu, dimana abang dan kakaknya sudah jauh di atasnya. Namun untuk di sekolah, Saut termasuk anak pintar. Hingga suatu saat Saut muda, berontak dan sempat meminta berhenti sekolah karena sempat berpikir sekolah tinggi tidak berguna, jika tidak ada uang banyak untuk biaya mencari kerja.

“Anggo lang tammat SMA, naija pangiandoanmu lang husuhuni. Holi manosal lang tarullaki. Anggota domma tamat SMA, terserah mau horja atau kuliah. (Kalau tidak tamat SMA, saya tidak akan menuruti apa pun permintaannya. Nanti setelah dewasa menyesal, tidak bisa diulang. Jika sudah tamat SMA terserah mau kemana),” kata Lentarina kepada Saut remaja, saat itu.

Setelah mendapat pencerahan, Saut akhirnya setuju melanjutkan pendidikan ke salah satu SMA di Bengkulu. Dan kemudian melanjut ke Universitas Bengkulu, tepatnya Fakultas Ekonomi.

Hidup dalam masa-masa sulit saat Indonesia masih baru merdeka, Lentarina sangat ketat mengawasi anak-anaknya. Seluruh anak-anak sepulang dari sekolah, langsung dibawa ke ladang untuk membantunya. Maka seluruh anak-anaknya siap dan mampu menggunakan alat-alat pengolahan, terutama cangkul.

“Saya berprinsip, jika berada di dekatku, hati saya lebih tenang. Jadi kalau ada mendengar informasi tak enak, hati saya tenang karena anak-anak dekat saya,” katanya.

Menurut, ibunda Saut, dua tahun pertamanya mengajar di Sekolah Rakyat (SR) Dolok Huluan. Namun kemudian terjadi konflik bersenjata antara OPR tentara Tuan Rondahaim Saragih dengan PRRI di SR Dolog Huluan. Guru dan warga kemudian mengungsi ke Siantar.

Sempat diperbantukan di SD 1 Jalan Mangga. Namun karena pertimbangan orangtuanya hanya sendiri di kampung, maka Lentarina muda meminta kepada orangtuanya laki-laki untuk menguruskan pindah. Dan kemudian disetujui dan diperbantukanlah ke SD Raya Huluan.

Di SD Negeri Raya Huluan lah, Lentarina Saragih muda asal Tambun Marisi bertemu jodohnya Mardi Purba, putra Parjalangan. Mardi Purba kemudian menjadi kepala sekolah di SD Negeri Raya Huluan, sementara Lentarina di sisa masa kerja sebelum pensiun, selama 9 tahun menjadi kepala sekolah di SD Inpres Tambun Boras.

Lulus Sekolah Guru Bawah (SGB) di Panei Tongah tahun 1858. Begitu lulus, Lentarina langsung mendapat Surat Keputusan penempatan sebagai guru Sekolah Rakyat(SR). Di Simalungun sendiri saat itu, hanya ada tiga SGB yakni di Panei Tongah, Siantar dan Balata. (rel/esa)



Pascasarjana

Unefa
Back to top button