Lipsus

Penghormatan Terakhir Suwiro Widjojo, Bos Ardiles yang Murah Hati

Suwiro Widjojo, bos sepatu Ardiles, berpulang dalam usia 71 tahun. Pelayat berdatangan. Mereka mengenang Suwiro sebagai pengusaha yang ulet, sederhana, dan banyak berbagi ilmu. Agar tak memicu kerumunan, cara melayat pun dibikin drive-thru.

SHABRINA PARAMACITRA, Surabaya

Ku tak tahu hari esokku
Ku hanya tahu berlalu
Ku tak tahu esok terangkah
Ataukah jadi kelam

Lagu rohani berjudul Ku Tak Tahu Hari Esokku itu menjadi pesan terakhir antara Helen Wijaya dan sang kakak, Suwiro Widjojo. Lagu itu dikirimkannya ke nomor WhatsApp Suwiro pada 19 Juli lalu saat sang kakak masih dirawat di RS National Hospital Surabaya.

”Ko Akiong (sapaan Helen kepada Suwiro) balas, ’Amin’. Besoknya, dia langsung masuk ICU sampai meninggal,” kata Helen kemarin (5/8), sesaat sebelum penghormatan terakhir pada abu jenazah kakaknya yang meninggal pada 28 Juli lalu.

Lagu itu dikirimkan Nonik, sapaan akrab Suwiro kepada Helen, karena dirinya tahu Suwiro tidak pernah mencemaskan masa depan.

Meski telah menjadi komisaris PT SS Utama dan produsen sepatu Ardiles yang produknya sangat laris berpuluh-puluh tahun, Suwiro tidak pernah menampakkan ketakutan. Baik ketika menghadapi krisis, masalah kehidupan pribadi, maupun masalah lainnya.

Sejak Selasa (4/8) hingga kemarin petang, ada 1.000-an pelayat dan karyawan yang datang ke pabrik Ardiles di kawasan Jalan Tanjungsari, Surabaya. Mereka datang dengan menggunakan mobil, lantas turun sebentar di lokasi. Cukup 1?2 menit untuk menuliskan pesan terakhir kepada almarhum. Pesan-pesan itu lalu ditempelkan di papan-papan ucapan yang dipajang di sekitar abu jenazah.

Pelayat kemudian diberi konsumsi oleh panitia, kembali masuk ke mobil, lalu pergi meninggalkan pabrik. Konsep melayat dengan cara drive-thru itu dipilih karena banyak kerabat dan kolega Suwiro yang bersikeras melayat. Bagi mereka, tak cukup sekadar memberikan ucapan dukacita lewat karangan bunga atau pesan di media sosial.

Suwiro meninggalkan seorang istri dan empat anak. Dia juga meninggalkan empat saudara kandung. Nonik mengatakan, banyaknya pelayat dan karyawan yang datang mencerminkan sosok Suwiro yang mengesankan.

“Ia kakak yang sederhana,” tuturnya.

Pernah pada 2015, dia dan sang kakak berlibur ke Singapura dan berniat untuk makan malam di sebuah restoran mewah. Suwiro yang saat itu menggunakan sandal ditolak masuk oleh penjaga restoran. Nonik tersinggung gara-gara kejadian tersebut. Namun, Suwiro malah dengan santainya mengajak Nonik pergi makan di tempat lain. ”Saking sederhananya penampilan Ko Akiong, orang sampai tidak menyangka kalau dia pengusaha besar,” kenang Nonik.

Sebagai anak bungsu di antara enam bersaudara, Nonik melihat Suwiro sebagai orang yang paling rendah hati di antara saudara-saudaranya yang lain. Suwiro adalah putra ke-4. Hampir setiap hari Nonik selalu bertukar kabar dengan sang kakak yang sudah puluhan tahun membantu membesarkan bisnis industri alas kaki bersama keluarganya.

Sosok yang inspiratif itu juga akan selalu diingat oleh Robert Daud, marketing manager PT Ardiles Ciptawijaya. Dia bekerja di perusahaan yang memproduksi sepatu Ardiles itu sejak 1991. Di matanya, Suwiro adalah sosok yang mengayomi karyawan. ”Dia sangat berusaha agar PHK jangan sampai dilakukan. Sebab, bagi Pak Suwiro, perusahaan itu bertanggung jawab memberi makan tidak hanya pada karyawan saja, tapi juga keluarganya,” jelas Robert.

Meski sudah menjadi komisaris, Suwiro yang Robert kenal masih sering datang ke pabrik dan bertemu dengan para karyawan. Dia tak hanya mengajari karyawan untuk memproduksi sepatu, tetapi juga membekali karyawan dengan ilmu-limu lain. Mulai ilmu membangun kepercayaan pasar, mempertahankan hubungan dengan kolega, hingga membangun bisnis. Hal itu membuat para karyawan segan karena banyak ilmu yang diserap dari pimpinan mereka.

Sahabat Suwiro, Tanumihardja, mengamini hal itu. Sebagai sesama pengusaha alas kaki, dirinya dan Suwiro sering bercerita mengenai roda bisnis masing-masing. Mereka juga aktif di Gereja Elyon Pregolan Bunder, Surabaya. ”Suwiro itu donatur terbesar di gereja itu. Sangat dermawan,” ungkap pria yang akrab disapa Ming Hua itu.

Sudah 50 tahun mereka bersahabat. Ming Hua merasa kehilangan. Kehilangan kolega bisnis, teman beribadat, teman bermain tenis, teman makan, dan teman berbagi cerita.

Namun, Ming Hua mengaku ikhlas. Sekarang Yang Kuasa sudah memeluk Suwiro di alam yang lain. Dia berharap Suwiro beristirahat dengan tenang dan damai.

”Saya tidak akan melupakan contoh-contoh kebaikan yang dia tunjukkan kepada saya,” ungkap pria berusia 76 tahun itu. (jp)



Pascasarjana

Unefa
Back to top button