Lipsus

Mengikuti ‘Kelas Emoticon dan Kewer-Kewer’ ala GSM

DI kelas yang berbasis Gerakan Sekolah Menyenangkan, guru dibiasakan mengenali kondisi batin siswa sebelum mengajar. Tumbuhnya tanggung jawab dan empati di kalangan murid adalah sebagian hasil yang didapat Frida Tesalonik, guru SMPN 7 Tangerang Selatan yang menerapkannya sejak 2017.

M. HILMI SETIAWAN, Tangerang Selatan

Gambar sel terpampang jelas. Dari proyektor yang menampilkan slide ke tembok kelas.

“Ayo diamati apa yang ada di sel tumbuhan, tetapi tidak ada di sel hewan. Atau sebaliknya,” kata Frida Tesalonik kepada para muridnya.

Para siswa kelas VII-4 SMPN 7 Tangerang Selatan, Banten, itu berkonsentrasi penuh. Menatap gambar yang dimaksud sang guru. “Lima menit, ya,” tambah Frida seraya berkeliling kelas.

Pagi itu, Rabu pekan lalu (6/3), 38 pelajar tersebut belajar tentang perbedaan sel tumbuhan dan hewan. Mereka selonjoran di karpet atau duduk di kursi tanpa meja. Santai, tapi tetap serius.

Frida, guru ilmu pengetahuan alam (IPA), memang sejak November 2017 menerapkan pembelajaran ala Gerakan Sekolah Menyenangkan (GSM). Sebuah gerakan yang bermula di sejumlah kota di Jogjakarta dan Jawa Tengah pada 2016. Lantas mulai diperkenalkan di Kota Tangerang Selatan dan Kabupaten Tangerang pada September 2017.

Lima menit yang diberikan oleh Frida pun berlalu. “Ayo, ada yang tahu apa perbedaan dua sel itu?” tanya ibu tiga anak dan nenek dua cucu itu kepada para murid.

Novi Tri Juliani, murid yang duduk di kursi, mengangkat tangan tinggi-tinggi. “Yang tidak ada di sel tumbuhan itu sentriol,” tutur dia. “Yang tidak ada pada sel hewan adalah vakuola dan plasmodesmata.”

Frida pun mengacungkan jempol ke Novi. Pertanda siswa 13 tahun itu menjawab dengan benar.

Seluruh siswa lain kompak ikut njempol ke arah Novi. Sambil bersama-sama mengucapkan, “Wow, kamu pintar sekali.”

Itulah “cara mainnya”. Setiap kali ada siswa yang bisa menjawab pertanyaan guru dengan benar, seluruh siswa lain harus turut mengapresiasi. Bukan hanya ungkapan “wow, kamu pintar sekali”. Tapi juga “wow, kamu keren banget”.

Ilmu Frida tentang GSM diperoleh lewat pelatihan yang berlangsung seminggu dua tahun lalu. Pelatihan yang langsung menjungkirbalikkan semua yang dia tahu tentang proses mengajar.

“Saya ini dulu dikenal sebagai guru killer,” tutur perempuan yang sempat tiga kali ikut seleksi polwan itu kepada Jawa Pos seusai kelas.

Pelatihan GSM membuka matanya, yang dia lakukan selama ini kepada murid-muridnya itu salah. Siswa harus dibawa dalam suasana yang menyenangkan selama berada di kelas atau sekolah. Mereka tidak boleh merasa stres. Dengan begitu, mereka betah dan nyaman saat belajar.

Namun, langkah awalnya untuk menerapkan apa yang dia dapat dari pelatihan itu juga tak mudah. Rekan-rekannya sesama guru justru merespons negatif. Sebab, yang dia lakukan mirip dengan pembelajaran di taman kanak-kanak (TK). Antara lain, melukis di tembok kelas, membuat kerajinan dengan kertas warna-warni, serta menyanyi dan berjoget di kelas. Namun, dia tak surut langkah.

Menurut Frida, titik berat pembelajaran berbasis GSM adalah mengubah karakter siswa. Misalnya soal kerja sama dan apresiasi kepada teman yang berprestasi.

Tiap kali mengawali kelas, setiap siswa bebas memilih emoticon sesuai dengan suasana hati masing-masing. Emoticon itu terbuat dari kertas yang ditempelkan pada kayu kecil.

Ada emoticon bahagia, murung, sedih, hingga menangis. Lewat cara itu, guru terbantu untuk mengetahui kondisi anak-anak. Dengan begitu, pembelajaran bisa disesuaikan dengan kondisi emosi mereka.

Jadi, tidak seperti pembelajaran pada umumnya yang “pukul rata”. Guru tidak pernah mengamati kondisi batin peserta didiknya. “Pokoknya mengajar,” kata Frida.

Itu pula yang Frida tunjukkan pagi itu. Untuk memompa semangat para murid, pemaparan tentang sel tumbuhan dan hewan dihentikan dulu. “Ayo kita (goyang, Red) Kewer-Kewer dulu,” kata guru kelahiran Tangerang, 29 April 1966, tersebut.

Kewer-Kewer dipopulerkan oleh Libertaria. Lagu itu kerap dibuat ice breaking pada kegiatan seperti Pramuka dan sejenisnya.

Juga, pagi itu, ice breaking tersebut berhasil. Jawa Pos yang hadir di kelas menyaksikan bagaimana para siswa langsung bergegas berdiri. Video diputar dan seketika mereka dengan penuh semangat menirukan joget Kewer-Kewer oleh sosok pria berbaju merah dengan wajah yang dilukis mirip tengkorak.

Bisu dan buta,
ayo kewer-kewer…
Miskin dan kaya,
ayo kewer-kewer…

Kelas seketika meriah. Para murid berjoget sambil tertawa riang. Sesekali Frida juga ikut bergoyang di pinggir meja guru.

“Suka sekali dengan kelas Bu Frida. Jadi tidak stres,” kata Samuel Paul Arthur K., murid lain.

Menurut penggagas GSM Muhammad Nur Rizal, saat ini sudah ada 80 sekolah di Kota Tengerang Selatan dan Kabupaten Tangerang yang gurunya pernah mengikuti pelatihan GSM. “Di lapangan, dari 80 sekolah itu tentu berimbas ke sekolah-sekolah lain,” katanya.

Sebab, di antara sekolah tersebut, banyak yang menjadi rujukan sekolah lain untuk percontohan. Kemudian, sekolah yang mencontoh tersebut menerapkan pembelajaran berbasis GSM di tempat masing-masing.

Di SMPN 7 Tangerang Selatan, Frida kini tak lagi sendiri menerapkan GSM. Ada dua guru lain yang baru mulai menjalankannya setelah mengikuti pelatihan.
“Dampak GSM yang paling saya rasakan ya perubahan pada karakter siswa,” papar Frida. Contohnya, urusan tanggung jawab menjaga ruang kelas tetap bersih dan nyaman untuk belajar. Tanpa disuruh, para murid sudah menjalankannya. (*/JPG)



Pascasarjana

Unefa
Back to top button