Lipsus

Menengok Revitalisasi Langgar Gipo untuk Penunjang Wisata Kota Tua

Langgar Gipo diakui sebagai bangunan bersejarah di Kota Surabaya yang memiliki nilai seni tinggi. Rumah ibadah peninggalan keluarga Abdul Latif Tsaqifuddin (Sagipoddin) itu direvitalisasi secara bertahap. Selain diperkuat, bangunan akan dipasangi banyak ornamen untuk mendorong pariwisata.

EKO HENDRI SAIFUL, Surabaya

PULUHAN balok kayu memenuhi kanan-kiri Jalan Kalimas Udik, Pabean Cantian. Besar dan panjangnya bermacam-macam. Ada yang utuh. Ada pula yang mulai keropos.

Dilihat dari dekat, balok kayu tersebut tampak lawas. Itu terlihat dari warnanya yang sudah usang. Bahkan, ada yang diserang jamur dan kehitam-hitaman. ’’Sudah tak layak dipakai. Makanya akan diganti,” ungkap Trisno, koordinator pekerja proyek revitalisasi Langgar Gipo, saat ditemui kemarin (26/1).

Pria berusia 50 tahun itu menjelaskan bahwa kayu-kayu kuno tersebut diambil dari langgar. Ada yang dari lantai 1. Ada juga yang berada di lantai 2. Kayu kuno menjadi ciri khas Langgar Gipo. Hampir 70 persen banguan tua itu berkonstruksi kayu. Dindingnya juga terbuat dari papan.

Yang menarik lagi, sebagian kayu kuno tidak sekadar dimodel kotak-kotak. Ada pula yang diukir. Papan kayu yang ada ukirannya dipakai untuk jendela dan pintu. ’’Masih ada banyak kayu yang bisa dimanfaatkan. Tetap dipakai ke depannya,” ungkap Trisno.

Dia menjelaskan, proses perbaikan dilakukan secara hati-hati. Pekerja tetap mempertimbangkan bangunan yang statusnya cagar budaya itu. Karena bangunan bersejarah, kata Trisno, proses revitalisasi tidak ngawur.

Perbaikan tidak sekadar mempertimbangkan kekuatan, tetapi juga desain lawas langgar tersebut. ’’Kebetulan ada foto lawas dari ahli waris. Itu acuan kami,” tambah Trisno.

Menurut dia, renovasi langgar dilakukan sejak pertengahan 2020. Sebelum proyek dimulai, ada pemantauan bersama. Trisno menjelaskan, revitalisasi dilakukan untuk mengembalikan fungsi Langgar Gipo. Harapannya, bangunan tersebut juga bisa menjadi tujuan wisata. Karena itu, seluruh bangunan harus kuat dan tak mudah ambruk.

Menurut Trisno, pengerjaan revitalisasi diawali dari survei. Ada pencarian bagian mana saja yang perlu diganti. Bebeberapa kayu keropos langsung ditandai.

Tahap awal, perbaikan difokuskan untuk memperkuat lantai 2. Trisno menjelaskan bahwa keramik kuno di Langgar Gipo dilepas terlebih dahulu secara hati-hati untuk revitalisasi. Keramik itu lantas dipasang kembali setelah lantai dilapisi semen.

’’Jenis keramiknya jarang ada. Jadi, kami tak berani mengganti,” jelas Trisno. Menurut dia, perbaikan saat ini berfokus pada lantai 2. Selanjutnya, ada kemungkinan pekerja membongkar atap langgar. ’’Genting lawasnya tetap akan dipasang. Penopang atapnya yang diperkuat,” tambah Trisno.

Keturunan ketujuh keluarga Sagipoddin, M Yunus, menjelaskan bahwa Langgar Gipo menyimpan arsitektur cukup tinggi. Itu bisa dilihat dari bentuk jendela dan pintu. Yunus mengungkapkan, sebagian kayu-kayu di langgar tersebut sudah diteliti.

Di beberapa kayu ada tulisannya. Dari informasi tersebut, Langgar Gipo tercatat dibangun pada 1830. Ada pula catatan di kayu lainnya yang memuat angka 1629. Jika merujuk angka terakhir, berarti usianya lebih dari 300 tahun.

’’Langgar sebenarnya tidak saja bangunan bersejarah untuk Surabaya. Namun, juga Nahdlatul Ulama (NU),” kata Yunus. Menurut dia, dulu langgar tidak hanya jadi tempat ibadah. Namun, juga tempat diskusi para ulama.
Konon, mengacu literatur, langgar itu awalnya musala keluarga. Namun seiring berjalannya waktu, tempat ibadah tersebut pernah dipakai untuk sentra pergerakan kebangsaan. Salah satunya menjadi basis Laskar Hizbullah.

Sejarah NU di langgar itu berkaitan dengan jejak KH Hasan Gipo. Ulama tersebut merupakan ketua Tanfidziyah Nahdlatul Ulama. Dari tempat itu pula muncul nama besar lainnya seperti KH Mas Mansyur.

Ada berbagai pertimbangan mengapa Langgar Gipo direvitalisasi. Bukan saja nilai sejarah bangunan yang cukup tinggi. Penggiat sejarah dan pemerintah juga melihat posisi langgar sebagai penunjang wisata di Surabaya.

Kabid Bangunan dan Gedung Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman Cipta Karya dan Tata Ruang Iman Krestian menjelaskan bahwa restorasi Langgar Gipo sudah dirapatkan bersama. Semua instansi sepakat untuk menghidupkannya lagi. ’’Perbaikan bagian rusak dilakukan bertahap. Kami memperkuat lantai 2,” kata Iman.

Dia menambahkan, perbaikan juga akan menyentuh bagian lainnya. Misalnya, kayu-kayu penopang atap yang sebagian sudah keropos. Pemkot mempertimbangkan keamanan bangunan.

Iman memastikan bahwa revitalisasi langgar dilakukan secara maksimal. Pemerintah sudah mendata pernak-pernik yang akan dipasang. Selain lampu, ada papan informasi. ’’Seluruh ornamennya menyesuaikan bangunan. Termasuk bentuk lampunya,” kata Iman.

Langgar Gipo memiliki banyak keunikan yang layak diekspos. Selain bentuk bangunannya yang nyeni, ada bungker di dekat tempat wudu. Sejumlah sejarawan telah menelitinya. Konon, ada terowongan besar di dalam bungker yang terhubung sampai Kalimas.

Keunikan lainnya juga terdapat pada tangga-tangga bangunan. Kondisi tangga kayu masih utuh. Bahkan, tak ada sedikit pun yang keropos. Tangga-tangga itu dirancang rapi dan artistik.

Iman menjelaskan, upaya restorasi memang tidak mudah. Diperlukan kajian secara mendalam. Terutama penyesuaian pernak-pernik yang akan yang dipasang. Pemasangan lampu dan hiasan menyesuaikan tema bangunan.

Di Jalan Kalimas Udik, Langgar Gipo bukan satu-satunya bangunan lawas. Ada beberapa bangunan lain yang usianya sudah tua. Sebagian besar sudah tak terpakai.

Menurut Iman, revitalisasi dilakukan secara bertahap. Ke depan seluruhnya dibersihkan dan diperbaiki. ’’Upaya renovasi dilakukan bertahap. Namun, secara perencanaan juga matang,” jelas Iman. (jp/fabe)

USI