Lipsus

Lawatan Sejarah Daerah 2019, Romantika di Jantung Sumatera (1)

Pematangsiantar Tuan Rumah, Kampanyekan Becak BSA

Kota Pematangsiantar patut berbangga. Betapa tidak, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Jenderal Kebudayaan Balai Pelestarian Nilai Budaya Aceh Wilayah Kerja Provinsi Aceh dan Sumatera Utara (Sumut), memilih Pematangsiantar menjadi tuan rumah Lawatan Sejarah Daerah Tahun 2019.

NURJANAH, Pematangsiantar

Lawatan sejarah daerah atau biasa disingkat dengan Laserda ini diikuti sebanyak 60 peserta. Mereka, para peserta itu, sebagian besar merupakan para pelajar SMA dari sejumlah daerah di Provinsi Nangroe Aceh Darussalam, seperti Sabang, Banda Aceh, dan Takengon. Juga beberapa daerah di Sumatera Utara. Mulai dari Pematangsiantar, Simalungun, Toba Samosir, Karo, Dairi, Serdang Bedagai hingga Tebing Tinggi.

Keseluruhan peserta Laserda yang masing-masing duduk di kelas satu SMA itu, diajak menikmati sejarah dengan cara yang fun. Dan, terjun langsung ke lokasi sejarah. Pada hari pertama atau pembukaan Laserda dilaksanakan di Siantar Hotel, pada Selasa (18/6/2019).

Acara tersebut dibuka oleh Walikota Pematangsiantar Hefriansyah diwakili Wakil Walikota Togar Sitorus. Selain siswa-siswi SMA/sederajat, Laserda juga diikuti guru bidang studi sejarah tingkat SMA/sederajat dari Provinsi Aceh dan Sumut, Balai Pelestarian Cagar Budaya Aceh, Balai Arkeologi Medan, dan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Sumut.

Hefriansyah dalam sambutannya yang dibacakan Togar Sitorus menerangkan, Kota Pematangsiantar dalam lintas sejarahnya memiliki nilai penting, terutama selama perang kemerdekaan dan juga dalam mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia.

Pada masa itu, lanjutnya, Kota Pematangsiantar yang berhawa sejuk ini sempat disebut sebagai “Kota Revolusioner”. Sebab, pejabat pemerintah, pegawai, politisi, tentara, laskar, dan pengungsi semua berkumpul di Pematangsiantar.

“Ada sebuah plakat yang terbuat dari pualam yang disematkan di Pintu Utama Balaikota Pematangsiantar, yang menjadi bukti bahwa kota ini, dahulu pernah menjadi sebagai jantung Sumatera,” terangnya.

Pemilihan Kota Pematangsiantar sebagai tempat pelaksanaan kegiatan Lawatan Sejarah Daerah 2019, katanya lagi, adalah suatu kehormatan dan penghargaan kepada Pemerintah Kota Pematangsiantar.

“Untuk itu, kami sangat mengapresiasi dan mendukung sepenuhnya pelaksanaan kegiatan ini. Karena melalui kegiatan seperti ini dapat memperkenalkan pada peserta tentang sejarah lokal. Sehingga nantinya sangat relevan untuk mencintai sejarah lokal di kampungnya, di kecamatannya, ataupun di kotanya sendiri. Dengan mencintai lingkungan sejarahnya, mereka akan lebih mencintai daerahnya, sehingga kemudian mereka juga dapat berkontribusi dan berkarya untuk kemajuan daerahnya,” bebernya.

Sementara itu Direktur Sejarah Ditjenbud Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Triana Wulandari MSi mengatakan, Lawatan Sejarah Daerah ini diperuntukkan bagi para siswa/-siswi agar dapat memperluas pemahaman tentang sejarah bangsa.

Lebih khusus, sejarah dan warisan budaya di daerah. Tujuannya, agar tidak mudah tenggelam di tengah perkembangan zaman, tetap utuh, dihormati, dan dikenal secara beregenerasi. “Mulai dari kita saat ini sampai anak cucu kita ke depan untuk melestarikan, melindungi, dan terus memelihara peninggalan bersejarah dan tradisi bangsa,” tukasnya.

Selesai pembukaan, acara dilanjutkan dengan pemaparan tentang sejarah oleh sejumlah narasumber. Di antaranya, Prof Dr Ibnu Hajar Damanik Guru Besar Universitas Negeri Medan, Dr Hisarma Saragih MSi Dosen Prodi Pendidikan Sejarah FKIP Universitas Simalungun, Kusuma Erizal Ginting Presiden BOMS dan Dra Sri Hartini Kepala Museum Perkebunan Indonesia.

Dalam pemaparannya, Ibnu Hajar Damanik mengajak para peserta Laserda untuk belajar sejarah. Sebab, sejarah itu bukan kuno. Sejarah itu bicara data dan fakta. “Belajar sejarah bukan hal membosankan. Ayo berpikir lokal, bergerak internasional,” ajak Ibnu.

Sedangkan Erizal Ginting dalam pemaparannya mengaku bangga atas terpilihnya Kota Pematangsiantar sebagai tuan rumah Laserda. Selain becak BSA, Kota Pematangsiantar juga memiliki banyak situs sejarah bahkan pernah jadi ibukota Sumatera.

“Pematangsiantar juga memiliki ikon kota yang unik melegenda sebagai bahan pembanding bagi dua Provinsi Aceh dan Sumatera Utara, yaitu Becak BSA,” sebut Erizal Ginting sambil menjelaskan secara singkat tentang Sejarah Kota Pematangsiantar.

Selain sejarah Kota Pematangsiantar, Erizal Ginting juga memaparkan sejarah becak BSA. Juga sejarah suku-suku yang berdomisili di Pematangsiantar.

“Dan, becak BSA itu mewakili semua unsur suku di Pematangsiantar. Becak BSA juga saksi bisu lima zaman. Untuk itu, becak BSA sudah memenuhi unsur untuk menjadi benda cagar budaya. Usianya sudah lebih 50 tahun,” sebut Erizal.

Erizal menambahkan, becak BSA sebagai ikon itu tidak butuh legal standing, cukup diminati. Yang butuh sertifikat itu, adalah benda cagar budaya. Dan, sampai saat ini kita masih sedang memperjuangkan becak BSA menjadi benda cagar budaya.

“Saya ucapkan terima kasih kepada seluruh peserta dan panitia yang sudah melihat sekaligus mengampanyekan Becak BSA sebagai ciri khas Kota Pematangsiantar. Semoga kita semua sepakat agar kota yang tengah bertransformasi dari transit menjadi Kota Destinasi ini dapat terwujud,” pungkasnya.

Kegiatan Laserda ini, tidak hanya mendengarkan pemaparan dari para narasumber yang diundang. Para peserta juga diajak membuat karya tulis dari hasil pemaparan narasumber dan diskusi yang mereka ikuti selama acara berlangsung.

Nah, kalau pada Selasa (18/6/2019) itu, para peserta seharian ikut kegiatan bedah ilmiah tentang sejarah. Keesokan harinya, Rabu (19/6/2019), para peserta akan diajak menelusuri jejak-jejak sejarah di Kota Pematangsiantar. Bagaimana keseruannya? Tunggu catatan edisi besok. (*)



Pascasarjana

Unefa
Back to top button