Lipsus

Kontribusi Kreatif Orang-Orang Muda untuk Pemilu Adil dan Damai (2)

Isi dialog, diksi, dan humor di video yang diinisiatori Iqbal disesuaikan dengan target yang disasar: pemilih pemula. Tri yang menjadi pemeran tunggal harus memainkan delapan karakter, mulai petugas TPS sampai bayi yang masih ngedot.

UMAR WIRAHADI, Gresik

BAPAK itu tengah bersantai di kursi teras rumah. Mengenakan kaus oblong dan peci hitam, kedua tangannya tampak memegang koran.

“Nanti 17 April jangan lupa nyoblos (disensor) ya,” katanya kepada sang anak yang berada di samping, tapi tidak terlihat di kamera. “Agar ayah bisa ngopi gratis,” lanjut si bapak.

Yang terdengar kemudian justru suara tangis. Dot di mulutnya jatuh. Ternyata, yang diajak bicara si bapak masih bayi. Yang tentu saja tidak punya hak pilih pada hari pencoblosan 17 April nanti.

Itulah cara Tri Wiguna Natawireja, si pemeran bapak dan anak dalam penggalan video di atas, bersama dua rekannya, M. Iqbal Rizqi Sya’ban dan Abdullah Sholahuddin Al Ayyubi, mengajak siapa saja untuk ke bilik suara. Sebab, “syarat” untuk jadi golongan putih (golput) itu baru “sah” kalau seseorang memang belum memenuhi batas umur minimal.

“Seperti si bayi itu,” kata Tri.

Video bertajuk Elu Boleh Golput, Asal… tersebut pada 25 Maret lalu diumumkan sebagai pemenang lomba video pendek yang diadakan Perkumpulan untuk Pemilu dan Demokrasi (Perludem). Tema lombanya “Alasan Saya Tidak Golput di 2019”.



Pascasarjana

Unefa
1 2 3 4Laman berikutnya
Back to top button