Lipsus

Kontribusi Kreatif Orang-Orang Muda untuk Pemilu Adil dan Damai (1)

Ainun Najib tergerak melanjutkan Kawal Pemilu setelah diyakinkan dua mantan komisioner KPU. Dulu dia berniat mondok, tapi sang ayah yang juga pemimpin ponpes malah memintanya melanjutkan ke sekolah umum.

BAYU PUTRA, Jakarta

DARI Singapura, tempatnya tinggal dan bekerja, kehebohan dari tanah air itu dengan cepat didengar Ainun Najib. Berdasar hitung cepat, beberapa jam setelah pencoblosan selesai, kedua pasangan calon presiden dan wakil presiden sama-sama mengklaim sebagai pemenang Pemilu 2014.

“Saya prihatin sekali. Kok bisa sampai seperti itu,” tutur pria 35 tahun tersebut mengenang kejadian lima tahun silam itu.

Namun, Ainun tak hanya berhenti pada keprihatinan. Pria yang sekarang menjabat head of business data platform Grab tersebut segera bergerak cepat untuk turut memberikan solusi.

Pria asal Balongpanggang, Gresik, Jawa Timur, itu langsung menghubungi sejumlah anak muda Indonesia lain yang ada di sejumlah negara. Ide pokok yang dia sampaikan: bagaimana caranya memublikasikan hasil pemungutan suara di seluruh TPS (tempat pemungutan suara) dalam waktu singkat? Dari sanalah lahir Kawal Pemilu yang dia inisiasi.

Ainun dkk mendapat informasi bahwa KPU (Komisi Pemilihan Umum) memublikasikan hasil scan formulir C1 dari setiap TPS. Formulir C1 adalah dokumen pencatatan hasil pemungutan suara di TPS. Dokumen itu menyalin hasil penghitungan suara di formulir C1 plano yang ditempel di dinding.

Kala itu KPU hanya memublikasikan formulirnya. Tidak sampai merekapitulasi. Muncullah ide merekapitulasi suara yang sumbernya dari unggahan scan C1.

“Kami ambil (download, Red). Alhamdulillah 478 ribu TPS lengkap,” terangnya, Sabtu lalu (6/4).



Pascasarjana

Unefa
1 2 3 4Laman berikutnya
Back to top button