Lipsus

Ketika Cinta KPK Terhadap Koruptor Bertepuk Sebelah Tangan

HIDUP tanpa cinta memang akan terasa hampa. Seolah dunia begitu sempit dan menyiksa. Namun, jika kehidupan ini terisi dengan cinta, maka seolah-olah dunia indah bagai di surga. Hubungan cinta antara dua insan memang akan terasa indah jika keduanya saling berbalas mencinta. Namun, jika cinta itu tak terbalas, maka insan itu akan begitu tersiksa.

KUSWANDI, Jakarta

Dinginnya hembusan angin pada Jumat (12/4) malam itu menusuk tulang sumsum ribuan Jamaah Maiyah ‘Kenduri Cinta’. Namun mereka tak begitu menghiraukannya. Semakin malam, jamaah hajatan yang digelar saban bulan di pekan kedua ini justru semakin tumpah ruah.

Mereka berduyun-duyun datang dari berbagai penjuru kota Jakarta dan sekitarnya, memadati area halaman depan pusat kesenian yang terletak di bilangan Jakarta Pusat. Tua, muda, laki-laki dan perempuan berkumpul menjadi satu.

Ada yang duduk di atas tikar, terpal ataupun beralaskan koran bekas di depan tenda. Adapula yang berdiri di samping, belakang, hingga ke beberapa tempat di sekitar kompleks kesenian seluas 9 hektare tersebut.

Mereka tampak takzim mendengarkan berbagai ceramah agama atau orasi kebudayaan dari berbagai narasumber yang didatangkan panitia acara. Terlebih pada saat sang empunya hajat budayawan Emha Ainun Najib (Cak Nun), memperkenalkan penyidik senior KPK Novel Baswedan dan beberapa koleganya dari KPK menjadi tamu istimewa yang hadir pada malam itu.

Usai memperkenalkan Novel di hadapan jamaah, ayah dari Sabrang Mowo Damar Panuluh (Noe Letto) ini pun mempersilahkan pria yang duduk lesehan di sampingnya tersebut memberikan sepatah kata kepada ribuan jamaahnya.

“Kalau di KPK kan kerjanya berantas korupsi dan yang dikejar koruptor. Tadi kalau saya dengarkan ceramah-ceramah yang disampaikan, kita di sini sedang berbicara tentang ‘Kenduri Cinta’. Masya Allah, ini hebat sekali,” ucap Novel di depan ribuan jamaah yang memadati halaman Taman Ismail Marzuki, Jumat (12/4) malam.

Novel pun kemudian menganalogikan rasa cinta lembaganya terhadap para pelaku korupsi yang terjerat di lembah kenistaaan.

“Sebenarnya orang-orang di KPK yang memberantas koruptor itu karena cinta dengan koruptor. Orang berbuat korupsi atau berbuat jahat, awalnya dia berbuat, lam-lama di kejebak nggak bisa keluar. Dia berbuat terus karena apa?, orang korupsi satu kali dia akan berbuat, yang kedua dan kemudian dia tidak bisa keluar,” kata suami Rina Emilda tersebut.

Karena tak bisa keluar dari zona kejahatan, maka kata Novel, KPK datang untuk menolong oknum koruptor tersebut agar hidupnya terselamatkan.

“Ketika orang sudah berbuat korupsi satu kali berbuat satu kali dua kali mungkin Allah akan masih biarkan. Masih ditutup aibnya. Sudah kesekian kali, maka ketahuan Allah buka aibnya. Begitu ketangkap, pada dasarnya orang-orang kami di KPK itu sedang menolong dia,” jelas mantan Kasatreskrim Polresta Bengkulu tersebut.

Caranya kata Novel, yakni ditangkap kemudian dipenjara agar orang tersebut tidak melakukan korupsi lagi. “Berarti cinta nggak sama orangnya? Cinta kan ya. Jadi seperti itu gambarannya,” ungkap mantan Kasatgas kasus korupsi pengadaan e-KTP tersebut.

Novel menjelaskan, orang yang melakukan korupsi kemudian menumpuk hartanya, secara logika seharusnya hidupnya senang. Namun, yang terjadi hidupnya malah menjadi beban, karena harta bendanya digunakan untuk maksiat.

“Hidupnya berantakan, keluarga berantakan semuanya. Ini pengalaman sekian lama saya jadi penyidik tindak pidana korupsi. Saya lihat itu yang terjadi. Tidak pernah ada koruptor yang keluarganya rukun. Keluarganya bahagia itu nggak ada,” kata Novel.

1 2 3Laman berikutnya
USI