Lipsus

Ketatnya Saling Kejar Angka Pemilihan Gubernur Kalsel: Klaim Menang dan Serahkan ke KPU

Petahana Sahbirin Noor dan sang penantang, Denny Indrayana, saling menyalip di sirekap KPU. Mesin politik tidak maksimal dan angka partisipasi rendah menjadi faktor penting di balik ketatnya pertarungan di pemilihan gubernur Kalimantan Selatan tersebut.

M OSCAR FRABY, Banjarmasin, Jawa Pos

IBARAT sepak bola, duel Sahbirin Noor-Muhidin dengan Denny Indrayana-Difriadi Darjat hampir pasti akan berlanjut sampai injury time.

Bahkan mungkin sampai perpanjangan waktu dan tak menutup kemungkinan adu penalti.

Betapa tidak, hingga kemarin (10/12) selisih kedua pasangan calon (paslon) pemilihan gubernur Kalimantan Selatan (Kalsel) itu tipis sekali. Real count aplikasi sirekap KPU RI pun dinamis, saling susul.

Sahbirin-Muhidin sempat unggul tipis 50,8 persen jika dibandingkan dengan Denny-Difriadi yang memperoleh suara 49,2 persen. Tak sampai 1 persen. Tapi, saat Radar Banjarmasin mengecek lagi pada pukul 20.46, gantian Denny-Difriadi yang unggul dengan 51,6 persen.

Tipisnya selisih kedua calon itu, jika bertahan sampai semua suara masuk, otomatis bakal berefek panjang. Syarat formil untuk gugatan MK adalah selisih tak sampai 2 persen. Karena itu, bisa jadi kedua pihak bakal ’’adu penalti” di sana.

’’Kami siap. Tim hukum kami akan menyiapkan pembelaan dan argumentasi hukum,” kata Rifqinizami Karsayudha, ketua tim pemenangan Sahbirin-Muhidin, kepada Radar Banjarmasin.

Kubu Sahbirin-Muhidin yang merupakan paslon petahana itu juga menyatakan sudah menyelesaikan penghitungan internal. Hasilnya, mereka mengklaim unggul dengan selisih 2,9 persen. Sahbirin-Muhidin yang merupakan paslon nomor urut 1 meraup 51,48 persen, sedangkan Denny-Difriadi, paslon nomor urut 2, mengantongi 48,52 persen. ’’Kendati tak sesuai ekspektasi, alhamdulillah kami unggul setelah dilakukan quick count dari saksi kami,” ujarnya dalam jumpa pers di Banjarmasin kemarin.

Kubu Denny tentu saja mementahkan klaim kemenangan tersebut. Denny menyampaikan bahwa mereka tidak ingin berpolitik tanpa etika yang semata-mata hanya memikirkan kekuasaan.

’’Karena itu, kami menolak melakukan politik klaim menang-menangan,’’ ucapnya.

Dia menambahkan, mengklaim menang sebenarnya bisa saja dirinya lakukan. Itu berdasar data penghitungan suara yang dilakukan tim mereka dan lembaga survei.

’’Tapi, kami tidak ingin mengklaim. Sebab, kami mengedepankan etika dalam berpolitik,’’ tambah wakil menteri hukum dan HAM di era kepemimpinan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono tersebut.

Meski mengaku punya dasar untuk juga mengklaim kemenangan, menurut Denny, saat ini semua mata sedang tertuju pada profesionalitas dan integritas KPU Kalsel. ’’Jadi, berbagai langkah kami lakukan untuk membantu teman-teman di KPU Kalsel. Menghitung secara akurat, tepat, cepat, profesional, berintegritas, dan tanpa kecurangan,’’ ujar Denny.

Dalam pemungutan suara Rabu lalu, Sahbirin mencoblos di TPS 10 Kelurahan Antasan Besar, Kota Banjar. Di TPS tersebut, dia berhasil unggul dengan perolehan 76 suara sah. Rivalnya hanya mendapat 62 suara.

Sahbirin juga unggul telak di TPS 01 Sungai Jingah. TPS itu adalah ’’kandang” petahana yang menjadi tempatnya menggunakan hak suara lima tahun silam. Di sana perolehan suara sah dia mencapai 213. Denny-Difri hanya mendapat 28 suara sah.

Sementara itu, Denny Indrayana mencoblos di TPS 007, Kelurahan Komet, Banjarbaru Utara. Sebelum ke TPS, pendiri Pusat Kajian Antikorupsi Universitas Gadjah Mada itu memilih untuk membuat video ucapan Hari Antikorupsi Sedunia. Dia mengungkapkan, video tersebut dibuat untuk disebar ke grup WhatsApp-nya. ’’Karena media sosial kami sebagai calon masih dikunci sejak masa tenang pilkada,’’ ungkapnya.

Seusai membuat video, Denny bersama keluarganya kompak berjalan kaki ke TPS dari kediaman ibunya yang berjarak sekitar 50 meter. ’’Meskipun suasana relatif sepi, mudah-mudahan tingkat kehadiran tidak turun jauh,’’ ucapnya.

Ketua KPU Kalsel Sarmuji menegaskan, hasil hitung cepat lembaga survei bukan menjadi acuan siapa yang menang maupun kalah di pilgub.

’’Masyarakat bersabar saja. Tunggu hasil resmi dari kami (KPU),” pesan Sarmuji.

Dia meminta masyarakat bisa memantau langsung hasil pemungutan suara di aplikasi sirekap melalui website resmi KPU. KPU Kalsel mulai hari ini akan menghitung suara di tingkat kecamatan sampai 13 Desember.

Setelah itu, pada 13 sampai 17 Desember, dilakukan rekapitulasi di tingkat kabupaten dan kota. ’’Paling lambat 20 Desember dilakukan rekapitulasi di tingkat provinsi. Saat itu akan diumumkan secara resmi,” ujar Sarmuji.

Di sisi lain, pengamat politik UIN Antasari Banjarmasin Ani Cahyadi mengatakan, ketatnya hasil perolehan sementara pilgub Kalsel disebabkan angka partisipasi pemilih di bawah 65 persen.

Minimnya politik uang membuat masyarakat tidak mendapatkan motivasi untuk datang mencoblos.

’’Pilgub kali ini banyak tak terduga, selain karena faktor pandemi, kondisi psikologis pemilih, dan cuaca di Kalsel yang sempat hujan, faktor lain adalah minimnya politik uang. Swing voter cenderung tak hadir ke TPS,” sebutnya.

Ani juga menggarisbawahi, persentase perolehan ketat kali ini terjadi karena mesin politik partai tidak berjalan maksimal. ’’Memang dalam kasus Kalsel selalu tidak berkelindan antara dukungan parpol dan dukungan calon,” ujarnya. (jp)

USI