Lipsus

Kakek Enur Berangkat Mengemis Diantar Sopir Pribadi

Herman atau yang biasa dipanggil Kakek Enur merupakan pengemis kaya yang terjaring Satpol PP Kota Bogor saat mengemis di simpang Lotte Mart Yasmin sekitar pukul 09.00 WIB, Rabu (20/3) lalu. Kakek Enur mampu meraup Rp150 ribu- Rp250 ribu dalam sehari dari profesi “menengadahkan tangan” itu. Jika lagi ramai-ramainya dia bahkan bisa mendapatkan Rp400 ribu per hari.

Laporan : Andika Galuh Satria

“Pak jangan dulu mengemis. Bapak sudah viral di media sosial,” itulah pesan anak Kakek Enur ketika dia hendak berangkat “kerja”, Rabu pagi (20/3). Tapi ucapan sang anak tak digubris.

Pria 87 tahun itu tetap keluar rumah. Menumpangi mobil Xenia hijau dia berangkat ke kota dari rumahnya yang berlokasi di Kampung Cisauk RT05/01 Desa Cemplang, Kecamatan Cibungbulang, Kabupaten Bogor.

Dia tiba di simpang Yasmin, Jalan KH Abdullah Bin Nuh, Kota Bogor sekitar pukul 06.00. Seperti biasa Kakek Enur langsung mengemis. Ketika lampu lalu lintas berwarna merah dia mulai berjalan dari satu mobil ke mobil yang lain.

Terlihat beberapa pengemudi yang menurunkan jendela mobilnya dan menyerahkan sejumlah uang. Kakek Enur menerimanya sambil membaca doa. Begitu terus dilakukannya ketika ada pengendara yang memberikan uang. Kondisi wajahnya yang berlubang membuat banyak orang iba.

Namun baru ‘beberapa jam ‘bekerja”, aktivitas Enur terpaksa terhenti. Sekitar pukul 09.00, petugas Satpol PP Kota Bogor datang dan membawanya ke Kantor Satpol PP untuk diperiksa.

Begitu juga dengan mobil Xenia yang kerap mengantar-nya. Setelah dinterogasi petugas, Herman atau Kakek Enur diserahkan kepada Dinas Sosial (Dinsos) Kota Bogor untuk pendataan.

Kepada wartawan, dia mengaku sudah mengemis sejak tahun 1980-an. Tahun pastinya dia gak hafal. Yang diingat saat itu Presidennya masih Soeharto. Jembatan Merah merupakan lokasi pertama dia mengamen.

Setelah itu terus berpindah-pindah. Sebelum menekuni dunia pengemis, Enur hanyalah petani biasa. Dia bahkan sempat pergi ke tanah suci pada tahun 1974 bersama istrinya.

“Saya dapat warisan sawah sama rumah, tahun 74. Sawah kemudian saya jual saya pakai naik haji. Kalau ngemis saya mulai tahun 80an di Jembatan Merah,” ujar Enur.

Dari pekerjaannya mengemis, Enur dalam sehari mampu mendapat Rp150 ribu hingga Rp250 ribu. Atau Rp4,5 juta-Rp7,5 juta sebulan. Jumlah ini sama dengan dua kali upah minimum kota/kabupaten (UMK) Kota Bogor (Rp3,5 juta).

Namun nominal ini bisa lebih tinggi lagi. Sebab, saat diamankan oleh Satpol PP kemarin, Enur yang memulai mengemis sejak pukul 06.00 WIB hingga 08.00 WIB sudah mengantongi uang Rp130 ribu. “Kalau lagi ramai bisa Rp300 – Rp 400 ribu,” bebernya. Untuk memudahkan mobilitasnya, Enur mengaku menyewa satu unit mobil kepada tetangganya. Mobil inilah yang kemudian viral karena ketika dia hendak masuk mobil tanpa sengaja difoto oleh petugas Satpol PP.

“Mobil itu sewa, kalau enggak percaya bisa saya panggil yang punyanya, sewanya Rp80 ribu setengah hari hanya sampai pukul 12.00 WIB,” katanya.

Selain menyewa mobil rupanya Enur juga menyewa sopir untuk mengantar jemput dirinya menjalani aktivitasnya ke lokasi mengemis.

Itu Ia lakukan untuk memudahkannya berpindah lokasi dari satu tempat ke tempat yang lainnya. Karena dari pengakuan Enur, dirinya sudah tidak bisa berjalan kaki jauh.

Terkait istri tiga, Enur membenarkan perihal itu. Namun kondisinya adalah dia sudah bercerai sebanyak tiga kali. Kini ketiga istrinya telah meninggal.

“Yang benar itu saya kawin cerai, semuanya sudah meninggal sekarang, yang terakhir 10 tahun lalu, sekarang bapak sendirian,” ungkapnya.

Dia mengaku bahwa anak dan menantu mengetahui profesinya sebagai seorang pengemis. Namun tak bisa menolak. Sebab penghasilan putra dari istri pertamanya yang bekerja di Pamulang Parung sebagai petugas kebersihan hanya Rp800 ribu/bulan. Itu pun belum tentu menutupi kebutuhan selama sebulan. “Jadi hasil mengemis ini untuk membantu saja. Anak saya tahu saya mengemis. Tetapi mau bagaimana lagi karena memang kebutuhan untuk sehari-hari tidak terpenuhi,” bebernya.

Enur berharap, pemerintah dapat memperhatikan kehidupannya dengan bantuan apapun. Sebab dia juga tak ingin lagi kembali mengemis di jalan. Sebab selama ini Enur mengaku belum pernah mendapatkan bantuan baik dari pemerintah daerah maupun desa.

“Saya juga tidak tahu kenapa tidak mendapatkan bantuan. Mungkin karena saya orang tidak punya jadi disisihkan saja. Hanya sembako dapat sebulan sekali, nebus Rp10 ribu ke RW,” ungkapnya.

Sementara itu, Kepala Dinsos Kota Bogor Azrin Syamsudin mengaku tak bisa langsung mempercayai keterangan yang disampaikan Enur. Perlu dilakukan pengecekan langsung. Karena ada yang janggal. Misalnya biaya sewa mobil dan sopir yang hanya Rp80 ribu.

“Setelah identifikasi ini kami akan lakukan home visit, betul tidak dia warga Kabupaten Bogor,” ucapnya.

Selain itu, pihaknya juga akan berkoordinasi dengan Dinsos Kabupaten Bogor dan kepala desa sesuai domisili yang bersangkutan. Jika benar keterangan yang diberikan maka akan dibuat berita acara perjanjian agar kakek dua cucu itu tidak lagi melakukan aktivitasnya, baik di Kota Bogor atau di lokasi manapun.

Jika tidak mematuhinya maka saat terjaring kembali yang bersangkutan akan dibawa ke balai rehabilitasi untuk dilakukan pembinaan.

“Jangan lagi melakukan kegiatan di kota. Kalau tertangkap sekali lagi maka akan kami masukan ke balai rehabilitasi untuk dilakukan pembinaan atau akan dikenakan perda,” tegasnya.

Karena itu, apakah kakek Enur akan dipulangkan kerumahnya atau dibawa ke balai rehabilitasi akan diketahui setelah melakukan pengecekan langsung.

“Setelah identifikasi ini kami melakukan dua koordinasi, dengan Dinsos Kabupaten Bogor dan balai rehabilitasi sosial, apakah orang ini langsung kami bawa ke balai rehabilitasi atau kami antarkan ke rumahnya,” pungkasnya. (gal/d)



Pascasarjana

Unefa
Back to top button