Lipsus

Kadishub dan Kasat Lantas Siantar Harus Tegas Soal Izin dan Uji Kelaikan Odong-odong

Kehadiran belasan kendaraan jenis odong-odong yang sudah dimodifikasi untuk mengangkut orang, menjadi perhatian tokoh masyarakat. Bahkan, odong-odong dinilai bisa berbahaya bagi penumpangnya.

LEO PURBA, Siantar

Salahsatu Tokoh Masyarakat Siantar, Armaya Siregar juga angkat bicara perihal kehadiran odong-odong di kota ini.

Armaya mengatakan, undang-undang mengamanahkan penyelenggaraan angkutan umum harus benar-benar bisa memberikan rasa aman, nyaman dan menjaga keselamatan penumpang.

“Odong-odong yang saya lihat di Siantar pada umumnya menggunakan sepedamotor yang dimodifikasi sedemikian rupa. Kemudian ditempel dengan kereta tempelan, dioperasionalkan di jalan-jalan pemukiman, bahkan kadang-kadang ke jalan raya,” ujarnya.

Modifikasi yang dilakukan odong-odong, katanya, tidak memenuhi standar persyaratan teknis dan kelaikan kendaraan melalui uji tipe serta ujian berkala.

“Uji tipe dan uji berkala merupakan persyaratan mutlak untuk mengetahui sejauhmana tentang persyaratan teknis dan layak kendaraan untuk menjaga aspek keselamatan dan keamanan. Maka, faktor kelaikan kendaraan sangat dibutuhkan karena akan berkorelasi dengan keselamatan di jalan, dan untuk menghindari masalah-masalah yang tidak kita inginkan misalnya, kecelakaan lalu lintas,” ungkapnya.

Dari persyaratan teknis layak kendaraan dan persyaratan sebagai moda transportasi umum, sambungnya, odong-odong tidak layak untuk mengangkut orang, jika tidak dilakukan uji kelayakan terlebih dahulu.

“Tidak layak untuk mengangkut orang, tidak memenuhi standar minimal pelayanan angkutan umum karena melanggar peraturan perundang-undangan yang berlaku, baik itu Undang-undang Nomor 22 tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan dan Peraturan Pemerintah Nomor 55 Tahun 2012 tentang Kendaraan,” terangnya.

Menurutnya, standar pelayanan minimal angkutan umum meliputi keamanan, keselamatan, kenyamanan, keterjangkauan, kesetaraan, dan keteraturan. Sementara prinsip dasar angkutan umum pertama kendaraan. Moda transportasi angkutan umum harus menggunakan kendaraan angkutan umum.

“Apakah odong-odong sebagai angkutan umum, Jawabannya pasti bukan. Karena dari aspek persyaratan tehnis dan laik jalan, jauh dari aspek keamanan dan keselamatan. Begitupun modifikasi asal-asalan, tidak melalui uji tipe dan uji berkala, dan tidak memenuhi persyaratan lainya sebagai kendaraan angkutan umum,” jelasnya.

Ditanya, apabila terjadi kecelakaan lalu lintas. Apakah ada intansi atau lembaga yang back up asuransinya.

“Nah, itu dia yang juga kita pertanyakan. Makannya kita minta Dishub dan Polres Siantar agar memberikan ketegasan. Supaya pengusaha odong-odong itu bisa urus izinnya, sekaligus urus uji kelaiakan odong-odong itu,” harapnya.

Terpisah, Boru Purba, salahseorang yang memakai jasa odong-odong mengaku tidak mempermasalahkan kehadiran kendaraan itu di Pematangsiantar. Namun, pihak pengelola harus ebnar-benar memperhatikan keselamatan penumpang.

“Anak-anak kan butuh hiburan juga. Jadi kehadiran odong-odong di Siantar kurasa sangat membantu anak-anak biar tidak jenuh. Hanya saja, pengelola odong-odong harus taatlah sama aturan. Biar masyarakat juga merasa nyaman saat memakai jasa mereka. Paling tidak, harus bisa menjamin keselamatan penumpang,” ujarnya singkat. (*)

Unefa

Pascasarjana

Tags

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker
Close