Lipsus

I Made Warta Cerita Khasiat Daun Urat Merah

BERAGAM obat – obatan tradisional bisa dengan mudah ditemui di Bali, salah satunya daun urat merah. Yang diklaim bisa menyembuhkan beragam jenis penyakit.

PUTU AGUS ADEGRANTIKA, Gianyar

Adalah I Made Warta, pria asli Banjar Ked, Desa Taro, Kecamatan Tegallalang, Gianyar yang berupaya mengenalkan daun urat merah sebagai obat berkhasiat.

Awalnya, seperti dikisahkan Warta, urat merah ia dapatkan dari salah satu rekan di tempatnya kerja dulu di Ubud. Tanaman itu oleh-oleh dari Jepang. Berawal dari dari satu batang, tanaman itu rupanya tumbuh subur.

“Sekitar enam tahun lalu saya dikasih tanaman urat merah itu oleh bos saya di tempat kerja di Ubud yang dibawanya dari Jepang, dibilang hanya tanaman obat. Karena di Ubud waktu itu daunnya hampir habis, makanya saya disuruh menanam di rumah. Hanya saya tanam sembarangan begitu saja, yang penting hidup dulu waktu itu tanpa menanyakan khasiatnya,” jelasnya kepada Bali Express (Jawa Pos Group), Kamis (13/6).

Warta pun mengaku, tanaman urat merah tumbuh subur di halaman belakang rumahnya. Bahkan menjalar melebar dari pekarangannya tersebut. Kemudian sempat pula ia babat beberapa agar tidak melebar ke pekarangan tetangganya.

Belakangan ini, ia dihubungi kembali oleh bosnya tersebut. Apakah tanaman urat merahnya masih hidup atau tidak? Ia pun menyebut tanaman itu tumbuh subur di halaman belakang rumahnya.

“Saat itu juga saya dikasih tahu jangan dibabat habis karena itu obat yang bisa menyembuhkan berbagai macam penyakit. Karena dibilang begitu maka istri saya mencobanya,” papar dia.

Urat merah itu lantas dikonsumsi oleh istrinya yang mengalami sakit asam urat. Daunnya dipetik, dibersihkan dicuci dengan air, kemudian direbus menggunakan air hangat selanjutnya diminum secara rutin selama dua minggu.

Hasilnya ajaib. Ia pun sempat tidak percaya sendiri tangan istrinya yang sempat tidak bisa digerakkan karena asam urat sampai sekarang sudah biasa digunakan mengangkat barang.

Ayah yang memiliki tiga orang anak itu menjelaskan penyakit yang bisa disembuhkan dengan mengkonsumsi rebusan daun tersebut sangat banyak. Mulai asam urat, kencing batu, kencing manis, tensi tinggi, dan untuk menyehatkan tubuh.

“Yang sembuh sudah banyak dari meminum rebusan air ini, rata-rata mereka merasakan setelah seminggu sampai dua minggu dari mengkonsumsinya. Itupun harus rutin,” ungkapnya.

Dalam kesempatan tersebut, ia menerangkan untuk lima lembar daun urat merah harus dijadikan dalam satu buah gelas. Itu dikonsumsi yang warnanya seperti teh saat masih hangat-hangat kuku.

Sempat salah satu warga di banjarnya tidak bisa jalan kaki karena asam urat, saat ini bisa jalan. Begitu juga dengan salah satu pembeli daunnya dari Denpasar sakit kencing batu, batunya bisa keluar tanpa dioperasi.

“Saya bilang apa adanya, tidak mengada-ngada. Biasanya kalau satu lembar daun saya jual seharga Rp1.000, sedangkan tanamannya memang tidak saya jual. Sempat ada yang minta seberapun harganya, saya tidak kasih, kalau minta daunnya saya berikan. Sebanyak-banyaknya pun saya kasih, asalkan itu untuk menolong sesama,” jelasnya.

“Memang ada beberapa saya beri kepada pembeli daunnya, karena saya lihat sakitnya parah dan saya kasihan. Meskipun untuk kebutuhan sehari-hari saja saya juga masih berpikir, makanya saya tidak jual tanamannya dan saya jual daunnya saja,” tukas Warta.

Disinggung pembeli yang sempat datang ke rumahnya, dia mengaku sudah ada beberapa orang yang berasal dari berbagai kabupaten di Bali. Mereka mengetahui khasiat daun tanaman itu dari akun Facebook milik Warta sendiri.
Lokasi rumahnya pun tidak sulit dicari. Dari jalan utama Desa Taro, Tegallalang, masuk ke jalan Banjar Ked, Desa Taro sekitar 1 kilometer.

Tepat pada rumah nomor empat yang di depannya ada warung, itulah rumah Warta. Sedangkan tanaman langka yang menyembuhkan berbagai macam penyakit itu ditanamnya di halaman belakang rumahnya sendiri dan berdekatan dengan jurang. (*/aim)