Lipsus

Handrianus Yovin Karwayu Promosikan Flores Lewat Kopi

BUKAN sekadar brand coffee shop. Namun, bagi Handrianus Yovin Karwayu, Banggain Flores (Bangflo) merupakan jati dirinya. Melalui kopi, dia ingin membuktikan bahwa tanah kelahirannya memiliki sumber daya alam serta SDM yang berkualitas dan dapat membanggakan Indonesia.

SEPTIAN NUR HADI

Sesuai dengan nama brand-nya Bangflo, Banggain Flores. Bisnis tersebut dirintis sejak 2015. Pria asal Flores tersebut merasa tanah kelahirannya mempunyai sumber daya alam yang melimpah yang tidak dimiliki daerah lain.

Ditambah lagi beragamnya seni budaya lokal di Nusa Tenggara Timur (NTT). Misalnya, kain lurik dan alat musik sasando. Kedua elemen harus dilestarikan dan dikembangkan. ’’Hal itulah yang mendorong saya untuk berwirausaha,’’ kata pria yang akrab disapa Yovin tersebut.

Menurut dia, mengolaborasikan antara kopi dan handicraft akan memberikan keunikan tersendiri. Dengan perpaduan itu, setiap biji kopi yang dijual bukan hanya untuk keperluan bisnis, melainkan juga pelestarian seni budaya lokal. Bahkan, menceritakan kehidupan penduduk Nusa Tenggara Timur.

Kebudayaan serta kehidupan penduduk diungkapkan melalui gambar yang terdapat pada kemasan kopinya. Setiap kemasan Bangflo memberikan arti tersendiri di dalamnya.

Jadi, yang disajikan bukan hanya kemasan kosong. Tak hanya bertulisan brand kopi, tetapi juga menggambarkan kesenian dan budaya. Jadi, dengan melihat gambar yang terdapat di kemasan, para konsumen mengetahui kesenian, kebudayaan, dan kehidupan penduduk NTT.

’’Melalui gambar tersebut, secara sendirinya, mereka akan membayangkan kehidupan di sana. Misalnya, oh, ternyata musik sasando berasal dari NTT, ya. Tanpa mereka harus datang langsung ke lokasi,’’ ujarnya.

Baca: Petani Kopi Sipirok Siap Adopsi Pola Kopi Gayo

Kemudian seluruh pegawai yang bekerja di coffee shop tersebut berasal dari Flores. Mulai barista hingga waiter. Kebanyakan pegawai yang direkrut bukan berlatar belakang kuliner dan tidak mempunyai basic meracik kopi. Jadi, mau tidak mau, Yovin harus bekerja lebih ekstra memberikan pelatihan kepada pegawai.

Hal tersebut bukan masalah besar baginya. Sebab, memilih penduduk Flores untuk bekerja di bisnisnya bukan tanpa alasan. Dia ingin membuktikan bahwa penduduk NTT bisa berkreativitas, tidak hanya melakukan pekerjaan kasar. Yakni, pekerjaan yang lebih menggunakan otot.

’’Sesuai namanya, Banggain Flores. Saya ingin membuktikan bahwa penduduk NTT bisa berkreativitas. Bekerja menggunakan otak dan skill yang luar biasa sehingga penduduk NTT tidak lagi dipandang sebelah mata. Sesuai dengan visi-misi Bangflo,’’ ucap pria kelahiran Flores, 27 Maret 1984, itu.

Kerja kerasnya menuai hasil. Dalam beberapa tahun terakhir, Bangflo terus melebarkan sayap. Kedai kopi tersebut tidak hanya terdapat di Universitas Atmajaya, tetapi juga di Living Word Mall, Tangerang, tepatnya di pendapa lantai 2. Puluhan juta rupiah dikantongi dari usahanya, yakni sekitar Rp 30 juta. Kemudian, produknya tidak hanya didistribusikan di Indonesia, tetapi juga negara lain.

’’Tahun ini, lagi fokus untuk menjual kopi ini ke Korea. Targetnya 1–2 ton biji kopi didistribusikan ke negara tersebut. Untuk pendistribusian di domestik, jumlahnya mencapai 10 ton kopi,’’ tambahnya.

Selain Korea, Bangflo masuk Uzbekistan. Itu berawal dari undangan dari Kedutaan Besar Republik Indonesia kepadanya. Ketika itu, ada acara resepsi kenegaraan. Dia diberi kesempatan untuk menyajikan kopi-kopi Indonesia. Yaitu, kopi khas Kupang dengan kombinasi susu dan gula aren. Hasilnya luar biasa. Kopinya diserbu hingga ludes.

Yovin menjelaskan, saat ini, pelaku-pelaku start-up di Indonesia menjamur. Mereka bergerak di semua lini sektor. Kedai kopi merupakan salah satu usaha yang paling diminati para pelaku start-up. Banyaknya penikmat merupakan salah satu alasan mereka untuk terjun ke bisnis tersebut.

Untuk dapat untuk bertahan, lanjut Yovin, inovasi terus diciptakan. Yang terbaru di Bangflo adalah kopi celup. Rumput laut digunakan sebagai kemasan kertas kopi celup. Kemasan rumput laut itu dapat larut ke permukaan air. Jadi, secara langsung, produknya dapat menghemat sampah plastik. Dia mengklaim, kopi celup buatannya merupakan kali pertama di Indonesia. Belum ada di kedai-kedai kopi lainnya.

’’Cara menyeduhnya seperti teh. Taruh kopi di dalam gelas, lalu diseduh dengan air panas. Ketika di aduk, teh celup akan larut dengan sendirinya. Tidak menimbulkan ampas kertas dari kemasannya,’’ terangnya.

Saat ini, pendistribusian kopi celup hanya di sekitar lingkungan kampus Atmajaya. Penambahan produk pun kerap dilakukan. Dengan begitu, pendistribusian kopi celup bisa tersebar di wilayah lainnya dan merata di seluruh Indonesia, bahkan mancanegara.

Pameran serta pergelaran musik tradisional pun rutin diikuti. Kopi Bangflo disajikan di tengah-tengah pertunjukan atau pameran. Strategi promosi tersebut dinilai cukup ampuh untuk menarik para konsumen menikmati kopi buatannya.

Meskipun belum maksimal, yang dilakukan telah membuatnya bangga. Terutama bisa membanggakan tanah kelahirannya, yakni Flores. (jpg)



Pascasarjana

Unefa
Back to top button