Lipsus

Gentle Birth, Ajak Para Ibu Tepis Persepsi Traumatis Tentang Persalinan

Teredukasi, Tak Akan Mudah Ditakut-takuti

Beryoga saat usia kehamilan di atas 20 minggu, relaksasi lewat hypnobirthing, dan menulis dengan tangan birth plan adalah bagian dari proses gentle birth. Suami harus aktif terlibat dan bakal diajari pijat untuk bantu proses persalinan.

SEKARING RATRI, Depok, AGAS PUTRA H., Jakarta

PARKIR sulit. Jalan di depan tempat praktik hanya cukup untuk satu mobil. Antrean pasiennya? Mengular-ular-ular (saking panjangnya). Apalagi di akhir pekan.

“Makanya, kalau ke sini, saya lebih suka pakai taksi online,” ujar Aditya, salah seorang calon ayah yang saat itu sedang menemani istrinya periksa.

Dengan segala perjuangan tersebut, orang toh tetap berbondong-bondong ke rumah satu lantai di kawasan Citayam, pinggiran Depok, Jawa Barat, itu. Tempat praktik bidan Erie Tiawaningrum.

Bidan Erie dikenal sebagai salah seorang provider gentle birth ternama di tanah air. Sebagian besar kliennya berasal dari kalangan menengah atas. Mulai anak-anak para pengusaha tenar hingga selebriti.

Dari kalangan terakhir itu, ada, antara lain, penyanyi Andien, pesinetron Sharena Delon, penyanyi Lea Simanjuntak, dan model Dominique Diyose. Mereka memercayakan proses persalinannya kepada Erie.

“Awareness terkait gentle birth ini memang lebih banyak tersebar di kalangan middle up ya, termasuk kalangan artis,” jelas Erie saat ditemui di Depok.

Menurut Erie, gentle birth adalah konsep persalinan alami yang ramah jiwa dan minim trauma. Konsep persalinan itu mengajak para ibu untuk mengenali fungsi tubuhnya sebagai perempuan yang telah dikaruniai kemampuan melahirkan bayi secara mudah, lancar, dan normal.

Untuk bisa menjalankannya, ada sejumlah tahapan yang secara umum harus dijalankan.

Mengutip www.bidankita.com, diperlukan niat dan komitmen yang kuat. Juga, kemauan menambah wawasan sebanyak-banyaknya dari berbagai sumber, terutama membaca.

Selain itu, harus siap latihan relaksasi hypnobirhting dan olahraga teratur. Misalnya, yoga dan tai chi. Plus tentu saja mencari provider yang bersedia memfasilitasi dan mengerti yang dimaui.

Yang terjadi saat ini, kata Erie, banyak ibu yang seolah lupa atau bahkan tidak tahu cara melahirkan secara normal. Itu tidak terlepas dari banyaknya persepsi negatif terkait proses persalinan yang sudah lama tertanam sejak si calon ibu masih kecil.

Proses persalinan selalu diibaratkan peristiwa medis yang menyakitkan dan bisa menimbulkan kematian. Jejak-jejak negatif tersebut tanpa sadar terbawa hingga dewasa.

“Padahal, jumlah ibu hamil yang memiliki komplikasi saat kehamilannya itu sangat sedikit, hanya 10 persen. Tapi, kenapa angka Caesar di kota-kota besar sangat tinggi?” lanjutnya.

Erie mencontohkan, banyak ibu yang berpostur tubuh kurus kerap divonis tidak bisa melahirkan normal. Sebab, panggulnya terlalu kecil sehingga bayinya tidak bisa masuk panggul.

“Padahal, salah satu cara untuk membuat melahirkan jadi gampang itu kan bagaimana membuat posisi kepala bayi bagus. Caranya bagaimana, ya olahraga.”

Karena itu, persiapan fisik dan mental dalam persalinan gentle birth sangat penting, bahkan harus dimulai sebelum kehamilan terjadi. Untuk fisik, tidak ada cara lain selain menerapkan pola hidup sehat.

Persiapan tersebut harus makin matang saat kehamilan terjadi. Yakni, mulai rutin berolahraga, khususnya prenatal yoga, untuk memaksimalkan posisi janin pada usia kehamilan di atas 20 minggu.

Dari sisi mental, sangat penting menghilangkan imprint negatif terkait persalinan, yakni melalui proses hypnobirthing. Mengutip situs alodokter, hypnobirthing adalah metode yang menggunakan self-hypnosis (hipnotis diri sendiri) dan teknik relaksasi untuk membantu calon ibu merasa siap serta mengurangi persepsi akan ketakutan, kecemasan atau tegang, dan rasa sakit saat melahirkan.

“Sesi hypnobirthing ini bisa dilakukan sekali atau beberapa kali,” kata bidan 38 tahun itu.

Tujuannya, memprogram ulang alam bawah sadar si ibu hamil. Dari situ dia juga mengafirmasi ingin persalinan yang seperti apa.

Selain itu, calon ibu harus menulis birth plan atau rencana persalinan dengan sangat detail. Proses tersebut sebaiknya ditulis dengan tangan sehingga lebih mudah tertanam dalam alam bawah sadar. Peran suami juga sangat krusial untuk proses persalinan.

Karena itu, sangat disarankan calon ayah mengikuti kelas yoga couple (berpasangan) sekaligus kelas persiapan persalinan. Dengan begitu, para calon ayah tersebut akan paham apa yang harus dilakukan ketika waktu persalinan tiba.

Mereka juga bisa membantu menenangkan bahkan menyemangati sang istri saat kontraksi terjadi. “Para suami ini juga kita ajarin pijat perineum yang tujuannya melenturkan otot vagina sehingga tidak mudah robek saat persalinan. Selain itu, bapak-bapak ini diajari pijat oksitosin untuk memperlancar proses persalinan,” jelasnya.

Erie menekankan, jika dipersiapkan dengan matang, baik fisik maupun mental, persalinan berpeluang bisa berjalan normal dan lancar serta minim rasa sakit. Semuanya bergantung dari upaya dan keyakinan sang ibu sendiri. “Saya banyak menangani kasus ibu hamil yang sudah divonis harus Caesar. Saat datang ke saya dan dia yakin bisa normal, ya bisa dan prosesnya lancar,” imbuhnya.

Di Klaten, Jawa Tengah, nama bidan Yesie Aprilia juga sangat dikenal di kalangan ibu hamil yang menginginkan proses gentle birth. Bahkan, Yesie adalah bidan pertama yang menggaungkan gentle birth di tanah air. “Sebelumnya kan ada Ibu Robin Lim di Bali dan saya memang belajar dari beliau,” jelas Yesie saat dihubungi via telepon Kamis lalu (2/5).

Bidan 39 tahun itu mengungkapkan, gentle birth muncul sebagai jawaban dari maraknya fenomena persalinan Caesar dibandingkan persalinan normal. Di sisi lain, kewenangan bidan pun makin dibatasi.

“Misalnya, dulu kalau ada ibu hamil yang sungsang, masih boleh di bidan, sekarang sudah nggak boleh. Kalau dulu induksi infuse boleh, sekarang nggak, lalu kalau ibu hamil sudah 40 minggu lebih dulu juga masih boleh di bidan, sekarang sudah tidak,” ujarnya.

Yesie menguraikan, pada 2010, jumlah kebutuhan tenaga bidan melonjak drastis. Dampaknya, industri berlomba-lomba membuka sekolah kebidanan. Persyaratan menjadi bidan yang dulu cukup ketat mulai melonggar.

“Jadi, kalau dulu bidan itu minimal tingginya 150 cm, sekarang kurang dari itu boleh. Intinya, kualifikasinya makin turun sehingga yang terjadi, banyak bidan yang siap latih, bukan siap kerja,” jelasnya.

Karena itu, ketika angka kematian ibu tidak turun, yang menjadi kambing hitam adalah kualitas bidan yang tidak bagus. Bahkan, kata Yesie, beberapa daerah di Jawa Tengah sudah mengeluarkan aturan yang melarang ibu hamil melahirkan dengan bidan. “Jadi, melahirkan harus di rumah sakit atau di klinik pratama,” kata Yesie.

Padahal, lanjut Yesie, proses persalinan adalah sesuatu yang tidak bakal terlupakan. Karena itu, jika proses persalinannya traumatis, yang terpengaruh bukan hanya sang ibu, melainkan juga bayi yang dilahirkan.

“Dampaknya bisa ke pola asuh. Ada ibu yang sangat benci sama salah satu anaknya gara-gara dia dilahirkan secara Caesar. Karena itu, proses ini memang akan memengaruhi kualitas kehidupan keluarga itu,” lanjutnya.

Karena itu, Yesie mengungkapkan bahwa gentle birth tersebut adalah rangkaian proses dari tahap sebelum hamil, hamil, kemudian melahirkan, menyusui sampai tahap pengasuhan. Namun, puncaknya adalah persalinan karena merupakan awal dari sebuah perjalanan.

Menurut Yesie, melahirkan di mana pun tidak menjadi soal asal si ibu hamil teredukasi dengan baik sehingga tidak mudah pasrah ketika ditakut-takuti provider. “Misalnya, ditakut-takuti berat badan bayinya rendah, jadi makan es krim, avokad, akhirnya bayinya kegendutan dan nggak masuk panggul,” imbuhnya. (jpc/int)

iklan usi